Lenterawayracana.id | GORONTALO – Di tengah dinamika perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi global, dan meningkatnya tantangan sektor pangan, petani dan nelayan kembali ditempatkan sebagai aktor utama dalam menjaga keberlanjutan bangsa. Momentum itu tergambar dalam pembukaan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 yang dibuka Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, di GOR David Tony, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (20/6).

Forum nasional yang berlangsung hingga 25 Juni mendatang tersebut bukan sekadar agenda seremonial tiga tahunan. PENAS hadir sebagai ruang dialektika pengetahuan, laboratorium sosial, sekaligus arena pertukaran gagasan bagi ribuan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia.

Di antara ribuan peserta tersebut, Kabupaten Pinrang turut mengambil bagian dengan mengirimkan 35 peserta Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) yang dipimpin Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pinrang, A. Sinapati Rudi.

Dalam sambutannya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menegaskan bahwa petani dan nelayan memegang posisi strategis dalam upaya mewujudkan swasembada pangan nasional. Ketahanan pangan, menurutnya, merupakan salah satu pilar utama yang menentukan stabilitas negara.

Pernyataan tersebut menjadi relevan di tengah meningkatnya tantangan global yang memengaruhi sektor pangan. Krisis iklim, perubahan pola musim, gangguan rantai pasok internasional, hingga dinamika geopolitik dunia telah menjadikan sektor pertanian dan perikanan sebagai isu strategis yang tidak lagi semata-mata dipandang sebagai aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari ketahanan nasional


Bagi Kabupaten Pinrang yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Sulawesi Selatan, keikutsertaan dalam PENAS memiliki makna yang lebih dalam. Bukan hanya menghadiri kegiatan nasional, tetapi menjadi investasi intelektual bagi para petani dan nelayan.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pinrang, A. Sinapati Rudi, menegaskan bahwa partisipasi daerahnya merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia sektor pertanian dan perikanan.
“Sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional, Kabupaten Pinrang harus terus meningkatkan kemampuan petani dan nelayan. PENAS menjadi kesempatan untuk belajar, bertukar pengalaman, dan melihat inovasi yang berhasil diterapkan di daerah lain,” ujarnya.
PENAS XVII menghadirkan berbagai agenda strategis, mulai dari temu usaha, pameran teknologi pertanian dan perikanan, pelatihan, diskusi, hingga pertukaran pengalaman antar daerah. Aktivitas tersebut menjadi ruang bertemunya pengalaman lokal dengan inovasi modern.
Di sinilah makna sesungguhnya sebuah pembangunan pertanian menemukan relevansinya. Sawah bukan hanya bentang lahan produksi, melainkan ruang peradaban. Laut bukan sekadar hamparan penangkapan ikan, tetapi sumber kehidupan yang memerlukan pengetahuan, teknologi, dan kebijakan yang berpihak.
Secara analitis, forum seperti PENAS memiliki peran penting dalam memperkuat kapasitas petani dan nelayan. Transfer teknologi, pertukaran praktik terbaik, dan perluasan jejaring usaha dapat meningkatkan efisiensi produksi serta daya saing sektor pangan daerah.
Di tengah ancaman perubahan iklim dan ketidakpastian pasar global, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Pertanian modern tidak lagi hanya mengandalkan pengalaman turun-temurun, tetapi juga membutuhkan literasi teknologi, manajemen usaha, hingga kemampuan adaptasi terhadap perubahan.
Para peserta asal Pinrang diharapkan mampu membawa pulang pengalaman baru yang dapat diterapkan di daerah masing-masing. Pengetahuan tentang teknologi budidaya, pengelolaan pascapanen, efisiensi usaha tani, hingga inovasi perikanan diyakini akan memberi dampak terhadap peningkatan produktivitas.
“Kita berharap manfaat kegiatan ini benar-benar dirasakan masyarakat. Ketika petani dan nelayan memiliki pengetahuan yang lebih baik, teknologi yang lebih maju, dan jaringan yang lebih luas, maka produktivitas dan kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat,” tutup Sinapati.
Pada akhirnya, PENAS XVII bukan sekadar pertemuan nasional petani dan nelayan. Ia adalah ruang pembelajaran kolektif yang mempertemukan harapan, pengalaman, dan inovasi. Dari Gorontalo, para petani dan nelayan membawa pulang lebih dari sekadar kenangan perjalanan. Mereka membawa gagasan, jejaring, dan optimisme baru.
Keikutsertaan Kabupaten Pinrang dalam PENAS XVII sekaligus menegaskan komitmen daerah dalam mendukung program swasembada pangan nasional. Sebab di tengah berbagai tantangan zaman, ketahanan pangan tetap berakar pada manusia-manusia yang setia mengolah tanah dan menjaga laut demi keberlangsungan kehidupan bangsa.
Sumber: Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pinrang,
( MAMAD )

