LenteraWayracana.id | TOLITOLI – Di tengah dinamika birokrasi yang kerap dipersepsikan sebatas ruang administrasi dan penegakan regulasi, Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Tolitoli menghadirkan paradigma baru pelayanan publik melalui program bertajuk “Dharma Bakti Praja Wibawa”. Program tersebut resmi dimulai pada Jumat, 26 Juni 2026, dengan sasaran perdana pembangunan Masjid Al Musafir As Saada yang berlokasi di Dusun I, Desa Dadakitan, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli.

Sejak pukul 07.30 WITA, sekitar 80 personel Satpol PP Kabupaten Tolitoli turun langsung ke lokasi untuk melaksanakan kerja bakti. Kegiatan dipimpin oleh Sekretaris Satpol PP Kabupaten Tolitoli, Budhi Darma, S.Sos., serta turut dihadiri Kepala Bidang Ketenteraman dan Ketertiban Umum (Trantibum), Hendra Yudistira.
Selain personel Satpol PP, kegiatan ini juga melibatkan anggota Bidang Pemadam Kebakaran (Damkar) yang merupakan salah satu bidang di bawah naungan Satpol PP Kabupaten Tolitoli. Kehadiran unsur Damkar menunjukkan sinergi internal yang kuat dalam mewujudkan pengabdian kepada masyarakat.
Di bawah langit pagi Desa Dadakitan, para aparat berseragam khaki tidak datang membawa pendekatan represif, melainkan menghadirkan semangat gotong royong. Cangkul, sekop, dan peralatan bangunan menjadi simbol hadirnya negara yang humanis, dekat dengan masyarakat, dan peduli terhadap pembangunan rumah ibadah.
Program Dharma Bakti Praja Wibawa menjadi penanda bahwa Satpol PP tidak semata menjalankan fungsi penegakan peraturan daerah, melainkan juga mengaktualisasikan nilai-nilai sosial, kemanusiaan, dan pengabdian. Dalam perspektif administrasi publik modern, pendekatan ini mencerminkan transformasi institusi dari paradigma koersif menuju paradigma partisipatif.

Sekretaris Satpol PP Kabupaten Tolitoli, Budhi Darma, S.Sos., mengatakan bahwa kegiatan tersebut akan dilaksanakan secara rutin setiap Jumat pagi.
“Melalui program Dharma Bakti Praja Wibawa, kami ingin menghadirkan Satpol PP yang lebih dekat dengan masyarakat. Kami berharap kehadiran personel dapat membantu pembangunan rumah ibadah dan memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, keterlibatan Kabid Trantibum Hendra Yudistira bersama personel Damkar dan anggota Satpol PP lainnya memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat merupakan tanggung jawab bersama seluruh unsur dalam organisasi.
Secara filosofis, istilah Dharma Bakti mengandung makna pengabdian yang tulus, sedangkan Praja Wibawa melambangkan kewibawaan aparatur dalam menjalankan tugas dan pelayanan. Kedua konsep tersebut berpadu menjadi sebuah gagasan bahwa kewibawaan institusi tidak hanya lahir dari kewenangan, melainkan juga dari keteladanan sosial.
Di lokasi pembangunan Masjid Al Musafir As Saada, personel Satpol PP, Damkar, dan masyarakat tampak bekerja bersama tanpa sekat. Mereka mengangkat material bangunan, membersihkan area masjid, dan membantu berbagai pekerjaan konstruksi yang masih berlangsung.
Dalam perspektif human interest, kegiatan ini menghadirkan pesan bahwa seragam negara tidak hanya identik dengan penegakan aturan, tetapi juga dapat menjadi simbol kepedulian dan solidaritas.
Dari sudut pandang ilmiah populer, kegiatan seperti ini memiliki dampak terhadap peningkatan kepercayaan publik atau public trust terhadap institusi pemerintah. Interaksi sosial yang langsung dan kolaboratif mampu memperkuat hubungan antara aparatur dan masyarakat serta membangun modal sosial yang berkelanjutan.
Program Dharma Bakti Praja Wibawa pada akhirnya bukan sekadar kegiatan kerja bakti. Ia merupakan narasi tentang hadirnya negara di tengah masyarakat, tentang aparatur yang memilih turun langsung ke lapangan, dan tentang semangat gotong royong yang tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Di antara suara cangkul, adukan semen, dan doa-doa yang dipanjatkan di Masjid Al Musafir As Saada, Satpol PP Kabupaten Tolitoli sedang menulis babak baru pengabdian: bahwa kewibawaan sejati lahir dari pelayanan, dan pengabdian adalah bahasa paling universal dalam membangun peradaban.
( LW.id )

