LenteraWayracana.id — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga oleh seberapa kuat masyarakat memahami cara mencegahnya. Atas dasar itu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) memperluas strategi penanggulangan Karhutla melalui pendekatan edukasi dengan mengerahkan 1.482 personel penyuluh ke sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan.

Hingga Senin, 31 Agustus 2026, ribuan personel tersebut dikerahkan untuk memperkuat upaya pencegahan sekaligus penanganan Karhutla di wilayah yang memiliki kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Informasi tersebut disampaikan Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI) melalui keterangan resminya yang diautentikasi Kabidpenum Puspen TNI, Kolonel Laut (P) Agung Saptoadi.

Mengubah Paradigma: Dari Memadamkan Api ke Mencegah Api
Kehadiran para penyuluh TNI di lapangan menunjukkan adanya penguatan strategi dalam menghadapi Karhutla. Jika operasi pemadaman berorientasi pada api yang sudah muncul, penyuluhan bergerak lebih jauh ke hulu: membangun kesadaran agar api tidak sampai tercipta.


Para personel ditugaskan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan dan penanganan Karhutla. Informasi disampaikan dengan pendekatan yang diharapkan mudah dipahami sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga bagian aktif dari sistem pencegahan.

Dalam perspektif penanggulangan bencana, pendekatan tersebut memiliki arti strategis. Pencegahan berbasis masyarakat dapat menjadi lapisan pertahanan awal sebelum kebakaran berkembang menjadi bencana ekologis yang lebih luas.

Api yang kecil dapat dipadamkan dengan cepat. Namun, ketika kebakaran menjalar di kawasan hutan, semak, atau lahan gambut, persoalannya berubah menjadi jauh lebih kompleks—menyangkut keselamatan manusia, kualitas udara, ekosistem, hingga aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Dari Halim Perdanakusuma Menuju Wilayah Rawan
Sebanyak 1.482 personel penyuluh tersebut diberangkatkan dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, menuju sejumlah wilayah sasaran, yakni Lampung, Palembang, Riau, Pontianak, dan Palangkaraya.

Pengerahan itu memperlihatkan bahwa penanganan Karhutla tidak ditempatkan sebagai persoalan sektoral semata. TNI mengombinasikan kekuatan operasional dengan pendekatan edukatif untuk memperkuat respons di tingkat masyarakat.
Di tengah ancaman Karhutla yang dapat bergerak cepat mengikuti kondisi cuaca, angin, dan karakteristik lahan, keberadaan personel di tengah masyarakat menjadi penting. Mereka tidak hanya hadir ketika keadaan telah memburuk, tetapi juga menjalankan fungsi komunikasi dan edukasi untuk membangun kewaspadaan sejak dini.
Masyarakat sebagai Garda Terdepan Pencegahan
Di balik statistik 1.482 personel, terdapat dimensi kemanusiaan yang tidak kalah penting. Karhutla bukan sekadar persoalan asap dan titik panas di peta pemantauan. Dampaknya dapat merembet ke kehidupan sehari-hari masyarakat—mengganggu kesehatan, aktivitas pendidikan, mobilitas, hingga mata pencaharian.
Karena itu, penyuluhan menjadi instrumen penting untuk membangun kesadaran kolektif. Masyarakat yang memahami risiko Karhutla memiliki peluang lebih besar untuk mengambil tindakan pencegahan dan melaporkan potensi kebakaran lebih awal.
Pendekatan ini sekaligus menempatkan masyarakat bukan sebagai objek penanganan, melainkan sebagai subjek utama pencegahan.
Secara analitis, strategi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan penanganan Karhutla tidak cukup diukur dari jumlah personel yang dikerahkan atau luas lahan yang berhasil dipadamkan. Indikator yang lebih fundamental adalah seberapa efektif kesadaran publik tumbuh dan seberapa kuat kolaborasi antara aparat, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mencegah kebakaran sejak sumbernya.
TNI Perkuat Penanganan Karhutla Secara Terpadu
Pengerahan 1.482 penyuluh menjadi bagian dari komitmen TNI untuk mendukung penanggulangan Karhutla secara menyeluruh. Kekuatan operasional tetap menjadi instrumen penting dalam menghadapi kebakaran, tetapi pendekatan edukasi memberikan dimensi pencegahan yang lebih berkelanjutan.
Dengan mengirimkan personel ke berbagai wilayah di Sumatera dan Kalimantan, TNI berupaya mendekatkan informasi dan edukasi langsung kepada masyarakat yang berada di wilayah rawan.
Pada akhirnya, perang melawan Karhutla bukan hanya tentang siapa yang paling cepat memadamkan api. Lebih jauh dari itu, ia merupakan perjuangan untuk memastikan agar api tidak pernah memperoleh kesempatan untuk tumbuh menjadi bencana.
Ketika pengetahuan bertemu kewaspadaan, dan kewaspadaan bertemu partisipasi masyarakat, maka pencegahan memiliki fondasi yang lebih kokoh. (LW.ID)

