JAKARTA, LenteraWayracana.id โ Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Mabes TNI tidak sekadar menjadi seremoni keagamaan. Di tengah tuntutan menjaga kedaulatan negara yang semakin kompleks, keteladanan Rasulullah SAW diterjemahkan sebagai nilai kepemimpinan, integritas, disiplin, kepedulian terhadap prajurit, serta semangat persatuan.

Pesan tersebut mengemuka dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M yang digelar di Masjid Panglima Soedirman, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (2/9/2026).

Inspektur Jenderal (Irjen) TNI Laksamana Madya TNI Hersan hadir mewakili Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto. Peringatan tersebut menghadirkan Dr. (H.C.) Adi Hidayat, Lc., M.A., Wakil Ketua I Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sebagai penceramah.

Kegiatan mengusung tema โMelalui Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M, Kita Mantapkan Tekad, Bersama Rakyat TNI Prima dan Kuat, Siap Mewujudkan Indonesia Maju dan Berdaulat.โ
Keteladanan Nabi sebagai Etika Kepemimpinan
Dalam perspektif kepemimpinan, keteladanan Rasulullah SAW tidak berhenti pada simbol kecintaan dan penghormatan. Nilai tersebut justru memperoleh maknanya ketika diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Adi Hidayat menekankan pentingnya pemimpin menghadirkan kasih sayang dan perhatian kepada bawahannya. Pada saat yang sama, prajurit dan aparatur sipil negara (ASN) dituntut menjaga ketegasan, integritas, serta disiplin dalam menjalankan amanah dan tugas negara.
Pesan tersebut memiliki relevansi kuat dalam organisasi militer. Ketegasan tanpa kepedulian berpotensi melahirkan jarak, sementara kepedulian tanpa disiplin dapat melemahkan efektivitas organisasi.
Karena itu, keseimbangan antara human leadership dan ketegasan institusional menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun organisasi pertahanan yang profesional.
Kesejahteraan Prajurit Tak Terpisahkan dari Kesiapan Tugas
Hal lain yang mendapat sorotan ialah kesejahteraan prajurit dan keluarganya.
Menurut Adi Hidayat, perhatian terhadap kondisi prajurit merupakan bagian penting dalam mendukung pelaksanaan tugas. Ia mengangkat keteladanan Rasulullah SAW yang memberikan perhatian terhadap keadaan para sahabat yang menjalankan tugas.
Dalam konteks TNI, kesejahteraan bukan semata persoalan administratif. Ia berkaitan langsung dengan kesiapan personel dalam menjalankan tugas pertahanan dan keamanan negara.
Prajurit yang memperoleh dukungan memadai bagi dirinya dan keluarganya akan memiliki ruang psikologis yang lebih baik untuk berkonsentrasi pada tugas. Dengan demikian, pembinaan sumber daya manusia pertahanan tidak dapat dilepaskan dari dimensi kemanusiaan.
Di titik inilah pesan Maulid menemukan relevansinya: kekuatan sebuah institusi tidak hanya dibangun melalui perangkat pertahanan, tetapi juga melalui kualitas manusia yang mengawakinya.
Merangkul, Bukan Memukul
Peringatan Maulid juga membawa pesan sosial yang lebih luas. Keluarga besar TNI diajak untuk mengedepankan persaudaraan dan persatuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Semangat tersebut dirangkum dalam ajakan untuk saling mengasihi, merangkul dan menyatukan, bukan mempertajam perbedaan.
Pesan ini menjadi penting di tengah kehidupan sosial yang semakin dinamis. Persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan, melainkan kemampuan mengelola perbedaan agar tidak berubah menjadi konflik yang merusak kohesi bangsa.
Dengan demikian, Maulid Nabi di lingkungan Mabes TNI menjadi momentum reflektif untuk mempertemukan nilai spiritual dengan profesionalisme pengabdian.
Karhutla Kalsel: Bara di Bawah Gambut, Ancaman yang Tak Terlihat Mata
Sementara itu, dari Kalimantan Selatan, persoalan Karhutla memperlihatkan tantangan berbeda. Api tidak selalu tampak sebagai kobaran besar. Pada lahan gambut, bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan sewaktu-waktu kembali muncul menjadi titik api.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Komandan Lanud Sjamsudin Noor, Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, M.M.S., bersama Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kalsel saat meninjau kawasan Guntung Damar, Banjarbaru, Senin (31/8/2026).
Kawasan tersebut memiliki posisi strategis karena berada di ring 1 Bandara Syamsudin Noor. Artinya, Karhutla di wilayah itu tidak hanya menjadi persoalan ekologis, tetapi juga memiliki dimensi keselamatan penerbangan.
Asap yang ditimbulkan kebakaran dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu kualitas udara di sekitar kawasan bandara. Karena itu, penanganan api harus dilakukan secara cepat, presisi, sekaligus tuntas.
Injeksi Air Menjangkau Bara di Bawah Permukaan
Salah satu metode yang diuji di lapangan adalah teknologi sederhana namun taktis berupa injeksi air ke lapisan bawah tanah gambut.
Petugas menggunakan pipa dengan panjang sekitar dua meter yang ditancapkan ke dalam tanah. Air kemudian dialirkan ke lapisan bawah untuk membantu mendinginkan bara yang tidak mudah dijangkau melalui pemadaman dari permukaan.
Secara ilmiah, karakteristik gambut yang kaya material organik membuat api dapat bertahan dan menjalar secara perlahan di bawah permukaan. Karena itu, pemadaman di permukaan belum tentu menghilangkan seluruh sumber panas.
Metode injeksi air diarahkan untuk menjawab persoalan tersebut: bukan hanya memadamkan apa yang terlihat, tetapi mendinginkan sumber panas yang tersembunyi.
Danlanud Sjamsudin Noor bahkan turut mencoba langsung metode tersebut di lokasi. Dengan didampingi personel, ia melakukan penyemprotan air melalui pipa yang telah ditancapkan ke lapisan gambut.
Ketika Api Tak Terlihat Justru Menjadi Ancaman
Peristiwa di Guntung Damar memberi gambaran bahwa penanganan Karhutla membutuhkan pendekatan yang lebih presisi.
Api yang terlihat merupakan bagian dari persoalan. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan tidak ada bara yang tertinggal di bawah permukaan dan kemudian kembali menjadi sumber kebakaran.
Karena itu, respons terhadap Karhutla tidak cukup mengandalkan kecepatan pemadaman. Dibutuhkan pula deteksi, pendinginan, pemantauan dan evaluasi berkelanjutan.
Sinergi TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD dan unsur terkait menjadi instrumen penting dalam menghadapi karakter kebakaran lahan yang kompleks tersebut.
Dua Peristiwa, Satu Pesan tentang Pengabdian
Dua peristiwa ini berlangsung dalam ruang dan konteks yang berbeda. Di Mabes TNI, nilai keteladanan Rasulullah SAW ditekankan sebagai fondasi moral kepemimpinan dan pengabdian.
Di Kalimantan Selatan, nilai pengabdian itu diterjemahkan dalam kerja lapangan menghadapi ancaman Karhutla yang berdampak terhadap lingkungan dan keselamatan penerbangan.
Keduanya memperlihatkan satu benang merah: pengabdian kepada negara pada akhirnya kembali kepada manusiaโbagaimana pemimpin memperlakukan anggotanya, bagaimana aparat melindungi masyarakat, dan bagaimana setiap tugas dijalankan dengan integritas.
Di tengah tantangan kebangsaan yang semakin kompleks, profesionalisme tidak cukup hanya diukur dari kemampuan bertindak cepat. Profesionalisme juga diuji dari kemampuan membaca persoalan secara mendalam, memilih solusi yang tepat, dan memastikan setiap langkah memberi manfaat nyata bagi masyarakat. (LW.ID)

