JAKARTA, LenteraWayracana.id — Di tengah hiruk-pikuk persiapan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI), sebuah peristiwa sederhana namun sarat makna berlangsung di Gedung Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Graha Purna Yudha, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Kepala Staf Komando Pertahanan Udara Nasional (Kas Kohanudnas) Mayjen TNI Trias Wijanarko, S.I.P., M.H.I., bersama rombongan, menyambangi Jenderal (HOR) H.B.L. Mantiri. Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari tradisi anjangsana TNI kepada para sesepuh sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengikat kesinambungan sejarah pengabdian militer dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Menjaga Jembatan Antargenerasi TNI

Mayjen TNI Trias Wijanarko dalam kesempatan itu menyampaikan salam hormat dari Panglima TNI beserta jajaran pejabat utama Mabes TNI kepada H.B.L. Mantiri.
“Kami menyampaikan salam hormat dari Bapak Panglima TNI, serta pejabat utama di Mabes TNI, untuk silaturahmi kepada Bapak selaku sesepuh dalam rangka hari ulang tahun TNI yang ke-81.”
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa peringatan hari ulang tahun institusi militer tidak semata-mata dipahami sebagai momentum seremonial. Di baliknya terdapat dimensi historis: bagaimana pengalaman generasi terdahulu tetap ditempatkan sebagai bagian dari memori institusional TNI.
Dalam perspektif organisasi, penghormatan terhadap senior juga dapat dibaca sebagai mekanisme transmisi nilai. Pengalaman, disiplin, loyalitas, dan pengabdian tidak berhenti pada satu generasi, melainkan diwariskan melalui interaksi sosial dan keteladanan.

H.B.L. Mantiri: TNI Harus Solid dan Kompak
Jenderal (HOR) H.B.L. Mantiri menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menyampaikan apresiasi atas perhatian TNI terhadap para sesepuh.
“Terima kasih atas kunjungannya. Kita merasa sangat dihormati.”
Namun, dari pertemuan tersebut, Mantiri tidak hanya menyampaikan apresiasi. Ia menitipkan sebuah pesan yang menyentuh salah satu fondasi utama organisasi pertahanan negara: soliditas dan kekompakan.
“Dan tentunya, saya sangat harapkan satu hal saja. TNI harus solid, harus kompak. Dan memang, menjadi garda yang terdepan tentunya untuk mengamankan NKRI ini,” tegasnya.
Pernyataan tersebut memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar pesan seorang senior kepada generasi penerus. Dalam konteks pertahanan negara, kohesi internal merupakan salah satu unsur penting bagi efektivitas pelaksanaan tugas. Institusi yang menjalankan fungsi strategis pertahanan membutuhkan koordinasi, disiplin organisasi, serta kesatuan orientasi dalam menjalankan mandat negara.
Ketika Tradisi Menjadi Memori Institusi
Anjangsana menjelang HUT ke-81 TNI memperlihatkan bagaimana sebuah institusi besar menjaga hubungan dengan masa lalunya.
Ada dimensi human interest yang kuat dalam pertemuan tersebut. Seorang perwira aktif datang membawa salam dari pimpinan TNI kepada seorang sesepuh. Di dalam ruang pertemuan itu, pengalaman masa lalu dan tanggung jawab masa kini bertemu dalam satu percakapan.
Secara simbolik, momen tersebut menyerupai sebuah jembatan: generasi terdahulu berdiri di satu sisi sejarah, sementara generasi penerus melanjutkan perjalanan di sisi lainnya.
Tradisi semacam ini penting bukan hanya karena unsur penghormatan, tetapi juga karena sejarah organisasi pada dasarnya dibangun oleh ingatan kolektif. Ketika pengalaman para pendahulu tetap dihargai, sebuah institusi memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami dari mana ia berasal dan nilai apa yang perlu dijaga dalam perjalanan berikutnya.
HUT ke-81 TNI dan Pesan tentang Kesinambungan
Memasuki usia ke-81 tahun, TNI menghadapi tantangan zaman yang terus bergerak. Perubahan lingkungan strategis, perkembangan teknologi pertahanan, serta dinamika keamanan nasional dan internasional menuntut institusi pertahanan untuk terus beradaptasi.
Namun, modernisasi tidak selalu berarti memutus hubungan dengan masa lalu.
Justru di sinilah relevansi anjangsana tersebut dapat dibaca. Modernitas organisasi membutuhkan kemampuan beradaptasi, sementara sejarah memberikan fondasi identitas dan nilai.
Kunjungan Mayjen TNI Trias Wijanarko kepada H.B.L. Mantiri pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda menjelang peringatan HUT TNI. Ia menjadi simbol kesinambungan pengabdian—bahwa perjalanan panjang sebuah institusi tidak hanya ditentukan oleh teknologi, struktur, dan strategi, tetapi juga oleh nilai, keteladanan, serta ikatan antargenerasi.
Di tengah perjalanan menuju HUT ke-81 TNI, pesan H.B.L. Mantiri pun menemukan relevansinya: soliditas dan kekompakan bukan sekadar jargon organisasi, melainkan modal sosial yang menopang keberlangsungan pengabdian kepada bangsa dan negara.(LW.id)

