JAKARTA, LenteraWayracana.id — Di tengah dinamika lingkungan strategis yang kian kompleks, kepemimpinan militer tidak hanya dituntut mampu membaca ancaman, tetapi juga berani mengambil keputusan ketika sumber daya berada dalam keterbatasan. Pesan itulah yang mengemuka dalam anjangsana Oditur Jenderal (Orjen) TNI Mayjen TNI Tugino, S.Sos., S.H., M.M., kepada mantan Panglima TNI Laksamana TNI (Purn) Yudo Margono, S.E., M.M., di Komplek TNI AL Kodamar, Kelapa Gading, Jakarta, Senin (28/9/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian menyambut HUT ke-81 TNI, sekaligus menjadi momentum mempererat silaturahmi dan merawat jiwa korsa antara generasi prajurit aktif dengan para senior TNI.

Yudo Margono Tekankan Keberanian Berinovasi
Dalam suasana penuh keakraban, Yudo Margono menyampaikan pandangan mengenai karakter kepemimpinan yang dibutuhkan seorang komandan. Menurutnya, keterbatasan tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti bergerak.

Seorang komandan dituntut memiliki keberanian mengambil inisiatif, melakukan inovasi, serta mengembangkan improvisasi sesuai kondisi di lapangan. Pada titik inilah, kepemimpinan diuji: bukan sekadar pada kemampuan memberikan perintah, tetapi juga keberanian mempertanggungjawabkan setiap keputusan.

Perspektif tersebut menempatkan inovasi sebagai instrumen penting dalam menghadapi situasi yang tidak selalu ideal. Keterbatasan sumber daya, dalam kerangka kepemimpinan, dapat diubah menjadi ruang kreativitas untuk mencari solusi yang efektif dan terukur.
TNI Diminta Tetap Menjadi Garda Terdepan
Selain berbicara mengenai kepemimpinan, Yudo Margono menekankan posisi strategis TNI dalam menjaga kedaulatan dan keberlangsungan negara.
Menurut dia, perkembangan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa menuntut TNI tetap memiliki kesiapan dan keberanian menjalankan tugas pokoknya.
«“Apapun yang terjadi TNI harus yang terdepan,” tegas Yudo Margono.»
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan pertahanan tidak semata-mata berkaitan dengan kekuatan alutsista, tetapi juga menyangkut kualitas sumber daya manusia, daya adaptasi, disiplin, serta keteguhan moral prajurit.
Pesan untuk Prajurit: Pegang Teguh Sapta Marga
Dalam kesempatan itu, Yudo Margono juga meninggalkan pesan tertulis yang ditujukan kepada seluruh prajurit TNI.
Pesan tersebut berbunyi:
«“Tetaplah Berpegang Teguh pada Sapta Marga dan sumpah prajurit dalam menghadapi situasi global yang tidak menentu.”»
Pesan itu menjadi pengingat bahwa perubahan lingkungan strategis harus diimbangi dengan kokohnya nilai dasar keprajuritan. Modernisasi dan inovasi, dalam konteks tersebut, tetap membutuhkan pijakan etika dan disiplin sebagai fondasi pengabdian.
Merawat Warisan Kepemimpinan TNI
Anjangsana bukan sekadar agenda seremonial dalam rangka memperingati HUT ke-81 TNI. Pertemuan antara prajurit aktif dan para senior juga menjadi ruang pertukaran pengalaman serta pewarisan nilai kepemimpinan.
Dari generasi senior, pengalaman menjadi bagian dari warisan institusional. Sementara bagi generasi penerus, pengalaman tersebut dapat menjadi referensi untuk menghadapi tantangan yang terus berubah.
Kegiatan yang dilaksanakan Orjen TNI bersama rombongan ini pada akhirnya memperlihatkan satu pesan penting: kekuatan organisasi tidak hanya dibangun melalui struktur dan kemampuan operasional, tetapi juga melalui kesinambungan nilai, pengalaman, dan keteladanan.(LW.id)

