LenteraWayracana.id | KALIMANTAN SELATAN — Upaya menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan diperkuat melalui operasi modifikasi cuaca yang melibatkan tiga pesawat TNI. Sebanyak 4,2 ton bahan semai, terdiri atas natrium klorida (NaCl) dan dry ice, dikerahkan dalam tiga sortie penerbangan pada Sabtu (24/10/2026).

Operasi ini menjadi bagian dari dukungan TNI terhadap penanggulangan karhutla melalui pendekatan berbasis teknologi atmosfer dan koordinasi lintas instansi.

Tiga Pesawat, Dua Jenis Bahan Semai
Berdasarkan keterangan Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI), total bahan yang digunakan mencapai 4,2 ton, dengan rincian 2 ton natrium klorida (NaCl) dan 2,2 ton dry ice. Kedua material tersebut disemai melalui armada pesawat dengan perangkat dan metode operasional yang berbeda.

Sebanyak 2 ton NaCl disebarkan menggunakan satu pesawat CN-295 yang dilengkapi perangkat console. Sementara itu, 2,2 ton dry ice didistribusikan melalui dua pesawat Cassa C-212. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan dalam tiga sortie penerbangan.

Pengerahan armada udara tersebut memperlihatkan pentingnya dukungan logistik, ketepatan pelaksanaan misi, serta kesiapan operasional dalam menunjang kegiatan modifikasi cuaca.
Modifikasi Cuaca dan Tantangan Karhutla
Secara ilmiah, modifikasi cuaca merupakan upaya intervensi terhadap proses atmosfer untuk memengaruhi pembentukan atau distribusi presipitasi sesuai kondisi meteorologis. Efektivitasnya bergantung pada sejumlah faktor, antara lain karakteristik awan, kelembapan, suhu, dan dinamika atmosfer. Karena itu, penggunaan bahan semai tidak serta-merta menjamin terjadinya hujan.
Dalam konteks penanganan karhutla, operasi ini diharapkan mendukung upaya pengurangan risiko kebakaran dan membantu memperbaiki kondisi lingkungan melalui pendekatan meteorologis yang terukur.
Karhutla bukan sekadar persoalan titik api. Dampaknya dapat menjalar menjadi kabut asap, gangguan kesehatan, penurunan kualitas udara, serta terganggunya aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu, setiap langkah mitigasi memiliki arti strategis bagi perlindungan lingkungan dan keselamatan publik.
Sinergi untuk Perlindungan Lingkungan
Puspen TNI menyampaikan bahwa operasi tersebut dilaksanakan melalui sinergi dengan instansi terkait untuk mendukung penanggulangan karhutla di Kalimantan Selatan.
Secara analitis, modifikasi cuaca akan lebih optimal apabila berjalan beriringan dengan deteksi dini, pemantauan titik panas, patroli terpadu, kesiapsiagaan personel, serta penegakan aturan terkait pembakaran lahan.
Langkah ini menegaskan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kombinasi kemampuan teknologi, koordinasi kelembagaan, dan partisipasi masyarakat. Di tengah tantangan perubahan kondisi cuaca dan kerentanan ekosistem, pencegahan tetap menjadi fondasi utama.
Operasi penyemaian 4,2 ton bahan modifikasi cuaca tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan TNI dalam menghadapi ancaman karhutla. Keberhasilannya perlu dinilai berdasarkan kondisi meteorologis, hasil pemantauan lapangan, dan dampak nyata terhadap pengendalian kebakaran.


