LENTERAWAYRACANA.ID | BUOL — Di tengah lanskap global yang dibayangi ancaman krisis pangan, disrupsi rantai pasok internasional, serta ketidakpastian geopolitik dunia, agenda ketahanan pangan tidak lagi diposisikan sekadar sebagai isu agraria, melainkan telah bermetamorfosis menjadi instrumen strategis dalam menjaga stabilitas nasional.

Dalam kerangka itulah, TNI Angkatan Laut melalui Lanal Buol Tolitoli melaksanakan penanaman benih kedelai di Dusun Tontoyon, Kelurahan Leok I, Kecamatan Biau, Kabupaten Buol, Kamis (11/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 Wita tersebut dipimpin langsung oleh Komandan Lanal Buol Tolitoli, Letkol Laut (P) Abdul Rachman Gazali, M.Tr.Opsla, didampingi Ketua Cabang 6 DK VIII GJK RI Ny. Mega Gazali. Hadir pula Wakil Bupati Buol, Dr. Nasir Dj Daimoroto, SH., MH, bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Buol.
Secara substantif, gerakan penanaman kedelai itu merepresentasikan artikulasi konkret dari implementasi Asta Cita Presiden Republik Indonesia dalam sektor ketahanan pangan nasional. Di balik aktivitas agrikultural yang tampak sederhana, tersimpan pesan strategis mengenai pentingnya membangun kedaulatan pangan berbasis kekuatan lokal dan kolaborasi lintas institusi.
Dalam perspektif ekonomi-politik pangan, kedelai merupakan komoditas vital yang memiliki nilai strategis tinggi dalam struktur konsumsi masyarakat Indonesia. Selama bertahun-tahun, ketergantungan terhadap impor kedelai telah menciptakan kerentanan terhadap fluktuasi harga global dan dinamika perdagangan internasional. Karena itu, upaya peningkatan produksi domestik menjadi bagian penting dari desain besar pembangunan nasional yang berorientasi pada resiliensi pangan.

Lanal Buol Tolitoli melalui kegiatan tersebut memperlihatkan transformasi paradigma institusi pertahanan modern. Tugas menjaga kedaulatan negara tidak lagi dipahami secara sempit sebatas pertahanan militeristik, tetapi juga mencakup penguatan fondasi sosial-ekonomi masyarakat melalui sektor pangan.
Di hamparan lahan pertanian Dusun Tontoyon, interaksi antara prajurit TNI AL, pemerintah daerah, dan masyarakat menghadirkan gambaran tentang model pembangunan kolaboratif yang humanistik. Para petani tampak bekerja berdampingan dengan aparat negara, menanam benih-benih kedelai yang secara simbolik merepresentasikan harapan terhadap masa depan pangan yang lebih mandiri dan berdaulat.
Pendekatan seperti ini memiliki dimensi strategis yang multidisipliner. Selain mendorong optimalisasi lahan produktif, kegiatan tersebut juga berpotensi memperkuat ekosistem ekonomi pedesaan, meningkatkan kapasitas produksi lokal, serta menciptakan efek berantai terhadap kesejahteraan masyarakat agraris.
Kabupaten Buol sendiri memiliki potensi geografis dan ekologis yang cukup menjanjikan untuk pengembangan sektor pertanian berbasis komoditas pangan strategis. Dengan dukungan sinergi antara pemerintah daerah, TNI, dan masyarakat, kawasan ini dinilai mampu menjadi salah satu simpul penguatan ketahanan pangan regional di Sulawesi Tengah.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah yang dilakukan Lanal Buol Tolitoli sesungguhnya mengandung pesan ideologis bahwa ketahanan pangan merupakan bagian integral dari ketahanan nasional. Sebab, bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang unggul dalam sektor pertahanan, tetapi juga bangsa yang mampu memastikan keberlanjutan pangan bagi rakyatnya sendiri.
Dari lahan sederhana di pesisir Buol, sebuah narasi besar tentang kedaulatan bangsa tengah ditanam perlahan, bahwa masa depan Indonesia tidak hanya dibangun melalui teknologi dan industrialisasi, tetapi juga melalui tanah, benih, dan tangan-tangan masyarakat yang menjaga kehidupan.
(LW.ID)
