LENTERAWAYRACANA.ID – JAKARTA. Sebanyak 180 prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) diberangkatkan untuk menjalankan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Republik Afrika Tengah. Pengiriman pasukan ini bukan sekadar penugasan militer lintas negara, melainkan representasi komitmen Indonesia dalam menjaga stabilitas global di tengah meningkatnya kompleksitas konflik dan ancaman keamanan internasional.

Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto memimpin langsung upacara pemberangkatan Satuan Tugas Konstruksi Zeni (Satgas Kizi) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXVII-M MINUSCA Tahun Anggaran 2026 di Lapangan Gelanggang Olahraga (GOR) Ahmad Yani, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (3/11/2026).

Pemberangkatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam misi United Nations Multidimensional Integrated Stabilization Mission in the Central African Republic (MINUSCA), sekaligus mempertegas peran diplomasi pertahanan Indonesia melalui keterlibatan aktif dalam operasi pemeliharaan perdamaian dunia.

Panglima TNI Tekankan Kesiapsiagaan dan Profesionalisme Prajurit
Dalam amanatnya, Panglima TNI menyoroti dinamika lingkungan strategis yang masih diwarnai konflik bersenjata, ketidakstabilan keamanan, serta ancaman kelompok bersenjata. Kondisi tersebut menuntut setiap personel memiliki kesiapsiagaan operasional, ketajaman membaca situasi, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan di wilayah penugasan.
Panglima menegaskan bahwa prajurit harus mampu memahami perkembangan situasi, mengantisipasi berbagai risiko, serta menjalankan tugas secara profesional sesuai mandat PBB dan ketentuan hukum yang berlaku.

Selain kemampuan teknis dan taktis, soliditas satuan, kedisiplinan, kesehatan, serta kewaspadaan menjadi faktor penting dalam menjaga keberhasilan pelaksanaan misi.
Ia juga mengingatkan seluruh personel agar menghormati masyarakat setempat, melindungi warga sipil, serta menjauhi segala bentuk pelanggaran selama menjalankan tugas internasional.
Kontingen Garuda dan Wajah Diplomasi Indonesia
Penugasan Satgas Kizi Konga XXXVII-M memiliki dimensi strategis yang melampaui kepentingan pertahanan. Kehadiran prajurit Indonesia di bawah bendera PBB mencerminkan diplomasi militer yang bertumpu pada profesionalisme, solidaritas kemanusiaan, dan tanggung jawab terhadap keamanan kolektif.
Dalam perspektif hubungan internasional, partisipasi pasukan perdamaian merupakan instrumen penting untuk memperkuat kepercayaan dunia terhadap Indonesia sebagai negara yang aktif mendukung multilateralisme.
Di balik seragam dan atribut pasukan penjaga perdamaian, terdapat tanggung jawab besar: menjaga kepercayaan, menghormati kehidupan masyarakat sipil, serta membawa nama baik bangsa di tengah lingkungan konflik.
Keberhasilan misi tidak semata-mata diukur dari kemampuan menjalankan tugas militer, tetapi juga dari kontribusi nyata dalam menciptakan rasa aman dan membangun kepercayaan masyarakat.
Dengan diberangkatkannya 180 prajurit tersebut, Indonesia kembali menegaskan bahwa komitmen terhadap perdamaian dunia bukan hanya pernyataan diplomatik, melainkan diwujudkan melalui pengabdian nyata di lapangan.


