LENTERAWAYRACANA.ID | Tolitoli — Di tengah bentang perkampungan pesisir dan hamparan kebun warga di Kecamatan Dako Pemean, langkah-langkah sederhana aparat kepolisian kembali menemukan maknanya yang paling mendasar: hadir untuk manusia.

Rabu pagi, 24 Juni 2026, suasana Desa Galumpang dan Desa Dungingis tampak berbeda. Sejumlah personel Polsek Dako Pemean menyusuri jalan-jalan desa dalam kegiatan anjangsana dan pembagian bantuan sosial kepada warakauri serta warga kurang mampu dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80.

Kegiatan yang dipimpin Kapolsek Dako Pemean, Ipda Ismail Mappiase, tersebut melibatkan Kanit Samapta Aiptu Aan Juandi, Kanit Propam Aiptu Muh. Chairul, Kasium Aiptu Kasmad S. Mbiroggi, serta personel Bhabinkamtibmas.
Di balik seremoni peringatan Hari Bhayangkara, terdapat dimensi kemanusiaan yang lebih dalam. Bantuan berupa beras, minyak goreng, gula, teh, kopi, dan mi instan memang terlihat sederhana. Namun dalam perspektif sosial, bantuan tersebut merupakan bentuk redistribusi kepedulian yang memiliki nilai psikologis dan moral yang jauh melampaui nilai ekonominya.
Salah seorang penerima bantuan adalah Hasbiah, 67 tahun, seorang warakauri yang tinggal di Dusun I Lambagu, Desa Dungingis. Kehadiran aparat kepolisian di kediamannya menghadirkan pesan simbolik bahwa pengabdian keluarga besar Polri tidak berhenti pada masa dinas, melainkan terus terjalin dalam ikatan sosial dan emosional.

Selain itu, bantuan juga disalurkan kepada warga lanjut usia dan masyarakat kurang mampu, yakni Rauf (71), Sartim (80), Suding (58), dan Adnan (75). Sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai petani yang selama bertahun-tahun menggantungkan hidup pada sektor pertanian tradisional.
Dalam pendekatan sosiologis, kelompok lanjut usia dan masyarakat berpenghasilan rendah merupakan kelompok rentan yang memerlukan perhatian berkelanjutan. Kehadiran negara melalui institusi kepolisian dalam ruang-ruang kecil seperti ini menjadi manifestasi konkret dari konsep pelayanan publik yang berorientasi pada kemanusiaan.
Anjangsana bukan sekadar agenda rutin tahunan. Ia merupakan ruang dialog yang mempertemukan negara dan masyarakat dalam dimensi yang paling sederhana: saling menyapa, mendengar, dan memahami.
Secara filosofis, Hari Bhayangkara ke-80 menjadi momentum refleksi atas transformasi institusi kepolisian. Polri tidak hanya dihadapkan pada tantangan keamanan konvensional, tetapi juga dituntut membangun modal sosial, memperkuat kepercayaan publik, serta menghadirkan empati dalam setiap pengabdian.
Dalam bahasa yang lebih puitis, bantuan yang dibawa para personel pagi itu bukan semata-mata paket sembako. Ia adalah bahasa kepedulian yang diterjemahkan melalui beras, gula, minyak, dan secangkir harapan yang disampaikan dari pintu ke pintu.
Pendekatan human interest dalam kegiatan ini tampak jelas. Ketika aparat mendatangi rumah-rumah warga lanjut usia, yang hadir bukan hanya seragam dan atribut kedinasan, melainkan sentuhan kemanusiaan yang mampu memperpendek jarak antara polisi dan masyarakat.
Dari sisi analisis, kegiatan sosial seperti ini memiliki efek strategis terhadap pembangunan kepercayaan publik. Kepercayaan masyarakat terhadap institusi tidak semata dibangun melalui penegakan hukum, tetapi juga melalui pengalaman langsung masyarakat ketika negara hadir di tengah kesulitan mereka.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.45 WITA hingga 10.00 WITA tersebut berjalan aman dan kondusif. Namun lebih dari itu, kegiatan ini meninggalkan pesan bahwa pengabdian Polri tidak hanya berada di ruang-ruang formal, melainkan juga di beranda rumah warga, di jalan-jalan desa, dan di hati masyarakat yang membutuhkan.
Memperingati Hari Bhayangkara ke-80, Polsek Dako Pemean menunjukkan bahwa kekuatan institusi tidak hanya diukur dari kewenangan yang dimiliki, melainkan dari kemampuan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
( LW.id )

