LenteraWayracana.id | KENDARI — Pelantikan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI Kendari Periode 2025–2027 yang berlangsung di Gedung Kwarda Pramuka, Jumat (27/6/2026), tidak sekadar menghadirkan prosesi organisasi yang lazim. Di tengah dinamika gerakan mahasiswa yang kerap berhadapan dengan perubahan zaman, forum tersebut menjelma menjadi ruang ideologis yang mempertemukan sejarah, gagasan, dan harapan tentang masa depan gerakan marhaenis di Sulawesi Tenggara.
Mengusung tema “Trisakti Bung Karno di Bumi Anoa, GMNI Bersama Rakyat Menuju Keadilan Sosial”, pelantikan itu dihadiri unsur DPP GMNI, DPD GMNI Sulawesi Tenggara, para senior organisasi, Cipayung Plus Kota Kendari, serta kader dan anggota GMNI Kendari.
Di tengah rangkaian pelantikan, perhatian peserta tertuju pada momen simbolik ketika mantan Ketua DPC GMNI Kendari, Rasmin Jaya, menyerahkan karya bukunya kepada Ketua DPP GMNI Bidang Koperasi, Musrivind, serta kepada pengurus DPC GMNI Kendari yang baru melalui Ketua DPC terpilih, Awaludin.
Penyerahan buku tersebut bukan sekadar seremoni pertukaran cendera mata. Ia menjadi metafora tentang estafet gagasan. Dalam tradisi intelektual organisasi, karya tulis sering kali menjadi jejak pemikiran yang melampaui batas kepengurusan dan masa jabatan.
“Penyerahan karya buku ini sebagai bentuk komitmen untuk terus melahirkan karya, mencipta, dan memimpin dalam rumah besar GMNI. Semoga buku ini menjadi percikan inspirasi bagi kader GMNI di Sulawesi Tenggara,” ujar Rasmin.
Dalam sambutannya, Rasmin menegaskan bahwa pelantikan bukanlah terminal akhir dari proses organisasi, melainkan titik tolak bagi kerja-kerja kaderisasi, konsolidasi, dan perumusan program organisasi. Menurutnya, kepengurusan baru harus segera menerjemahkan semangat ideologis ke dalam agenda kerja yang konkret.

Di tengah perubahan sosial yang bergerak cepat, ia memandang bahwa kader GMNI harus tetap meneguhkan semangat Trisakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Secara sosiologis, pesan tersebut mengandung makna penting. Organisasi mahasiswa tidak hanya dituntut mampu membaca realitas, tetapi juga menghasilkan gagasan yang mampu menjadi instrumen perubahan sosial. Kampus dan organisasi kemahasiswaan, dalam konteks ini, menjadi laboratorium kepemimpinan yang menguji keberanian berpikir dan keteguhan moral kadernya.
“Kita sedang menapaki jalan panjang perjuangan. Generasi kita harus bangkit, maju, dan mencapai mimpi-mimpi besar. Ini tentang regenerasi, kepemimpinan, dan masa depan,” tegasnya.
Narasi yang disampaikan Rasmin menggambarkan bahwa gerakan mahasiswa tidak boleh terjebak dalam ruang diskusi yang kehilangan daya transformasi. Gagasan tanpa tindakan hanya akan menjadi gema di ruang-ruang seminar, sementara tindakan tanpa gagasan berisiko kehilangan arah sejarahnya.
Dalam perspektif gerakan sosial, GMNI dipandang harus tetap berdiri di garis perjuangan rakyat. Marhaenisme, sebagai fondasi ideologis organisasi, dituntut tetap membumi dan relevan terhadap persoalan-persoalan masyarakat kecil.
“Marhaenis tetap harus berada di simpang kiri jalan, berteriak di atas podium dengan lantang, bersuara di forum, dan menghiasi ruang publik dengan gagasan,” katanya.
Pernyataan tersebut seolah menjadi refleksi atas dinamika panjang GMNI Kendari yang selama ini mengalami pasang surut organisasi, gejolak internal, hingga berbagai tantangan kaderisasi. Namun menurutnya, seluruh dinamika tersebut tidak pernah memadamkan semangat perjuangan kader.
Forum pelantikan pun tidak ditempatkan sebagai ritual administratif semata. Ia diposisikan sebagai ruang konsolidasi gagasan, tempat lahirnya kesadaran kolektif tentang tanggung jawab moral, ideologis, dan historis yang dipikul setiap kader.
Secara humanis, momentum itu juga memperlihatkan bagaimana hubungan antargenerasi di tubuh GMNI terus terjalin. Kader lama menitipkan pengalaman dan pemikiran, sementara kader baru menerima estafet perjuangan dengan harapan dan tanggung jawab yang tidak ringan.
Di penghujung sambutannya, Rasmin turut menyinggung proses kreatif penulisan bukunya. Baginya, karya tulis merupakan bentuk pengabdian intelektual kepada organisasi sekaligus kontribusi pemikiran bagi para pemangku kebijakan.
Dalam tradisi kaum intelektual, menulis adalah cara mengabadikan gagasan agar tidak hilang ditelan waktu. Sebab sejarah organisasi bukan hanya ditulis oleh mereka yang berkuasa, melainkan juga oleh mereka yang setia merawat pemikiran.
Pelantikan DPC GMNI Kendari Periode 2025–2027 akhirnya meninggalkan satu pesan penting: bahwa organisasi mahasiswa bukan sekadar ruang berhimpun, melainkan kawah candradimuka yang menempa karakter, mempertemukan ide dan aksi, serta melahirkan pemimpin yang berpihak pada rakyat.
Di tengah kibaran panji merah dan gema semangat marhaenis, harapan itu kembali disulam. Bahwa GMNI tetap menjadi lokomotif gagasan, pelopor perubahan, dan ruang kaderisasi yang terus menyalakan api perjuangan di Bumi Anoa.
(Ikmal)

