Halmahera Timur, LenteraWayracana.id | – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 yang dilaksanakan Kodim 1505/Tidore kembali memperlihatkan wajah pengabdian yang melampaui dimensi pembangunan fisik. Di tengah kesibukan menyelesaikan berbagai sasaran infrastruktur, personel Satuan Tugas (Satgas) TMMD menunjukkan bahwa pembangunan sosial dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban desa.

Suasana penuh kehangatan tersaji saat personel Satgas TMMD menghadiri kegiatan baca doa hari dina, sebuah tradisi masyarakat untuk mendoakan warga yang telah wafat. Kegiatan yang berlangsung di salah satu rumah warga di Desa Bokimaake, Kecamatan Wasile Tengah, Kabupaten Halmahera Timur, Selasa malam (21/7/2026), menjadi ruang perjumpaan yang sarat makna antara prajurit TNI dan masyarakat.
Tanpa sekat formalitas, para personel Satgas duduk berdampingan bersama warga, mengikuti rangkaian doa dengan penuh khusyuk. Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi undangan seremonial, melainkan mencerminkan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya lokal yang telah lama menjadi identitas masyarakat setempat.
Secara sosiologis, partisipasi TNI dalam aktivitas sosial-keagamaan seperti ini memiliki nilai strategis dalam memperkuat modal sosial (social capital). Kepercayaan, solidaritas, dan rasa memiliki yang tumbuh dari interaksi sehari-hari menjadi energi kolektif yang mempercepat keberhasilan pembangunan. Infrastruktur dapat dibangun dalam hitungan bulan, tetapi kepercayaan masyarakat hanya dapat dibentuk melalui ketulusan, konsistensi, dan kedekatan emosional.
TMMD pada hakikatnya bukan sekadar program lintas sektoral yang menghadirkan pembangunan jalan, rumah, maupun fasilitas umum. Lebih dari itu, program ini menjadi instrumen negara dalam memperkuat kohesi sosial, mempererat hubungan emosional antara TNI dan rakyat, serta menumbuhkan semangat gotong royong sebagai warisan budaya bangsa.

Dari perspektif pembangunan manusia, keterlibatan prajurit dalam tradisi masyarakat memperlihatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur melalui capaian fisik, tetapi juga melalui kemampuan membangun harmoni sosial. Interaksi yang terjalin secara alami menghadirkan rasa aman, memperkuat komunikasi, sekaligus menciptakan ruang dialog yang mempererat persaudaraan.
Momentum kebersamaan tersebut menjadi manifestasi nyata dari kemanunggalan TNI dengan rakyat yang selama ini menjadi roh pelaksanaan TMMD. Dalam setiap langkah pengabdian, prajurit tidak hanya membawa kemampuan profesional sebagai aparat pertahanan negara, tetapi juga menghadirkan empati sebagai sesama anak bangsa.
Kehangatan yang tercipta di Desa Bokimaake memperlihatkan bahwa pembangunan sejati selalu berawal dari hubungan antarmanusia yang dilandasi rasa saling menghormati. Ketika prajurit dan masyarakat duduk bersama dalam doa, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya desa, melainkan juga jembatan kepercayaan yang akan menjadi fondasi kokoh bagi kemajuan daerah di masa depan.
Sebagaimana disampaikan Penerangan Kodim (Pen Kodim) 1505/Tidore, keikutsertaan personel Satgas TMMD dalam tradisi masyarakat menjadi bukti bahwa pengabdian TNI tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Kehadiran mereka juga bertujuan membangun kedekatan emosional, sosial, dan spiritual dengan masyarakat sebagai wujud nyata kemanunggalan TNI dan rakyat.
Sumber: Penerangan Kodim (Pen Kodim) 1505/Tidore.

