Makassar, LenteraWayracana.id — Langit Indonesia kembali menjadi saksi lahirnya capaian membanggakan dari prajurit udara TNI Angkatan Udara. Tiga penerbang tempur Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin menorehkan tonggak prestasi yang bukan hanya mencerminkan kecakapan individu, tetapi juga menjadi representasi keberhasilan pembinaan sumber daya manusia di lingkungan TNI AU.

Dalam tradisi militer yang sarat makna, Mayor Pnb Ahmad “Jaglion” Finandika Nur Rasyid resmi mencatatkan 1.000 jam terbang menggunakan pesawat tempur Sukhoi Su-27/30. Pada momentum yang sama, Lettu Pnb Dofandya Abdul Rachlien Syukur dan Letda Pnb Alliyan Mahfudz berhasil menyelesaikan penerbangan solo (solo flight) dengan pesawat tempur strategis tersebut.

Pencapaian itu mendapat penghormatan melalui penyematan Badge 1.000 Jam Terbang dan Badge Thunder Sierra yang dilakukan langsung oleh Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Marsma TNI Vincentius Endy Hadi Putra, M.Han., dalam upacara tradisi di Shelter Skadron Udara 11, Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, Senin (20/7/2026).

Dalam sambutannya, Danlanud menegaskan bahwa setiap jam terbang bukan sekadar hitungan waktu di udara. Di balik angka tersebut tersimpan akumulasi pengalaman, ketelitian, ketahanan mental, serta kemampuan mengambil keputusan dalam situasi yang menuntut presisi tinggi.
Menurutnya, keberhasilan mencapai 1.000 jam terbang merupakan simbol kematangan profesional seorang penerbang tempur. Sementara keberhasilan melaksanakan penerbangan solo menjadi fase penting yang menandai lahirnya kepercayaan institusi terhadap kemampuan seorang pilot dalam mengoperasikan pesawat tempur secara mandiri.

“Setiap jam terbang yang berhasil dilalui merupakan wujud pengalaman, pembelajaran, dan peningkatan kemampuan yang sangat berharga bagi seorang penerbang tempur. Capaian ini mencerminkan integritas, ketangguhan, serta profesionalisme dalam menjaga kesiapan operasional TNI Angkatan Udara,” ujar Marsma TNI Vincentius Endy Hadi Putra.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan terbang solo bukanlah garis akhir, melainkan titik awal perjalanan panjang seorang penerbang tempur yang harus terus mengembangkan kompetensi, menjaga disiplin, dan memegang teguh budaya keselamatan terbang dalam setiap misi menjaga kedaulatan wilayah udara Indonesia.
Investasi SDM Strategis Pertahanan
Secara deskriptif, keberhasilan tiga penerbang tersebut memperlihatkan kualitas sistem pendidikan, pelatihan, dan pembinaan personel tempur TNI AU yang berlangsung secara bertahap, terukur, dan berorientasi pada standar profesionalisme internasional.
Dalam perspektif pertahanan modern, jam terbang merupakan indikator penting yang menggambarkan tingkat pengalaman operasional seorang pilot. Semakin tinggi jam terbang, semakin besar pula kapasitasnya dalam menghadapi berbagai dinamika operasi udara, mulai dari latihan hingga misi pertahanan negara.
Di sisi lain, keberhasilan melaksanakan penerbangan solo mencerminkan tingkat kesiapan psikologis, penguasaan teknologi, serta kemampuan berpikir cepat dalam mengambil keputusan di lingkungan berisiko tinggi.
Kisah Pengabdian di Balik Kokpit
Di balik seragam penerbang dan kokpit pesawat tempur Sukhoi, terdapat proses panjang yang penuh disiplin, pengorbanan, serta latihan tanpa henti. Prestasi yang diraih ketiga penerbang tersebut menjadi inspirasi bahwa profesionalisme tidak lahir secara instan, melainkan melalui konsistensi, dedikasi, dan komitmen terhadap tugas negara.
Tradisi penyematan badge bukan sekadar seremoni militer, melainkan penghormatan atas dedikasi yang telah dibangun melalui ribuan jam pembelajaran, latihan intensif, dan pengabdian kepada bangsa.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut para Kepala Dinas Lanud Sultan Hasanuddin, Kepala RSAU dr. Dody Sardjoto, Komandan Skadron Udara 11, Komandan Skadron Udara 5, serta para perwira penerbang dan teknisi Skadron Udara 11 yang menjadi bagian penting dalam menjaga kesiapan operasional pesawat tempur.
Sumber: Penerangan Lanud Sultan Hasanuddin.

