PINRANG – LenteraWayracana.id | Di tengah bentangan langit yang masih enggan menurunkan hujan, Pemerintah Kabupaten Pinrang memilih menempuh dua jalan ikhtiar secara bersamaan: bekerja melalui langkah-langkah teknis dan berserah diri melalui ikhtiar spiritual. Keduanya dipadukan sebagai manifestasi kepemimpinan yang memandang penanganan bencana tidak hanya bertumpu pada kebijakan administratif, tetapi juga pada nilai-nilai religius yang hidup dalam masyarakat.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Pemerintah Kabupaten Pinrang menggelar Salat Istisqa di halaman Kantor Bupati Pinrang. Kegiatan ini dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Aparatur Sipil Negara (ASN), tokoh agama, serta masyarakat dari berbagai kalangan yang bersama-sama memanjatkan doa agar Allah SWT menurunkan hujan yang membawa keberkahan.

Dalam sambutannya, Bupati Pinrang H.A. Irwan Hamid, S.Sos. menegaskan bahwa musim kemarau yang berkepanjangan telah memberikan tekanan terhadap berbagai sektor kehidupan, terutama pada ketersediaan air dan sistem irigasi yang menjadi fondasi utama produktivitas pertanian di Kabupaten Pinrang.
Menurut Bupati Irwan, pemerintah daerah tidak tinggal diam menghadapi situasi tersebut. Berbagai langkah teknis telah dilakukan sesuai kewenangan yang dimiliki, dengan mengoptimalkan sumber daya serta koordinasi lintas perangkat daerah dan para pemangku kepentingan guna meminimalkan dampak kekeringan terhadap masyarakat.
“Kita telah melakukan berbagai upaya teknis sesuai kewenangan yang kita miliki. Namun sebagai umat yang beriman, kita juga wajib melengkapi ikhtiar tersebut dengan doa, memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan yang membawa rahmat, memberikan manfaat bagi masyarakat, pertanian, dan seluruh kehidupan di Kabupaten Pinrang,” ujar Bupati Irwan.
Secara ilmiah, fenomena kemarau panjang tidak hanya dipahami sebagai berkurangnya intensitas curah hujan, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan hidrologi yang memengaruhi cadangan air permukaan, air tanah, hingga produktivitas lahan pertanian. Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, kondisi ini berpotensi memicu penurunan hasil panen, terganggunya ketahanan pangan, serta meningkatnya kerentanan ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor agraris.

Di sinilah Salat Istisqa memperoleh makna yang lebih luas. Ia bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan ruang kolektif yang mempertemukan dimensi spiritual, sosial, dan psikologis masyarakat. Tradisi ini menjadi simbol bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam mengendalikan alam, sehingga ikhtiar rasional melalui kebijakan publik harus berjalan beriringan dengan kesadaran spiritual.
Bupati Irwan menegaskan bahwa Salat Istisqa juga menjadi momentum untuk memperkuat ketakwaan, melakukan introspeksi diri, serta mempererat solidaritas sosial dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Nilai-nilai tersebut dinilai penting sebagai modal sosial yang mampu memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
Lebih lanjut, Bupati mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Pinrang untuk memperbanyak doa, meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat kepedulian sosial, dan apabila memungkinkan melaksanakan Salat Istisqa di wilayah masing-masing sebagai bentuk ikhtiar bersama menghadapi musim kemarau.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Turunnya hujan akan memberikan dampak multidimensional, mulai dari terjaminnya pasokan air bersih, pulihnya sistem irigasi, meningkatnya produktivitas pertanian, hingga terjaganya stabilitas ekonomi masyarakat pedesaan yang selama ini menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian.
“Kita berharap Allah SWT mengabulkan doa-doa kita dan menurunkan hujan yang membawa keberkahan, bukan hanya untuk mengakhiri kemarau, tetapi juga memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Kabupaten Pinrang,” tutup Bupati Irwan.
Pelaksanaan Salat Istisqa ini turut dihadiri Wakil Bupati Pinrang Sudirman Bungi, S.IP., M.Si., Sekretaris Daerah Kabupaten Pinrang A. Calo Kerrang, unsur Forkopimda, para Staf Ahli Bupati, Asisten, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), ASN lingkup Pemerintah Kabupaten Pinrang, tokoh agama, serta masyarakat yang bersama-sama menengadahkan tangan memohon turunnya hujan sebagai rahmat bagi bumi Lasinrang.
Salat Istisqa yang digelar Pemerintah Kabupaten Pinrang mencerminkan pendekatan kepemimpinan yang adaptif dalam menghadapi krisis iklim. Pemerintah tidak hanya mengedepankan instrumen teknokratis melalui pengelolaan sumber daya air dan mitigasi kekeringan, tetapi juga menghidupkan dimensi spiritual sebagai penguat kohesi sosial. Sinergi antara ikhtiar ilmiah dan nilai-nilai religius menjadi refleksi bahwa ketahanan daerah dibangun bukan hanya melalui infrastruktur, melainkan juga melalui kekuatan moral, solidaritas, dan optimisme masyarakat dalam menghadapi tantangan alam.
(Mamad)

