Halmahera Timur, LenteraWayracana.id | – Di tengah dinamika pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129, pengabdian prajurit tidak semata diukur dari capaian pembangunan fisik. Di sela aktivitas menyelesaikan berbagai sasaran program, personel Satgas TMMD ke-129 Kodim 1505/Tidore tetap menjadikan pembinaan spiritual sebagai bagian penting dari kehidupan prajurit.

Hal itu terlihat ketika personel Satgas TMMD yang beragama Islam menunaikan Shalat Jumat berjamaah bersama masyarakat di masjid setempat, Jumat (31/7/2026).

Momentum tersebut menghadirkan dimensi lain dari pelaksanaan TMMD. Masjid menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan prajurit dan masyarakat bukan dalam konteks pekerjaan pembangunan, melainkan dalam suasana ibadah yang sarat nilai kebersamaan dan persaudaraan.

Dandim 1505/Tidore selaku Dansatgas TMMD ke-129, Letkol Inf Wahyu Widya Sasono, melalui Dan SSK Kapten Inf Fardi Ruslan mengatakan, pelaksanaan Shalat Jumat bersama warga merupakan bagian dari pembinaan mental dan rohani bagi personel Satgas.
“Shalat Jumat merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Di sela-sela kesibukan menyelesaikan sasaran TMMD, personel tetap melaksanakan ibadah sebagai bentuk pembinaan mental sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Kapten Inf Fardi Ruslan.

Secara sosial, kebersamaan tersebut juga memiliki makna yang lebih luas. Interaksi antara prajurit dan masyarakat yang selama ini berlangsung melalui kegiatan pembangunan, pelayanan, maupun program pemberdayaan, menemukan ruang pengikatnya melalui aktivitas keagamaan.
Dalam perspektif kemanunggalan TNI dengan rakyat, kedekatan semacam ini menjadi modal sosial yang penting. Hubungan yang dibangun tidak hanya bertumpu pada kehadiran fisik prajurit di tengah masyarakat, tetapi juga tumbuh melalui komunikasi, keteladanan, dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Kapten Fardi Ruslan menambahkan, Shalat Jumat bersama warga sekaligus menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antara personel Satgas TMMD dan masyarakat.
“Melalui kebersamaan tersebut diharapkan hubungan yang telah terjalin selama pelaksanaan TMMD semakin erat, sehingga kemanunggalan TNI dengan rakyat terus terpelihara,” pungkasnya.
Dari perspektif human interest, kegiatan sederhana di rumah ibadah itu memperlihatkan bahwa di balik seragam dan tugas pembangunan, prajurit tetap hadir sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Mereka bekerja bersama warga, berinteraksi, dan menjalankan ibadah dalam ruang kebersamaan yang sama.
Pada akhirnya, TMMD bukan hanya tentang membangun jalan, fasilitas umum, atau berbagai sasaran fisik lainnya. Lebih dari itu, program tersebut juga menjadi medium membangun kepercayaan, memperkuat kohesi sosial, serta menumbuhkan kesadaran bahwa pembangunan membutuhkan keterlibatan dan kedekatan antara negara dan rakyat. (LW.ID)
.

