TOLITOLI, LenteraWayracana.id | — Kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diperkuat melalui Apel Siaga Penanggulangan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2026 yang digelar di Lapangan Apel Polres Tolitoli, Selasa (11/8/2026), mulai pukul 08.00 WITA.
Mengusung semangat “Siap, Solid, Berhasil”, apel tersebut menjadi penanda kesiapan lintas sektor dalam menghadapi potensi karhutla sekaligus mempertegas bahwa pencegahan bencana tidak dapat dikerjakan secara parsial.
Kapolres Tolitoli AKBP Raden Real Mahendra, S.H., S.I.K. bertindak sebagai Inspektur Upacara. Sementara Pamapta Satu Polres Tolitoli IPDA Edhi dipercaya sebagai Komandan Upacara dan Kasat Samapta Polres Tolitoli IPTU Sutiman sebagai Perwira Upacara.
Hadir dalam kegiatan tersebut mewakili Bupati Tolitoli, Sekretaris Daerah Kabupaten Tolitoli Moh. Asrul Bantilan, S.Sos.; Kasdim 1305/BT Mayor Inf. Roy Kalalembang; perwakilan Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut Tolitoli Kapten Laut (P) Hariadi A.S.; unsur Brimob Kompi 4 Batalyon A Pelopor, Dinas Kehutanan Tolitoli, Basarnas Tolitoli, Satpol PP Tolitoli, Kodim 1305/BT, serta Pemadam Kebakaran Tolitoli.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menggambarkan satu hal penting: karhutla bukan semata persoalan api, melainkan persoalan ekologis, sosial, ekonomi, dan kemanusiaan yang membutuhkan respons kolektif.

Karhutla Bukan Sekadar Api
Dalam amanat Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Irjen Pol. Nasri, S.I.K., M.H., yang dibacakan dalam apel, ditegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kesiapan menghadapi karhutla di wilayah hukum Polda Sulawesi Tengah.
Karhutla dipandang bukan sekadar musibah alam biasa. Fenomena tersebut merupakan bencana ekologis yang dapat dipicu oleh cuaca ekstrem maupun aktivitas manusia, baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak disengaja.
Dampaknya pun memiliki rantai kerusakan yang panjang. Kebakaran dapat menggerus ekosistem, menghilangkan habitat flora dan fauna, serta mengganggu keseimbangan alam yang pemulihannya membutuhkan waktu tidak singkat.
Pada sisi lain, asap dan kebakaran dapat mengganggu aktivitas masyarakat, transportasi darat, laut, maupun udara, sekaligus menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi.
Dalam perspektif ilmiah populer, persoalan karhutla dapat dianalogikan seperti efek domino ekologis. Api mungkin bermula dari satu titik kecil, tetapi ketika bertemu vegetasi kering, angin dan kondisi cuaca tertentu, kobaran dapat berkembang menjadi bencana dengan dampak yang jauh lebih luas.
Karena itu, strategi penanggulangan tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman setelah api membesar. Deteksi dini dan pencegahan harus menjadi garis depan.
Dari Titik Api Menuju Kesadaran Bersama
Amanat Kapolda Sulteng juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan kewaspadaan seluruh unsur. Upaya dilakukan sedini mungkin agar kejadian karhutla dapat dicegah atau setidaknya diminimalkan luas dan dampaknya.
Satgas karhutla diharapkan mampu bekerja maksimal, efektif dan efisien dengan mengedepankan langkah preventif.
Salah satu instrumen penting adalah edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat secara persuasif. Langkah tersebut perlu dilakukan secara berjenjang dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari tingkat atas hingga lapisan masyarakat paling bawah.
Pendekatan ini menjadi penting karena sebagian potensi kebakaran dapat berawal dari aktivitas manusia. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai objek yang harus dilindungi, tetapi juga sebagai subjek utama dalam sistem pencegahan bencana.
Kesadaran masyarakat menjadi semacam benteng pertama sebelum perangkat negara bergerak menghadapi kobaran api.
Respons Cepat dan Deteksi Dini
Jika tindakan pemadaman harus dilakukan, respons cepat menjadi faktor yang tidak dapat ditawar.
Dalam amanat tersebut, seluruh unsur diminta tidak terlambat merespons titik api sekecil apa pun. Pemantauan terhadap wilayah rawan dan keberadaan hotspot perlu menjadi bagian dari mekanisme deteksi dini.
Secara manajerial, prinsip ini dikenal sebagai early warning, early response—semakin cepat indikasi ancaman dikenali, semakin besar peluang bencana dikendalikan sebelum berkembang menjadi krisis.
Di sinilah pentingnya soliditas antarlembaga. Kepolisian, TNI, pemerintah daerah, pemadam kebakaran, Basarnas, Dinas Kehutanan, Satpol PP, Brimob dan unsur terkait lainnya memiliki peran yang saling melengkapi.
Apel siaga bukan sekadar seremoni berdirinya barisan personel dan peralatan. Lebih dari itu, apel menjadi ruang konsolidasi untuk menyatukan persepsi, memperkuat koordinasi dan memastikan kesiapan menghadapi situasi darurat.
Menjaga Hutan, Menjaga Kehidupan
Di balik persoalan karhutla terdapat dimensi kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan.
Hutan bukan sekadar hamparan pepohonan. Di dalamnya terdapat ekosistem yang menopang kehidupan, ruang hidup berbagai satwa, sumber ekonomi masyarakat, sekaligus bagian dari keseimbangan lingkungan.
Ketika api melahap kawasan hutan dan lahan, yang terbakar bukan hanya vegetasi. Ada mata rantai kehidupan yang ikut terputus.
Karena itu, upaya penanggulangan karhutla sesungguhnya merupakan bagian dari menjaga keberlanjutan kehidupan manusia dan lingkungan.
Semangat “Siap, Solid, Berhasil” menemukan relevansinya pada titik tersebut. Kesiapan tanpa soliditas akan kehilangan daya, sementara soliditas tanpa tindakan nyata tidak akan menghasilkan keberhasilan.
Yang dibutuhkan adalah kesiapan personel, ketepatan koordinasi, kecepatan informasi, keberanian mengambil tindakan, serta kesadaran masyarakat untuk bersama-sama mencegah munculnya api.
Keselamatan Personel Tetap Menjadi Prioritas
Dalam amanatnya, Kapolda Sulawesi Tengah juga menyampaikan ucapan selamat bekerja kepada seluruh anggota Satgas serta mengingatkan agar kesehatan dan keselamatan tetap menjadi prioritas selama menjalankan tugas.
Pesan tersebut menjadi penting mengingat penanggulangan karhutla bukan pekerjaan sederhana. Personel dapat berhadapan dengan medan sulit, panas ekstrem, asap, jarak pandang terbatas, hingga perubahan arah angin yang sulit diprediksi.
Karena itu, kesiapan peralatan harus berjalan beriringan dengan kesiapan sumber daya manusia.
Apel siaga di Tolitoli pada akhirnya menjadi simbol kesiapan bersama untuk menghadapi ancaman yang mungkin muncul kapan saja.
Bagi masyarakat, pesan yang hendak disampaikan cukup jelas: jangan menunggu api membesar untuk bergerak. Mencegah selalu lebih murah, lebih aman, dan lebih manusiawi daripada memadamkan bencana yang telah terlanjur meluas.
Dengan koordinasi lintas sektor, deteksi dini, edukasi masyarakat, pemantauan hotspot dan respons cepat, ancaman karhutla di Sulawesi Tengah diharapkan dapat ditekan sehingga lingkungan, aktivitas masyarakat dan keselamatan warga tetap terlindungi. (LW.ID)

