LENTERAWAYRACANA.ID | KONAWE SELATAN – Infrastruktur pertanian yang memadai merupakan salah satu prasyarat utama dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan. Kesadaran akan pentingnya aspek tersebut kembali mengemuka di Kecamatan Mowila, Kabupaten Konawe Selatan, ketika para petani menyuarakan harapan agar perbaikan Jembatan Paramowila segera menjadi prioritas pembangunan daerah.
Harapan itu menguat setelah Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan merespons cepat aspirasi masyarakat. Hanya sehari setelah surat permohonan peninjauan disampaikan, Bupati Konawe Selatan, Irham Kalenggo, langsung menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk melakukan survei lapangan terhadap kondisi jembatan yang selama bertahun-tahun menjadi kendala bagi aktivitas pertanian warga.
Tim teknis PUPR pun turun langsung ke lokasi guna melakukan identifikasi kondisi fisik jembatan serta menilai urgensi penanganannya. Dari hasil peninjauan awal, pemerintah daerah membuka peluang realisasi pembangunan secara bertahap sesuai kemampuan fiskal daerah.
Menurut tim teknis PUPR, hasil survei lapangan akan menjadi dasar penyusunan rekomendasi teknis pembangunan. Jika kapasitas keuangan daerah memungkinkan, pembangunan salah satu jembatan diharapkan dapat direalisasikan pada tahun berjalan, sementara kebutuhan lainnya akan diusulkan dalam penganggaran tahun berikutnya.
Bagi masyarakat Mowila, keberadaan Jembatan Paramowila bukan sekadar sarana penghubung antarkawasan. Infrastruktur tersebut merupakan simpul vital yang menopang mobilitas petani, distribusi sarana produksi pertanian, hingga pengangkutan hasil panen dari lahan persawahan menuju pusat-pusat ekonomi.

Tokoh Pemuda Kecamatan Mowila, Jusmanto, SP, menilai respons cepat pemerintah daerah menunjukkan adanya sensitivitas terhadap kebutuhan riil masyarakat di sektor pertanian. Namun demikian, ia berharap proses tersebut tidak berhenti pada tahap kajian dan survei semata.
“Petani membutuhkan kepastian bahwa hasil peninjauan ini akan ditindaklanjuti menjadi program pembangunan yang konkret. Infrastruktur yang baik akan memperkuat produktivitas sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah,” ujarnya.
Secara ilmiah, keterhubungan infrastruktur dengan produktivitas pertanian merupakan hubungan yang tidak terpisahkan. Akses jalan dan jembatan yang layak berkontribusi terhadap efisiensi biaya logistik, mempercepat distribusi hasil panen, serta mengurangi risiko kerugian pascapanen. Dalam konteks Mowila, akses tersebut menopang sekitar 200 hektare lahan persawahan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat sekaligus bagian dari rantai pasok pangan regional.
Senada dengan itu, Ketua Gapoktan Harapan Baru, Sumani, berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan yang telah lama dinantikan petani. Menurutnya, akses tersebut digunakan setiap hari untuk menunjang aktivitas produksi pertanian dan distribusi hasil panen masyarakat.
Dimensi kemanusiaan dari persoalan ini juga terlihat dari kesabaran masyarakat yang telah menunggu cukup lama. Kepala Desa Ranombayasa, Japun, mengungkapkan bahwa kerusakan akses di kawasan tersebut telah berlangsung selama kurang lebih satu dekade.
“Selama bertahun-tahun masyarakat berharap ada perhatian terhadap kondisi jembatan ini. Peninjauan yang dilakukan PUPR menjadi langkah awal yang memberi harapan baru bagi petani dan warga sekitar,” katanya.
Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, perbaikan Jembatan Paramowila memiliki nilai strategis yang melampaui pembangunan fisik semata. Kehadirannya akan memperkuat konektivitas kawasan pertanian, meningkatkan efisiensi distribusi komoditas, memperkuat ekonomi rumah tangga petani, serta mendukung agenda besar swasembada pangan yang terus didorong pemerintah.
Bagi petani Mowila, jembatan tersebut bukan hanya bentangan konstruksi yang menghubungkan dua titik wilayah. Ia adalah jalur kehidupan yang menghubungkan harapan, hasil kerja, dan masa depan sektor pertanian yang menjadi denyut ekonomi masyarakat pedesaan.
(IKMAL)
