TOLITOLI, LenteraWayracana.id | 14 Agustus 2026 — Salam Pramuka! Peringatan Hari Pramuka ke-65 di Kabupaten Tolitoli menjadi momentum untuk meneguhkan kembali peran gerakan kepanduan sebagai ruang pendidikan karakter, pembentukan kemandirian, sekaligus laboratorium sosial bagi generasi muda.
Mengusung tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045”, peringatan tahun ini tidak semata diletakkan sebagai seremoni tahunan. Di baliknya terdapat pesan strategis tentang bagaimana generasi muda dipersiapkan agar memiliki daya cipta, ketangguhan, serta kemampuan mengolah potensi lokal menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat.
Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian adalah lomba kepramukaan berupa pembuatan obat tradisional berbahan tumbuhan berkhasiat obat serta minuman penyegar. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan kepramukaan dapat bergerak melampaui kegiatan baris-berbaris dan perkemahan, menuju pengenalan ilmu pengetahuan terapan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Tanaman seperti jahe, kunyit, kencur, dan lengkuas merupakan contoh kekayaan hayati yang selama ini tumbuh dan dikenal dalam tradisi pengobatan serta pangan masyarakat. Di tangan generasi muda yang memperoleh pengetahuan dan pendampingan yang tepat, komoditas tersebut memiliki peluang dikembangkan melalui konsep biofarmaka, yakni pemanfaatan tanaman berkhasiat obat sebagai bagian dari pengembangan produk bernilai ekonomi.
Dalam perspektif ilmiah populer, hilirisasi berarti mengubah bahan mentah menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Dengan demikian, pengenalan tanaman obat kepada anggota Pramuka bukan hanya memperkenalkan warisan pengetahuan lokal, tetapi juga membuka cakrawala mengenai rantai nilai: dari budidaya, pengolahan, pengemasan, hingga potensi pengembangan usaha.

Di sinilah relevansi tema Hari Pramuka ke-65 menemukan konteksnya. Swasembada pangan tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menyangkut kapasitas masyarakat mengelola sumber daya lokal secara produktif, berkelanjutan, dan berorientasi pada nilai tambah.
Dari Tanaman Pekarangan Menuju Potensi Ekonomi
Kegiatan lomba pembuatan obat tradisional dan minuman penyegar menyimpan dimensi human interest yang kuat. Anak-anak muda diperkenalkan kembali kepada tanaman yang mungkin tumbuh sederhana di sekitar rumah, tetapi sesungguhnya menyimpan potensi pengetahuan, ekonomi, dan budaya.
Ada semacam filosofi yang dapat dipetik: sesuatu yang tumbuh di tanah sendiri tidak semestinya selalu dipandang sederhana. Dengan ilmu pengetahuan, kreativitas, dan inovasi, tanaman yang selama ini berada di pekarangan dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi produktif.
Gagasan tersebut sejalan dengan pandangan Jemi Yusuf, Ketua Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Tolitoli, yang menyampaikan bahwa kegiatan kepramukaan, khususnya lomba pembuatan obat tradisional dan minuman penyegar, dapat menjadi bagian dari upaya mengenalkan serta mengembangkan hilirisasi tanaman berkhasiat obat untuk menunjang biofarmaka.
Menurutnya, pemanfaatan tanaman seperti jahe, kunyit, kencur, dan lengkuas dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk memahami pentingnya pengembangan potensi lokal.
Pramuka sebagai Ruang Pembelajaran Kehidupan
Secara lebih luas, gerakan Pramuka memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Nilai kedisiplinan, gotong royong, kreativitas, kepemimpinan, dan kecintaan terhadap lingkungan dapat dipadukan dengan pengetahuan praktis yang relevan dengan tantangan zaman.
Karena itu, kegiatan sederhana seperti meracik minuman berbahan tanaman berkhasiat obat dapat memiliki makna pendidikan yang lebih besar. Para peserta tidak hanya belajar membuat sebuah produk, tetapi juga belajar mengenali bahan baku, memahami manfaat tanaman, bekerja dalam kelompok, berinovasi, dan menghargai sumber daya alam di lingkungan mereka.
Dari sudut pandang pembangunan daerah, pola pendidikan semacam ini patut terus dikembangkan. Generasi muda bukan hanya diposisikan sebagai penerima manfaat pembangunan, melainkan sebagai subjek yang kelak menjadi pelaku ekonomi, inovator, dan penggerak kemandirian masyarakat.
Pada akhirnya, Hari Pramuka ke-65 di Tolitoli memberikan pesan bahwa perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang tidak tercerabut dari akar budaya dan kekayaan alamnya.
Pramuka dapat menjadi jembatan antara tradisi dan inovasi, antara tanaman yang tumbuh di tanah sendiri dengan gagasan ekonomi masa depan.
Sebab kemandirian tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat tumbuh dari sebidang tanah, sehelai daun, sepotong rimpang, dan dari tangan-tangan muda yang mau belajar mengubah potensi menjadi karya.
Sumber: Jemi Yusuf, Ketua Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Tolitoli. (LW.ID)

