TOLITOLI, LenteraWayracana.id — Di tengah denyut aktivitas perdagangan dan lalu-lalang masyarakat, suara bambu yang bergetar menghadirkan atmosfer berbeda di Pasar Susumbolan, Tolitoli, Sulawesi Tengah. Kesenian angklung Jawa Tengah tampil di ruang publik, membawa pesan bahwa tradisi masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat modern.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat, 11 September 2026, mulai pukul 08.00 WITA hingga selesai, dipimpin Muhammad Saleh bersama lima rekannya. Mereka melaksanakan aktivitas kesenian di kawasan Pasar Susumbolan, Tolitoli, Sulawesi Tengah.
Suara angklung yang dimainkan secara bersama-sama menjadi magnet tersendiri bagi lingkungan sekitar. Di antara kesibukan pasar yang identik dengan transaksi ekonomi, kesenian tradisional hadir sebagai ruang perjumpaan sosial, menghubungkan pelaku seni dengan masyarakat melalui bahasa universal: musik.
Angklung Hadir di Tengah Denyut Pasar
Pasar bukan hanya ruang pertukaran barang dan uang. Ia juga merupakan ruang sosial tempat masyarakat bertemu, berinteraksi, dan membangun pengalaman bersama.

Kehadiran kesenian angklung di Pasar Susumbolan memperlihatkan dimensi tersebut. Musik tradisional tidak ditempatkan semata-mata di atas panggung formal, tetapi dibawa langsung ke ruang kehidupan masyarakat.
Di tangan para pemainnya, bambu bukan sekadar material alam. Ia menjelma menjadi instrumen yang menghasilkan harmoni. Setiap bunyi memiliki perannya sendiri dan baru memperoleh makna ketika dimainkan secara bersama-sama.
Di situlah filosofi kesenian angklung menemukan relevansinya: harmoni tidak lahir dari satu suara, melainkan dari keberagaman bunyi yang dimainkan dalam keteraturan.
Muhammad Saleh dan Lima Rekannya Bawa Warna Budaya
Kegiatan yang dipimpin Muhammad Saleh bersama lima rekannya tersebut menjadi bagian dari aktivitas kesenian yang mempertemukan budaya dengan ruang publik.
Kehadiran mereka di Pasar Susumbolan sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berlangsung melalui cara-cara sederhana dan dekat dengan masyarakat.
Tidak selalu membutuhkan panggung megah atau gedung pertunjukan. Sebuah ruang publik pun dapat menjadi panggung kebudayaan ketika terdapat orang-orang yang bersedia menjaga tradisi tetap hidup.
Dari perspektif human interest, aktivitas tersebut menyimpan cerita tentang ketekunan para pelaku seni dalam mempertahankan ekspresi budaya. Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, mereka memilih untuk tetap menghadirkan suara tradisional kepada masyarakat.
Tradisi yang Menolak Menjadi Sekadar Kenangan
Modernisasi sering kali membawa konsekuensi berupa bergesernya perhatian generasi muda terhadap kesenian tradisional. Musik digital, budaya populer, dan perubahan gaya hidup membuat seni tradisi menghadapi tantangan regenerasi.
Namun, kehadiran angklung di ruang publik justru memperlihatkan kemungkinan lain: tradisi tidak harus bertahan dengan cara membeku di masa lalu.
Tradisi dapat bergerak, beradaptasi, dan hadir di tengah kehidupan masyarakat tanpa kehilangan akar budayanya.
Inilah yang membuat pertunjukan angklung di Pasar Susumbolan memiliki nilai lebih dari sekadar hiburan. Ia menjadi semacam dialog kebudayaan, antara warisan masa lalu dengan realitas masyarakat hari ini.
Secara sosial-kultural, aktivitas kesenian di ruang publik memiliki arti penting dalam menjaga keberlanjutan budaya. Ketika seni tradisional hadir langsung di tengah masyarakat, jarak antara pelaku seni dan penonton menjadi lebih pendek.
Model seperti ini juga membuka peluang agar kesenian tradisional tidak hanya dikenang sebagai warisan, tetapi dipahami sebagai praktik kebudayaan yang masih hidup.
Bagi Tolitoli, kehadiran kesenian dari luar daerah di ruang publik juga memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat menjadi jembatan pertemuan antardaerah. Perbedaan latar geografis tidak harus menjadi sekat; justru dapat menjadi sumber kekayaan dalam lanskap kebudayaan Indonesia.
Menjaga Harmoni di Tengah Perubahan
Jumat pagi di Pasar Sumbolan menjadi panggung kecil bagi sebuah pesan besar: kebudayaan akan tetap hidup selama masih ada manusia yang bersedia memainkannya, merawatnya, dan memperkenalkannya kepada generasi berikutnya.
Dari getaran bambu yang sederhana, terdengar sebuah pesan tentang identitas, kebersamaan, dan kesinambungan.
Sebab, pada akhirnya, warisan budaya bukan hanya sesuatu yang diwariskan dari masa lalu, tetapi sesuatu yang harus terus dihidupkan pada hari ini agar memiliki masa depan. (LW.id)

