TOLITOLI, LenteraWayracana.id — Optimalisasi musim tanam bukan sekadar persoalan menentukan waktu turun ke sawah. Di balik produktivitas pertanian dan keberlanjutan pangan, terdapat sejumlah faktor mendasar yang harus dipersiapkan secara terukur, mulai dari ketersediaan air irigasi, benih unggul, pupuk bersubsidi, hingga kesiapan sarana pengolahan lahan.

Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Rembuk Tani yang dilaksanakan pada Selasa (3/11/2026), menjelang Musim Tanam (MT) Oktober–Maret (Okmar) 2026/2027 di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah.
Forum ini menjadi ruang musyawarah dan koordinasi antara petani, Kelompok Tani (Poktan), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), pemerintah, sektor swasta, serta berbagai pemangku kepentingan pertanian untuk menyelaraskan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pertanian tanaman pangan.
Fokus pembahasan diarahkan pada kepastian jadwal turun bajak dan tanam, pengaturan pembukaan pintu air, ketersediaan alat pengolah tanah, bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, serta distribusi benih dan pupuk bersubsidi.
Seluruh agenda tersebut merupakan bagian penting dari implementasi Rencana Tata Tanam Global (RTTG), sebuah instrumen mitigasi sektor pertanian untuk menjaga keberlangsungan produksi, memperkuat ketahanan pangan, dan mendukung pencapaian swasembada pangan.
Tantangan Irigasi dan Optimalisasi 9.165 Hektare Sawah

Salah satu persoalan strategis yang menjadi perhatian adalah pengelolaan sumber daya air irigasi. Kabupaten Tolitoli memiliki sekitar 8.800 hektare lahan sawah irigasi, dengan kondisi jaringan irigasi yang mengalami kerusakan mencapai 48 persen.
Kondisi tersebut menuntut perencanaan distribusi air yang lebih cermat dan terukur. Sebab, kecukupan air merupakan faktor penentu keberhasilan pertumbuhan tanaman padi, terutama ketika memasuki fase-fase penting dalam siklus budidaya.
Pada MT Okmar 2026/2027, kebutuhan air harus diperhitungkan untuk melayani 9.165 hektare sawah Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), ditambah 110 hektare sawah hasil cetak baru pada 2025.
Sementara itu, realisasi luas tanam saat ini baru mencapai sekitar 76 persen dari total luas lahan LP2B.
Angka tersebut memperlihatkan masih adanya ruang yang perlu dioptimalkan. Tanpa pembenahan tata kelola air dan koordinasi antardaerah layanan irigasi, potensi lahan produktif berisiko tidak termanfaatkan secara maksimal.
Benih Unggul Menjadi Kunci Produktivitas
Selain persoalan infrastruktur, penggunaan benih unggul bersertifikat atau berlabel juga menjadi tantangan tersendiri.
Data yang disampaikan Ketua Fraksi Golkar DPRD Tolitoli, Jemi Yusuf, menunjukkan bahwa penggunaan benih unggul bersertifikat baru berada pada kisaran 10–15 persen.
Rendahnya tingkat penggunaan benih berkualitas tersebut perlu mendapat perhatian serius, mengingat produktivitas padi sawah di Tolitoli saat ini masih berada pada kisaran empat ton gabah kering giling (GKG) per hektare.
Benih unggul bersertifikat merupakan salah satu komponen penting dalam peningkatan produktivitas. Namun, peningkatan hasil panen tidak cukup hanya mengandalkan kualitas benih. Ketersediaan air, kesuburan tanah, pemupukan berimbang, pengendalian organisme pengganggu tanaman, serta ketepatan waktu tanam harus berjalan secara terpadu.
Dengan demikian, peningkatan produktivitas membutuhkan pendekatan pertanian yang tidak parsial, melainkan terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Penurunan Harga Pupuk Menjadi Insentif bagi Petani
Di tengah berbagai tantangan tersebut, kebijakan pemerintah menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen dari Harga Eceran Tertinggi (HET) menjadi salah satu instrumen insentif untuk membantu meringankan beban biaya produksi petani.
Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan petani dalam memenuhi kebutuhan pemupukan sekaligus memperkuat daya dukung sektor pertanian terhadap program swasembada pangan.
Namun, manfaat kebijakan tersebut akan lebih optimal apabila didukung ketepatan sasaran penerima, kelancaran distribusi, dan ketersediaan pupuk sesuai kebutuhan musim tanam.
RTTG dan Masa Depan Ketahanan Pangan Tolitoli
Rembuk Tani memiliki arti strategis karena mempertemukan kebutuhan riil petani dengan perencanaan pemerintah dan kebijakan sektor pertanian.
Dalam perspektif pembangunan pertanian, Rencana Tata Tanam Global bukan hanya dokumen penjadwalan kegiatan tanam. RTTG merupakan instrumen mitigasi untuk mengantisipasi persoalan ketersediaan air, mengatur pola tanam, mengurangi risiko kegagalan produksi, serta menjaga kesinambungan pasokan pangan.
Analisis LW.id:
Tantangan pertanian Tolitoli sesungguhnya tidak semata-mata terletak pada luas lahan yang tersedia, melainkan pada kemampuan mengelola seluruh potensi tersebut secara efektif.
Kerusakan jaringan irigasi yang mencapai 48 persen, realisasi luas tanam yang baru 76 persen, serta penggunaan benih unggul bersertifikat yang masih 10–15 persen merupakan tiga indikator yang membutuhkan perhatian dan langkah konkret.
Karena itu, Rembuk Tani seharusnya tidak berhenti pada forum diskusi dan penyamaan persepsi. Hasil musyawarah perlu diterjemahkan menjadi agenda kerja yang terukur, mulai dari prioritas rehabilitasi jaringan irigasi, pembagian air yang adil, penguatan penggunaan benih unggul, hingga pengawasan distribusi sarana produksi pertanian.
Pada akhirnya, keberhasilan musim tanam tidak hanya diukur dari berapa hektare sawah yang ditanami, tetapi juga dari seberapa besar peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani yang dapat diwujudkan.
Sebab, ketahanan pangan tidak dibangun hanya melalui kebijakan di atas kertas. Ia tumbuh dari ketersediaan air di saluran irigasi, benih berkualitas di tangan petani, pupuk yang tepat waktu, serta keberpihakan kebijakan yang benar-benar dirasakan masyarakat tani.
Sumber: Jemi Yusuf, Ketua Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Tolitoli


