MARTAPURA, SUMATERA SELATAN, LenteraWayracana.id | — Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Super Garuda Shield (SGS) 2026 tidak hanya menjadi panggung pengujian kemampuan militer dan interoperabilitas pasukan. Di tengah disiplin latihan yang sarat prosedur dan simulasi operasi, para prajurit dari berbagai negara menemukan ruang untuk membangun persahabatan melalui olahraga, budaya, dan interaksi lintas bangsa.

Momentum itu mengemuka dalam Sports and Cultural Day yang digelar di Lapangan Mako Puslatpur Kodiklat TNI AD, Martapura, Sumatera Selatan, Jumat (11/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi salah satu penanda puncak kebersamaan personel militer peserta SGS 2026.

Wakil Komandan Kodiklat TNI, Marsda TNI Bambang Gunarto, mewakili Komandan Kodiklat TNI Letjen TNI Mohamad Naudi Nurdika selaku Direktur Latihan, turut meninjau langsung rangkaian kegiatan.

Olahraga Menjadi Bahasa Universal
Sports Day menghadirkan atmosfer yang berbeda dari dinamika latihan militer. Prajurit dari berbagai negara berbaur dalam olahraga bersama serta permainan tradisional Indonesia.

Di lapangan, sekat-sekat kebangsaan seolah mencair. Seragam dan identitas satuan tetap melekat, tetapi interaksi berlangsung dalam suasana yang lebih cair dan humanis.
Lebih dari sekadar rekreasi, kegiatan tersebut memiliki dimensi strategis. Interaksi informal antarprajurit menjadi bagian dari Confidence Building Measures (CBM)—langkah membangun rasa percaya yang menjadi fondasi penting dalam kerja sama pertahanan multinasional.
Dalam konteks operasi gabungan, kemampuan teknis saja tidak selalu cukup. Komunikasi, pemahaman antarpersonel, serta kepercayaan terhadap mitra menjadi elemen yang turut menentukan efektivitas kerja sama di lapangan.
Budaya Indonesia Hadir di Tengah Prajurit Dunia
Sementara itu, Cultural Day memberikan kesempatan bagi Indonesia sebagai tuan rumah untuk memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada komunitas militer internasional.
Kearifan lokal, kesenian, tradisi, hingga makanan khas Indonesia diperkenalkan dalam suasana yang jauh dari formalitas ruang komando.
Pertemuan budaya semacam ini memiliki nilai diplomasi yang tidak kalah penting. Pertahanan bukan semata-mata tentang kemampuan menghadapi ancaman, tetapi juga tentang membangun jejaring kepercayaan antarmanusia yang kelak dapat menjadi modal sosial bagi hubungan antarnegara.
Pertukaran Wing Airborne
Rangkaian kegiatan juga diwarnai dengan pertukaran Wing Airborne kepada perwakilan peterjun dari lima negara peserta.
Simbol tersebut merepresentasikan penghargaan dan persahabatan di antara personel yang memiliki pengalaman serta kompetensi di bidang penerjunan.
Pada kesempatan yang sama, Marsda TNI Bambang Gunarto bersama Deputy Commanding General–Operations for the 4th Infantry Division, Brig Gen Ed Matthaidess III, secara resmi menutup Latgabma SGS 2026.
Latihan yang berlangsung pada 31 Agustus hingga 11 September 2026 tersebut melibatkan 4.743 personel dari 21 negara.
SGS 2026 dan Arti Penting Interoperabilitas
Secara strategis, SGS 2026 memperlihatkan bahwa latihan militer multinasional telah berkembang melampaui sekadar adu kemampuan taktis. Interoperabilitas—kemampuan berbagai unsur militer untuk bekerja secara terpadu—menjadi salah satu tujuan utama yang hendak dibangun.
Sports and Cultural Day memberi dimensi humanis terhadap keseluruhan rangkaian tersebut. Di balik peta operasi, prosedur komando, persenjataan, dan simulasi tempur, terdapat manusia yang harus mampu saling memahami ketika bekerja dalam satu kerangka operasi.
Dengan demikian, penutupan SGS 2026 bukan hanya menandai berakhirnya agenda latihan, melainkan juga menjadi refleksi atas proses panjang membangun kesiapsiagaan, kompatibilitas, dan kepercayaan di antara TNI dengan negara-negara sahabat.(LW.id)

