LENTERAWAYRACANA.ID, JAKARTA — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah memasuki fase yang menuntut kesiapsiagaan lebih tinggi. TNI memperkuat dukungan operasional dengan mengirimkan peralatan penanganan Karhutla dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) menuju Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Pengiriman dukungan tersebut dilakukan melalui Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu (12/9/2026), menggunakan pesawat angkut militer C-130 Hercules A-1333.

Sebanyak 128 koli dengan total berat 3.936 kilogram diberangkatkan untuk mendukung kebutuhan operasional penanganan Karhutla di lapangan.

Peralatan yang dikirim mencakup perangkat DJI Agras T-50, baterai, genset, kabel pengisi daya, portable charger, serta sejumlah perlengkapan pendukung lainnya.
Teknologi dan Logistik Jadi Penopang Operasi

Pengiriman tersebut bukan sekadar mobilisasi logistik, melainkan bagian dari upaya memperkuat ekosistem respons terhadap bencana ekologis yang setiap tahun menjadi tantangan serius di sejumlah wilayah Kalimantan.
Dalam perspektif penanganan bencana modern, kecepatan respons harus berjalan beriringan dengan kecukupan sarana. Personel yang terlatih tanpa dukungan peralatan yang memadai akan menghadapi keterbatasan ketika berhadapan dengan medan luas, kondisi cuaca dinamis, serta karakteristik kebakaran lahan yang sulit diprediksi.
Karena itu, dukungan perangkat dan perlengkapan operasional memiliki arti strategis untuk meningkatkan kemampuan pemantauan, respons, serta penanganan kebakaran secara lebih terukur.
Puspen TNI menyebut pengiriman peralatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapan dan kemampuan penanganan Karhutla di wilayah Kalimantan Tengah.
Sinergi Antarinstansi Menjadi Kunci
Karhutla bukan semata persoalan api yang membakar vegetasi. Di balik kepulan asap terdapat persoalan ekologis, kesehatan masyarakat, keselamatan penerbangan, aktivitas ekonomi, hingga keberlanjutan lingkungan.
Karena itu, penanganannya membutuhkan koordinasi lintas sektor. TNI bersama kementerian dan lembaga terkait terus mendorong penguatan sinergi agar dukungan personel, sarana, dan prasarana dapat diarahkan secara efektif sesuai kebutuhan di lapangan.
Pendekatan terpadu menjadi penting karena kebakaran yang terlambat dikendalikan dapat berkembang menjadi persoalan multidimensi. Semakin cepat titik api dideteksi dan ditangani, semakin besar peluang untuk mencegah api meluas dan mengurangi dampak terhadap masyarakat.
Menjaga Ruang Hidup dari Ancaman Api
Bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan rawan kebakaran, dukungan tersebut bukan sekadar angka berupa 128 koli atau hampir empat ton peralatan.
Di balik mobilisasi logistik itu terdapat satu kepentingan yang jauh lebih besar: menjaga ruang hidup masyarakat agar tidak berubah menjadi lanskap asap dan abu.
Hutan dan lahan bukan hanya hamparan vegetasi. Ia merupakan bagian dari ekosistem yang menopang kehidupan, menyimpan sumber daya air, menjadi habitat keanekaragaman hayati, sekaligus menjadi ruang sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
Karena itu, setiap langkah pencegahan dan penanganan Karhutla pada hakikatnya merupakan investasi terhadap keselamatan manusia dan keberlanjutan lingkungan.
TNI menegaskan komitmennya untuk terus mengoptimalkan dukungan dalam penanganan Karhutla bersama kementerian serta instansi terkait, baik melalui pengerahan personel maupun pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana.(LW.id)

