TOLITOLI, LenteraWayracana.id — Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Pondok Pesantren Adda’watunnubuwah, Kelurahan Dapalak, Kabupaten Tolitoli, tidak sekadar menjadi seremoni keagamaan. Di tengah kehidupan sosial yang bergerak semakin cepat, peringatan kelahiran Rasulullah SAW itu menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai kesabaran, ketekunan, serta pendidikan karakter sebagai fondasi masa depan generasi muda.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 12 September 2026, tersebut mengusung tema “Memupuk Sifat Sabar Guna Kesuksesan di Masa yang Akan Datang.” Sekitar 500 orang hadir, terdiri atas unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, santri, wali santri, serta masyarakat.

Kapolres Tolitoli dalam kegiatan tersebut diwakili Kanit Bhabinkamtibmas Satbinmas Polres Tolitoli, Aiptu S. Ragil Hidayat, S.H.

Hadir pula Sekretaris Daerah Kabupaten Tolitoli Moh. Asrul Bantilan, S.Sos., yang mewakili Bupati Tolitoli; Kepala Kementerian Agama Kabupaten Tolitoli Jumade, S.Ag.; Kepala Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Tolitoli H. Muhammadong, S.Ag.; Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Tolitoli Ustadz Moh. Falatehan, Lc., M.H.; perwakilan Danlanal Tolitoli; perwakilan Dandim 1305/Buol Tolitoli; serta sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Kesabaran sebagai Modal Kesuksesan

Pengasuh Pondok Pesantren Adda’watunnubuwah, Syukrianto Datu Amas, S.H., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh undangan yang hadir dan turut menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Menurutnya, kegiatan Maulid Nabi di lingkungan pesantren telah menjadi bagian dari tradisi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada perayaan keagamaan, tetapi juga memberikan ruang penghargaan terhadap proses belajar dan pencapaian para santri.
Salah satu rangkaian yang menjadi perhatian adalah penyerahan sertifikat kepada santri yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an, dengan kategori 5, 10, 20 hingga 30 juz.
Penghargaan juga diberikan kepada santri yang mencapai kemampuan sastra Arab serta penguasaan 2.000 kosakata bahasa Arab.
Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan pesantren tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Ia berusaha membentuk manusia melalui proses yang panjang: menghafal, memahami, mengulang, disiplin, dan pada akhirnya menumbuhkan kesabaran.
Dari Hafalan Al-Qur’an hingga Tradisi Budaya
Menariknya, rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan lomba budaya Bola Soji, yang diikuti 13 tim dari berbagai desa dan kelurahan.
Perpaduan antara pendidikan keagamaan dan kebudayaan lokal memberikan warna tersendiri dalam peringatan Maulid Nabi tersebut. Pesantren tidak hanya menjadi ruang pembelajaran agama, tetapi juga dapat menjadi simpul sosial yang mempertemukan tradisi, kebudayaan, pendidikan, dan kehidupan masyarakat.
Sekda Kabupaten Tolitoli, Moh. Asrul Bantilan, S.Sos., turut memberikan hadiah secara langsung kepada tim yang berhasil meraih juara pertama, kedua, dan ketiga.
Kehadiran pemerintah daerah dalam momentum tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya sinergi antara lembaga pendidikan keagamaan, pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam membangun sumber daya manusia.
Hikmah Maulid: Ketika Sabar Menjadi Jalan Panjang Menuju Kesuksesan
Hikmah Maulid disampaikan oleh Ustadz Moh. Falatehan, Lc., M.H. Pesan tentang kesabaran menjadi relevan dengan kehidupan generasi muda yang menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Dalam perspektif pendidikan karakter, kesabaran bukan berarti pasif menghadapi keadaan. Kesabaran merupakan kemampuan untuk bertahan dalam proses, mengendalikan diri ketika menghadapi tekanan, serta tetap menjaga orientasi pada tujuan yang baik.
Bagi seorang santri, proses menghafal Al-Qur’an hingga mencapai 30 juz merupakan contoh konkret bahwa capaian besar tidak lahir secara instan. Ada disiplin, konsistensi, pengorbanan dan ketekunan yang harus dijalani.
Maulid sebagai Ruang Merawat Peradaban
Peringatan Maulid Nabi di Ponpes Adda’watunnubuwah pada akhirnya menghadirkan pesan yang lebih luas: kesuksesan tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa cepat seseorang mencapai tujuan, tetapi juga oleh seberapa kuat ia mampu bertahan dalam proses.
Di tengah derasnya perubahan sosial dan teknologi, nilai-nilai seperti sabar, disiplin, ilmu pengetahuan, kecintaan terhadap Al-Qur’an, serta penghargaan terhadap budaya lokal menjadi modal penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.
Maulid Nabi pun menemukan maknanya sebagai ruang refleksi. Bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah SAW, melainkan menghadirkan kembali nilai-nilai keteladanan beliau dalam kehidupan nyata.(LW.id)

