LenteraWayracana.id — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI), penghormatan terhadap para pendahulu kembali diwujudkan melalui tradisi anjangsana. Kunjungan ini tidak sekadar menjadi simbol silaturahmi, tetapi juga ruang untuk merawat kesinambungan pengabdian, menyerap pengalaman, dan merefleksikan perjalanan institusi pertahanan negara.

Perwira Staf Ahli (Pasahli) Tk. III Bidang Banusia Panglima TNI, Laksamana Muda TNI Donny Suharto, didampingi Brigadir Jenderal TNI Wisnu Herlambang, melaksanakan anjangsana kepada mantan Panglima TNI, Laksamana TNI (Purn.) Agus Suhartono, di kediamannya, Cipayung, Jakarta Timur, Senin (21/9/2026).

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menjelang HUT ke-81 TNI sekaligus bentuk penghargaan atas pengabdian para senior yang telah berkontribusi dalam perjalanan organisasi TNI.

Anjangsana sebagai Wujud Penghormatan dan Penghargaan
Dalam kunjungan tersebut, Laksda TNI Donny Suharto menyampaikan bahwa anjangsana dilaksanakan mewakili Panglima TNI. Selain mempererat hubungan dengan para senior, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk menerima saran dan masukan demi kemajuan TNI pada masa mendatang.

“Anjangsana ini kami mewakili Panglima TNI untuk menerima saran dan masukan dari Laksamana untuk kemajuan TNI ke depan, sekaligus dalam rangka memperingati HUT ke-81 TNI,” ujar Laksda TNI Donny.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penghormatan kepada para purnawirawan tidak berhenti pada seremoni atau ungkapan terima kasih. Di dalamnya terdapat upaya menjaga komunikasi antargenerasi, dengan pengalaman kepemimpinan masa lalu sebagai salah satu sumber pembelajaran bagi perjalanan organisasi ke depan.
Apresiasi Keluarga Mantan Panglima TNI
Dalam kesempatan itu, Laksamana TNI (Purn.) Agus Suhartono tidak dapat menerima kunjungan secara langsung karena sedang berkegiatan di tempat lain. Ibu Tetty Agus Suhartono hadir mewakili beliau dan menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan oleh TNI.
“Saya mewakili Bapak mengucapkan terima kasih atas kunjungan anjangsana ini. Kami merasa masih diperhatikan oleh TNI walaupun Bapak sudah purna tugas,” ujar Ibu Tetty Agus Suhartono.
Ungkapan tersebut menghadirkan dimensi human interest dalam kegiatan yang berlangsung. Di balik struktur organisasi dan perjalanan karier militer, terdapat ikatan emosional yang tetap terpelihara setelah masa pengabdian formal berakhir.
Bagi keluarga purnawirawan, perhatian semacam ini memiliki makna tersendiri. Silaturahmi menjadi penanda bahwa kontribusi seseorang terhadap institusi tidak serta-merta terputus ketika ia meninggalkan jabatan.
Refleksi Pengabdian dan Kesinambungan Generasi
Anjangsana kepada mantan Panglima TNI menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 TNI yang tidak hanya berorientasi pada seremoni, tetapi juga mengandung pesan reflektif tentang sejarah dan kesinambungan pengabdian.
Dalam perspektif kelembagaan, pengalaman para pendahulu dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memahami dinamika organisasi, kepemimpinan, serta tantangan pertahanan yang terus berkembang. Namun, nilai pengalaman tersebut akan semakin bermakna apabila diikuti dengan keterbukaan untuk mendengar, mengkaji, dan menyesuaikannya dengan kebutuhan zaman.
Tradisi penghormatan kepada senior juga mencerminkan pentingnya menjaga hubungan antargenerasi dalam tubuh TNI. Pengabdian masa lalu dan tanggung jawab generasi saat ini merupakan bagian dari satu mata rantai perjalanan institusi.
HUT ke-81 TNI, Momentum Meneguhkan Nilai Pengabdian
Peringatan HUT ke-81 TNI menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para pendahulu sekaligus memperkuat kesadaran akan tanggung jawab pengabdian kepada bangsa dan negara.
Melalui anjangsana tersebut, TNI menunjukkan perhatian kepada para senior yang telah menorehkan bagian penting dalam sejarah organisasi. Kunjungan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kemajuan institusi tidak hanya dibangun melalui pembaruan dan penguatan kapasitas, tetapi juga melalui penghargaan terhadap pengalaman serta nilai-nilai pengabdian yang diwariskan.
Pada akhirnya, silaturahmi lintas generasi bukan sekadar merawat kenangan. Ia merupakan jembatan yang menghubungkan sejarah dengan masa depan, tempat penghormatan, pengalaman, dan semangat pengabdian terus menemukan relevansinya. (LW.id)

