JAKARTA , LenteraWayracana.id | — Di tengah perubahan lingkungan strategis yang bergerak semakin dinamis, kekuatan sebuah institusi tidak semata-mata diukur dari kecanggihan teknologi dan kemampuan operasionalnya. Ada dimensi lain yang kerap tak kasatmata, tetapi menjadi fondasi penting: ingatan kolektif, pengalaman, solidaritas, dan kesinambungan nilai pengabdian.

Semangat itulah yang mewarnai anjangsana Kababinkum dan HAM TNI Laksda TNI Farid Ma’ruf, S.H., M.H. bersama Waaspers Panglima TNI Brigjen TNI Iwan Setiawan, S.I.P., M.Han., beserta rombongan ke kediaman sesepuh TNI, Jenderal TNI (Purn.) A.M. Hendropriyono, di Gedung Kraton Majapahit, Ceger, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (22/9/2026).

Kegiatan tersebut, sebagaimana dilaporkan Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI), menjadi bagian dari rangkaian silaturahmi dengan para sesepuh dan purnawirawan TNI.

Namun, anjangsana tidak sekadar dapat dibaca sebagai agenda seremonial. Di balik pertemuan antargenerasi itu terdapat proses pewarisan pengalaman—sebuah mekanisme sosial yang memungkinkan nilai, pengetahuan, dan perspektif strategis tidak terputus oleh pergantian generasi.
Ketika Pengalaman Senior Bertemu Tantangan Zaman

Pertemuan berlangsung dalam suasana keakraban. Rombongan TNI tidak hanya menjalin komunikasi dengan salah satu figur senior, tetapi juga menyerap pandangan mengenai perkembangan lingkungan strategis serta perubahan teknologi yang semakin memengaruhi karakter pertahanan modern.
Dalam konteks tersebut, pengalaman para purnawirawan memiliki posisi tersendiri. Mereka merupakan bagian dari sejarah perjalanan organisasi yang pernah menghadapi tantangan pada zamannya, sementara generasi aktif menghadapi lanskap ancaman yang terus berevolusi.
Jenderal TNI (Purn.) A.M. Hendropriyono dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasi terhadap semakin terintegrasinya kesatuan di lingkungan TNI serta terpeliharanya jiwa korsa antara prajurit aktif dan purnawirawan.
Ia juga berpesan agar kemampuan TNI terus dikembangkan mengikuti perubahan zaman dan teknologi, termasuk dalam konteks kemampuan bertempur dan menghadapi perang.
«“Saya bangga terhadap kesatuan dalam TNI yang semakin terintegrasi. Saya hargai terjalinnya rasa jiwa korsa antara prajurit TNI dengan purnawirawan,” ujar Hendropriyono, sebagaimana dikutip dari keterangan Puspen TNI.»
Pesan tersebut sekaligus menempatkan teknologi bukan sebagai tujuan akhir, melainkan instrumen yang harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia, kemampuan organisasi, dan adaptasi terhadap perubahan karakter konflik.
Merawat Jiwa Korsa, Menjaga Kesinambungan Institusi
Dalam perspektif organisasi, jiwa korsa berfungsi sebagai perekat identitas dan solidaritas kelompok. Sementara dalam konteks militer, kohesi tersebut mempunyai arti yang lebih luas karena berkaitan dengan kepercayaan, koordinasi, dan kesinambungan nilai pengabdian.
Anjangsana kepada sesepuh TNI menjadi salah satu ruang informal untuk mempertemukan pengalaman masa lalu dengan kebutuhan masa kini.
Ada sesuatu yang bersifat human interest dalam pertemuan semacam ini: seorang senior yang pernah berada di garis pengabdian bertemu dengan generasi yang kini memikul tanggung jawab institusi. Di antara keduanya terbentang waktu, tetapi dipertautkan oleh satu benang merah—pengabdian kepada bangsa dan negara.
Teknologi Berubah, Nilai Pengabdian Tetap Menjadi Fondasi
Perkembangan teknologi pertahanan telah mengubah cara negara membaca ancaman. Transformasi digital, sistem persenjataan modern, informasi, dan perkembangan teknologi strategis menuntut organisasi militer untuk terus beradaptasi.
Akan tetapi, kecanggihan teknologi tanpa fondasi manusia dan organisasi yang kuat berpotensi kehilangan makna strategisnya.
Karena itu, pesan untuk terus mengembangkan kekuatan dan kemampuan menghadapi perkembangan zaman dapat dibaca sebagai dorongan agar proses modernisasi TNI berjalan beriringan dengan penguatan profesionalisme dan kesiapan personel.
Di titik inilah anjangsana menemukan maknanya yang lebih dalam. Ia bukan sekadar perjalanan menemui seorang sesepuh, melainkan bagian dari upaya menjaga kesinambungan memori institusi.
Pengalaman tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia dapat menjadi bahan refleksi bagi generasi berikutnya dalam membaca perubahan zaman.
Menjembatani Generasi, Memperpanjang Ingatan Pengabdian
Kegiatan tersebut diharapkan semakin mempererat silaturahmi dan jiwa korsa antara generasi penerus TNI dengan para sesepuh serta purnawirawan.
Bagi sebuah institusi yang telah melewati perjalanan panjang, hubungan antargenerasi merupakan modal sosial yang tidak sederhana. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan sejarah, pengalaman, dan tuntutan masa depan.
Pada akhirnya, modernisasi tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Sebaliknya, kemajuan yang matang justru membutuhkan kemampuan untuk membaca kembali pengalaman terdahulu, memilah nilai yang tetap relevan, lalu menerjemahkannya ke dalam tantangan baru.(LW.id)

