PALEMBANG, LENTERAWAYRACANA.ID – Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan terus diperkuat melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). TNI bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta unsur gabungan mengerahkan kekuatan udara untuk membantu meningkatkan potensi hujan sekaligus menekan ancaman kabut asap yang berisiko mengganggu kehidupan masyarakat.

Dalam operasi yang berlangsung Minggu (1/11/2026), Satuan Tugas (Satgas) Udara Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH) melaksanakan penyemaian sebanyak 7,2 ton natrium klorida (NaCl) di kawasan sasaran wilayah Sumatera Selatan.

Pengerahan bahan semai tersebut dilakukan menggunakan dua jenis pesawat TNI Angkatan Udara, yakni Cassa NC-212 dan Hercules C-130. Kedua armada ini menjadi bagian dari strategi intervensi atmosfer untuk mendukung pembentukan hujan pada kondisi awan yang memenuhi parameter meteorologis.

Hujan Terpantau di Sembilan Wilayah Sumatera Selatan
Berdasarkan pemantauan BMKG melalui radar cuaca, penakar hujan, serta laporan lapangan, kegiatan penyemaian tersebut diikuti terjadinya hujan di sejumlah daerah.

Wilayah yang dilaporkan mengalami hujan meliputi Kota Palembang, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin, Banyuasin, OKU Timur, Muara Enim, Prabumulih, dan Musi Rawas Utara.
Capaian tersebut menjadi indikator penting dalam pelaksanaan OMC, meskipun hubungan antara penyemaian dan hujan tetap perlu dianalisis berdasarkan kondisi atmosfer serta data meteorologis secara menyeluruh.
Intervensi Cuaca dan Tantangan Penanganan Karhutla
Secara strategis, Operasi Modifikasi Cuaca tidak sekadar menjadi tindakan teknis untuk memicu potensi hujan. Lebih dari itu, operasi ini merupakan bagian dari pendekatan mitigasi bencana yang mengintegrasikan kemampuan pertahanan udara, keahlian meteorologi, dan koordinasi lintas instansi.
Di tengah ancaman Karhutla, setiap peluang turunnya hujan memiliki arti penting bagi masyarakat, terutama dalam membantu menjaga kelembapan lahan, mengurangi potensi penyebaran api, serta memperbaiki kondisi kualitas udara.
Namun, efektivitas penanganan Karhutla tetap membutuhkan langkah komprehensif, mulai dari pemadaman titik api, pengawasan kawasan rawan, pencegahan pembakaran lahan, hingga perlindungan kesehatan masyarakat.
Pengerahan armada udara TNI secara berkelanjutan memperlihatkan pentingnya sinergi antarlembaga dalam menghadapi bencana ekologis. Sebab, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan memadamkan api, melainkan juga memastikan keselamatan manusia dan keberlanjutan kehidupan di masa mendatang.


