BANJARBARU, LenteraWayracana.id — Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan tak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga menguji efektivitas penanganan bencana yang membutuhkan koordinasi lintas sektor. Di tengah kondisi tersebut, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi salah satu ikhtiar pemerintah untuk memanfaatkan potensi atmosfer dalam membantu mengurangi dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Dalam perkembangan operasi pada Rabu, 23 September 2026, Lanud Sjamsudin Noor di Banjarbaru turut memperkuat dukungan terhadap pelaksanaan OMC di wilayah Kalimantan.

Dukungan tersebut menjadi semakin penting setelah pusat operasi OMC diarahkan ke Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru. Sebelumnya, kegiatan operasi dari Bandara Tjilik Riwut menghadapi kendala akibat jarak pandang yang terganggu oleh kabut asap di Kalimantan Tengah.

Perubahan titik operasi bukan sekadar perpindahan lokasi. Dalam perspektif kebencanaan, keberadaan pangkalan yang mampu mendukung mobilitas pesawat operasi merupakan bagian penting dari rantai respons terhadap bencana yang bergerak dinamis mengikuti kondisi cuaca dan atmosfer.
OMC Memanfaatkan Potensi Awan Hujan

Secara ilmiah, operasi modifikasi cuaca berupaya memanfaatkan kondisi atmosfer yang tersedia untuk mendorong terjadinya hujan di wilayah sasaran. Dalam konteks penanganan Karhutla, hujan diharapkan dapat membantu meningkatkan kelembapan lahan, menekan potensi penyebaran api, sekaligus mengurangi konsentrasi asap di wilayah terdampak.
Namun, efektivitas OMC tetap bergantung pada kondisi atmosfer. Operasi tersebut bukan mekanisme untuk menciptakan hujan dari ketiadaan, melainkan intervensi terhadap sistem awan yang memenuhi parameter tertentu.
Karena itu, dukungan pangkalan udara, informasi meteorologi serta koordinasi antarlembaga menjadi mata rantai yang saling berkaitan.
Lanud Sjamsudin Noor Dukung Kesiapan Operasional
Dalam pelaksanaan OMC, Lanud Sjamsudin Noor mendukung kesiapan operasional penerbangan, koordinasi serta kelancaran aktivitas pesawat yang digunakan dalam operasi modifikasi cuaca.
Dukungan tersebut berlangsung dalam kerangka sinergi bersama pemerintah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), TNI serta unsur terkait lainnya.
Bagi masyarakat yang berada di kawasan terdampak, langkah tersebut memiliki dimensi yang lebih luas. Karhutla bukan hanya persoalan titik api di atas hamparan lahan, melainkan dapat menjalar menjadi persoalan kesehatan, mobilitas masyarakat, kualitas udara hingga keselamatan penerbangan.
Kabut asap, dalam konteks itu, adalah semacam tirai kelabu yang mengaburkan batas antara persoalan lingkungan dan keselamatan publik.
Sinergi Menjadi Kunci Penanganan Karhutla
Penanganan Karhutla membutuhkan pendekatan berlapis. Pemadaman di lapangan tetap menjadi instrumen utama ketika kebakaran terjadi, sementara OMC dapat menjadi bagian dari strategi pendukung ketika kondisi atmosfer memungkinkan.
Karena itu, keberadaan Lanud Sjamsudin Noor sebagai salah satu titik dukungan operasi memberikan arti strategis terhadap mobilitas dan kesiapan unsur udara dalam menghadapi situasi kebencanaan di Kalimantan.
Dari perspektif penanggulangan bencana, koordinasi lintas institusi menjadi faktor penting. Data meteorologi, kesiapan penerbangan, kondisi lapangan serta kebutuhan operasi harus bergerak dalam satu irama agar respons terhadap Karhutla dapat berlangsung efektif.
Melalui dukungan terhadap OMC tersebut, Lanud Sjamsudin Noor menegaskan perannya dalam membantu pemerintah menangani dampak Karhutla sekaligus mendukung keselamatan masyarakat dan kelancaran aktivitas penerbangan. (LW.id)

