TOLITOLI — LenteraWayracana.id | Ketika air bersih menjadi urat nadi kehidupan warga, kerusakan sebuah bak penampungan bukan sekadar persoalan infrastruktur. Di Dusun Patabakoan, Desa Kongkomos, Kecamatan Basidondo, Kabupaten Tolitoli, akses terhadap air bersih menyentuh langsung kebutuhan paling elementer masyarakat: memasak dan mencuci.

Kondisi tersebut mendorong Bhabinkamtibmas Desa Kongkomos, Bripka Ruslan, bersama masyarakat melaksanakan gotong royong memperbaiki bak penampungan air bersih yang mengalami kerusakan.
Kegiatan berlangsung pada Kamis, 24 September 2026, sekitar pukul 07.30 WITA, di Dusun Patabakoan.
Bak Rusak, Aktivitas Warga Terganggu
Berdasarkan laporan yang diterima, kerusakan terjadi pada bagian bawah lantai bak penampungan. Struktur bangunan mengalami kerusakan setelah bagian samping bak berulang kali terkikis akibat banjir.

Selain faktor alam, usia bangunan yang telah lama digunakan turut menjadi salah satu faktor yang memperbesar kerusakan.
Akibatnya, bak tidak lagi mampu menampung air secara optimal. Padahal, fasilitas tersebut merupakan salah satu sumber air bersih yang dimanfaatkan masyarakat Dusun Patabakoan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Persoalan air dalam konteks kehidupan masyarakat pedesaan bukan hanya mengenai ketersediaan sumber daya, melainkan juga menyangkut keberlanjutan akses. Ketika tempat penampungan mengalami kerusakan, mata rantai pelayanan kebutuhan dasar masyarakat ikut terancam.
Material Diangkut Secara Gotong Royong
Dalam kegiatan tersebut, Bhabinkamtibmas bersama warga tidak hanya melakukan pekerjaan teknis pada bagian bak yang rusak. Mereka terlebih dahulu mengangkut material berupa pasir dan semen dari Kampung RT 2 menuju lokasi pekerjaan.
Jarak yang harus ditempuh mencapai sekitar satu kilometer.
Material tersebut diangkut secara gotong royong menuju lokasi bak penampungan. Warga juga mengumpulkan batu di sekitar lokasi yang kemudian dimanfaatkan sebagai bagian dari pondasi lantai bak.
Setelah material terkumpul, pekerjaan dilanjutkan dengan pencampuran pasir dan semen serta pemasangan material pada bagian bak yang mengalami kerusakan.
Aktivitas sederhana itu memperlihatkan bahwa pembangunan dan pemeliharaan fasilitas publik di tingkat desa tidak selalu bertumpu pada pendekatan struktural. Dalam kondisi tertentu, partisipasi warga menjadi energi sosial yang memungkinkan sebuah kebutuhan dasar tetap dipertahankan.
Gotong Royong Menjadi Modal Sosial
Keterlibatan Bhabinkamtibmas dalam kegiatan tersebut juga memperlihatkan fungsi kepolisian yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Di luar tugas menjaga keamanan dan ketertiban, kehadiran Bhabinkamtibmas di tengah warga dapat menjadi ruang untuk membangun komunikasi, kepedulian, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan.
Dalam perspektif sosial, gotong royong merupakan modal sosial yang memiliki nilai strategis. Ia bekerja bukan hanya melalui tenaga, tetapi juga melalui rasa memiliki terhadap fasilitas yang digunakan bersama.
Perbaikan bak air di Dusun Patabakoan dengan demikian tidak semata-mata dapat dilihat sebagai pekerjaan memperbaiki konstruksi bangunan. Di balik semen, pasir, dan batu yang dipasang kembali, terdapat kebutuhan masyarakat untuk mempertahankan akses terhadap air bersih.
Dan di tengah keterbatasan, masyarakat menunjukkan satu hal yang sederhana tetapi fundamental: persoalan bersama akan lebih ringan ketika dikerjakan secara bersama-sama.(LW.id)

