TOLITOLI, LenteraWayracana.id — Membangun keamanan bukan semata-mata tentang penegakan hukum, melainkan juga menghadirkan ruang dialog, merawat kepercayaan, dan mendengarkan persoalan masyarakat secara langsung. Semangat inilah yang mewarnai kegiatan Minggu Kasih Polsek Dako Pemean di GPDI Alfa Omega, Desa Kapas, Kabupaten Tolitoli, Minggu (18/10/2026).

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 08.40 WITA tersebut dipimpin Kapolsek Dako Pemean, IPDA Ismail Mappiasse, bersama personel Polsek, Pendeta Hanny Pongantung, serta jemaat GPDI Alfa Omega. Mengusung tagline “Polisi Bersama Masyarakat”, kegiatan ini menjadi sarana komunikasi untuk memperkuat hubungan kepolisian dengan warga lintas lingkungan sosial dan keagamaan.

Dialog Interaktif, Dengarkan Persoalan Warga
Dalam pertemuan tersebut, polisi berdialog secara interaktif dengan jemaat mengenai berbagai keluhan dan persoalan yang muncul di lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar. Melalui komunikasi terbuka, warga diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi, sementara kepolisian memberikan saran dan masukan agar persoalan dapat diselesaikan secara baik, bijaksana, dan mengedepankan dialog.

Secara sosial, pendekatan ini memiliki arti strategis. Keamanan dan ketertiban masyarakat tidak hanya bergantung pada respons aparat ketika pelanggaran terjadi, tetapi juga pada kemampuan membangun komunikasi, mencegah konflik, dan menumbuhkan kesadaran bersama sejak dini.
Cegah Karhutla dan Optimalkan Layanan Polisi 110
Selain menyerap aspirasi warga, Polsek Dako Pemean mengingatkan jemaat mengenai bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Masyarakat yang beraktivitas di kebun diimbau menghindari pembakaran lahan, terutama pada musim kemarau yang meningkatkan risiko api meluas dan sulit dikendalikan.

Polisi juga mengajak masyarakat memanfaatkan layanan 110 secara bijak dengan menyampaikan informasi yang benar, jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan. Warga diingatkan agar tidak melakukan panggilan palsu maupun menyalahgunakan layanan tersebut.
Keamanan Berawal dari Kepedulian Bersama
Kegiatan Minggu Kasih memperlihatkan bahwa pemeliharaan kamtibmas membutuhkan kolaborasi antara aparat, tokoh agama, dan masyarakat. Dialog yang konsisten dapat menjadi jembatan untuk mendeteksi persoalan lebih awal sekaligus memperkuat solidaritas sosial.
Bagi masyarakat, keamanan bukan sekadar kondisi tanpa gangguan, melainkan juga hadirnya rasa aman untuk menyampaikan keluhan dan memperoleh perhatian. Sementara bagi kepolisian, kepercayaan publik merupakan modal penting dalam menjalankan tugas secara profesional dan humanis.

