LENTERAWAYRACANA.ID | TOLITOLI — Membangun keamanan dan ketertiban masyarakat tidak cukup hanya melalui penegakan hukum. Komunikasi yang terbuka, kehadiran aparat di tengah masyarakat, serta kesediaan mendengarkan aspirasi warga menjadi fondasi penting bagi terciptanya kehidupan sosial yang aman dan harmonis.

Semangat tersebut tercermin dalam kegiatan Minggu Kasih yang dilaksanakan Kapolres Tolitoli AKBP Raden Real Mahendra, S.H., S.I.K., di Gereja GKKA, Jalan Katamsi Nomor 8, Kelurahan Panasakan, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, Minggu (25/10/2026), pukul 10.00 WITA.

Dalam kegiatan itu, Kapolres didampingi Kabag Log Polres Tolitoli AKP Dickry Sutardjo. Pertemuan tersebut menjadi ruang komunikasi antara kepolisian dan jemaat untuk memperkuat kesadaran bersama mengenai pentingnya keamanan, ketertiban, serta kepedulian terhadap persoalan sosial di lingkungan masyarakat

Minggu Kasih, Ruang Dialog antara Polisi dan Masyarakat
Dalam agenda tersebut, Kapolres Tolitoli menyampaikan imbauan mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba dan penggunaan knalpot brong yang dapat mengganggu kenyamanan serta ketertiban masyarakat.


Penyampaian pesan tersebut menegaskan pentingnya pendekatan preventif dalam menjaga keamanan. Pencegahan tidak hanya bertumpu pada tindakan hukum setelah pelanggaran terjadi, tetapi juga pada edukasi, peningkatan kesadaran, dan partisipasi masyarakat sebelum persoalan berkembang menjadi gangguan yang lebih luas.

Narkoba, misalnya, bukan semata-mata persoalan pelanggaran hukum. Penyalahgunaannya juga dapat membawa konsekuensi terhadap kesehatan, ketahanan keluarga, produktivitas, dan masa depan generasi muda. Karena itu, upaya pencegahan membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat, termasuk keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, dan aparat penegak hukum.

Sementara itu, penggunaan knalpot brong yang menimbulkan kebisingan dapat mengganggu kenyamanan warga serta aktivitas sosial dan keagamaan. Kesadaran untuk menaati aturan lalu lintas dan menghormati hak orang lain merupakan bagian dari budaya tertib yang perlu terus ditumbuhkan.
Menampung Keluhan, Memperkuat Kepercayaan Publik
Selain menyampaikan imbauan, Kapolres juga menerima masukan dan keluhan masyarakat melalui sesi tanya jawab. Forum ini memberikan kesempatan kepada jemaat untuk menyampaikan persoalan yang menjadi perhatian mereka.
Dalam perspektif pelayanan publik, dialog langsung memiliki arti strategis. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai pihak yang menerima imbauan, tetapi juga sebagai mitra yang memiliki pengalaman, kebutuhan, dan informasi penting mengenai kondisi keamanan di lingkungannya.
Komunikasi dua arah semacam ini dapat membantu kepolisian memahami persoalan secara lebih kontekstual. Pada saat yang sama, masyarakat memperoleh ruang untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka.
Kepercayaan publik pada akhirnya tidak terbentuk hanya melalui pernyataan atau simbol kehadiran aparat. Kepercayaan tumbuh ketika komunikasi berlangsung secara konsisten, keluhan ditanggapi secara proporsional, dan pelayanan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Kegiatan Minggu Kasih dapat dipandang sebagai bagian dari pendekatan pemolisian yang mengedepankan kedekatan sosial dan pencegahan. Dalam pendekatan ini, keamanan bukan semata-mata hasil dari tindakan represif, melainkan buah dari kolaborasi antara aparat dan masyarakat.
Kehadiran kepolisian di lingkungan rumah ibadah juga menghadirkan ruang perjumpaan yang relevan bagi penguatan toleransi dan kerukunan. Rumah ibadah bukan hanya tempat menjalankan aktivitas spiritual, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial yang dapat menjadi ruang dialog, kepedulian, dan pembentukan kesadaran bersama.
Meski demikian, efektivitas kegiatan semacam ini perlu ditopang oleh kesinambungan. Imbauan mengenai bahaya narkoba dan ketertiban lalu lintas akan lebih bermakna apabila disertai edukasi berkelanjutan, saluran pengaduan yang mudah diakses, serta tindak lanjut yang jelas terhadap aspirasi masyarakat.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan Minggu Kasih tidak berhenti pada terlaksananya pertemuan, tetapi juga pada sejauh mana komunikasi tersebut mendorong perubahan perilaku, memperkuat rasa aman, dan membangun hubungan yang semakin responsif antara kepolisian dan warga.
Merawat Keamanan, Menumbuhkan Harmoni
Kegiatan Minggu Kasih di Gereja GKKA Tolitoli menjadi pengingat bahwa keamanan merupakan tanggung jawab bersama. Polisi membutuhkan partisipasi masyarakat, sementara masyarakat membutuhkan pelayanan yang terbuka, profesional, dan dapat dipercaya.
Di tengah beragam tantangan sosial, dialog yang dibangun dengan sikap saling menghormati menjadi jembatan untuk merawat persatuan. Sebab, keamanan yang kokoh bukan hanya ditandai oleh minimnya gangguan, melainkan juga oleh tumbuhnya kesadaran warga untuk menjaga ketertiban, menghormati sesama, dan menyelesaikan persoalan melalui komunikasi yang konstruktif.


