LenteraWayracana.id | BEKASI — Di tengah derasnya arus informasi digital dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), kemampuan berpikir kritis menjadi benteng penting untuk menjaga persatuan bangsa. Mahasiswa dituntut tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga insan intelektual yang mampu memilah fakta, menguji kebenaran, dan menangkal provokasi di ruang digital.

Pesan tersebut ditegaskan Komandan Pusat Teritorial TNI Angkatan Darat (Danpusterad), Letjen TNI Dr. Mohamad Hasan, S.H., M.H., saat membuka kegiatan Silaturahmi Kebangsaan dengan Civitas Akademika di Ballroom Hotel Harison Ultima Bekasi, Jawa Barat, Kamis (29/10/2026).

Kegiatan bertema “Sinergi TNI AD dan Mahasiswa Mewujudkan Generasi Cerdas, Kritis, dan Berdaya Saing sebagai Pemimpin Masa Depan di Era AI dan Perang Informasi” itu diikuti perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia beserta para dosen.

Perang Kognitif, Ancaman di Balik Layar Digital
Dalam sambutannya, Danpusterad menyoroti perubahan karakter ancaman di era modern. Konflik tidak lagi semata-mata berlangsung melalui kekuatan fisik dan persenjataan, tetapi juga melalui perang informasi dan perang kognitif yang menyasar pola pikir, emosi, serta persepsi masyarakat.


Hoaks, disinformasi, dan konten yang belum terverifikasi berpotensi memicu keresahan hingga memperlebar perpecahan sosial apabila diterima tanpa penalaran kritis.
“Informasi yang ramai diperbincangkan belum tentu benar. Karena itu, kita harus mampu menjadi penjaga kebenaran di ruang digital dengan membiasakan diri memeriksa dan memverifikasi setiap informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya,” tegasnya.
Pesan tersebut menempatkan literasi digital sebagai kebutuhan mendasar. Di tengah algoritma media sosial yang dapat mempercepat penyebaran konten, kecepatan menerima informasi harus diimbangi dengan ketelitian memeriksa sumber, konteks, dan validitasnya.
Bela Negara dalam Lanskap Teknologi
Danpusterad menegaskan, bela negara bukan hanya tanggung jawab TNI, melainkan kewajiban seluruh elemen bangsa, termasuk mahasiswa. Dalam ruang digital, semangat kebangsaan dapat diwujudkan melalui perilaku bermedia sosial yang bertanggung jawab, penolakan terhadap provokasi, serta komitmen menjaga persatuan.
Ia juga mengingatkan agar AI dimanfaatkan untuk mendorong kemajuan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, bukan sebagai sarana memproduksi informasi menyesatkan atau merugikan pihak lain.
Mahasiswa diharapkan mengembangkan critical thinking, memperluas wawasan kebangsaan, dan mengambil peran sebagai agen perubahan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Mahasiswa sebagai Penjaga Nalar Publik
Secara lebih luas, tantangan era AI bukan semata-mata persoalan kecanggihan teknologi, melainkan kesiapan manusia menggunakannya secara etis dan bertanggung jawab. Kecakapan digital tanpa integritas dapat menjadi celah bagi manipulasi informasi, sedangkan pengetahuan yang disertai nalar kritis dapat memperkuat ketahanan sosial.
Melalui forum tersebut, Pusterad mendorong mahasiswa dan kalangan akademisi untuk aktif berdiskusi, memperdalam pemahaman kebangsaan, serta membangun sinergi dengan TNI AD dalam menghadapi tantangan informasi modern.
Pada akhirnya, menjaga bangsa di era digital tidak cukup dengan menguasai teknologi. Dibutuhkan kejernihan berpikir, kedewasaan menyikapi perbedaan, dan tanggung jawab moral agar ruang digital menjadi wahana pencerdasan, bukan ladang perpecahan.


