Halmahera Timur, LenteraWayracana.id | – Di tengah deru pekerjaan pembangunan yang menjadi denyut utama pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 1505/Tidore, sebuah pemandangan sederhana justru menghadirkan makna yang lebih dalam. Senin (3/8/2026), anggota Satgas TMMD bersama masyarakat Kecamatan Wasile Tengah, Kabupaten Halmahera Timur, duduk berbaur menikmati makan siang di sela-sela aktivitas pekerjaan.
Tak ada jarak antara seragam loreng dan pakaian warga. Di atas sajian sederhana yang disiapkan secara gotong royong, percakapan mengalir dalam suasana akrab. Canda dan tawa sesekali mengiringi waktu istirahat, mencairkan kepenatan setelah bekerja bersama menyelesaikan sasaran fisik program TMMD.
Momen tersebut tampak sederhana, tetapi secara sosial memiliki arti yang cukup substansial. Makan bersama menjadi ruang interaksi informal yang mempertemukan TNI dan masyarakat dalam posisi yang setara—bukan semata sebagai pelaksana dan penerima manfaat pembangunan, melainkan sebagai bagian dari satu komunitas yang saling menopang.
Dan SSK TMMD ke-129 Kodim 1505/Tidore, Kapten Inf Fardi Ruslan, mengatakan kebersamaan tersebut tidak sekadar menjadi kesempatan untuk melepas lelah setelah bekerja.
Menurutnya, interaksi langsung dengan masyarakat merupakan bagian penting dalam membangun kedekatan emosional sekaligus memperkuat semangat kemanunggalan TNI dengan rakyat.

“Melalui kebersamaan seperti ini, terjalin hubungan yang semakin erat. TMMD bukan hanya membangun sasaran fisik, tetapi juga memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat,” ujar Kapten Inf Fardi Ruslan.
Dalam perspektif pembangunan berbasis masyarakat, kedekatan semacam ini memiliki nilai strategis. Infrastruktur memang menjadi keluaran yang dapat dilihat secara kasatmata, tetapi modal sosial berupa kepercayaan, solidaritas, dan gotong royong merupakan fondasi yang menentukan keberlanjutan pembangunan di tingkat desa.
Karena itu, aktivitas makan bersama tidak semestinya dipandang sekadar sebagai jeda dari rutinitas pekerjaan. Di balik hidangan sederhana tersebut terdapat proses membangun komunikasi, memperkuat kohesi sosial, sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap program yang sedang dikerjakan bersama.
Bagi masyarakat, kehadiran Satgas TMMD juga menghadirkan pengalaman sosial yang berbeda. Mereka tidak hanya menyaksikan pembangunan berlangsung, tetapi ikut terlibat di dalamnya, bekerja berdampingan dan berbagi cerita dengan para prajurit.
Kehangatan yang tercipta di lokasi pekerjaan menjadi gambaran bahwa pembangunan tidak selalu berbicara tentang material, angka progres, atau target penyelesaian. Ada dimensi kemanusiaan yang tumbuh melalui interaksi sehari-hari—ketika tangan yang bekerja bersama akhirnya bertemu di meja makan yang sama.
Pada titik itulah semangat gotong royong menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus bermakna: bekerja bersama, beristirahat bersama, dan berbagi dalam suasana kekeluargaan.
Melalui TMMD ke-129, Kodim 1505/Tidore tidak hanya berupaya menghadirkan pembangunan fisik bagi masyarakat Wasile Tengah, tetapi juga merawat jembatan sosial yang menjadi salah satu kekuatan utama hubungan TNI dan rakyat.
Sumber: Pen Kodim 1505/Tidore (LW.ID)

