LenteraWayracana.id | TOLITOLI – Di tengah arus modernitas yang kerap melahirkan jarak antara institusi dan masyarakat, kehadiran kepedulian sosial menjadi penanda bahwa kemanusiaan masih menemukan ruangnya. Senin (29/6/2026), Polres Tolitoli kembali meneguhkan dimensi humanistik tersebut melalui kegiatan bakti sosial bedah rumah dan penyaluran bantuan sosial di Panti Asuhan Sitti Hadijah, Jalan Poros Timbalani, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli.

Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 Wita itu dipimpin langsung oleh Kapolres Tolitoli AKBP Raden Real Mahendra, S.H., S.I.K., didampingi Kabag Log, Kasat Lantas, serta jajaran Bhayangkari Cabang Tolitoli. Kehadiran rombongan disambut oleh pengelola panti asuhan, Fauzi A. Tasim.
Dalam perspektif sosial, rumah bukan sekadar bangunan fisik yang berdiri di atas pondasi beton dan kayu. Rumah merupakan ruang tumbuh, tempat nilai-nilai kemanusiaan dipelihara dan harapan masa depan disemai. Oleh karena itu, program bedah rumah yang dilaksanakan Polres Tolitoli tidak hanya berorientasi pada renovasi bangunan, tetapi juga menghadirkan rekonstruksi harapan bagi anak-anak panti asuhan.
Kapolres Tolitoli AKBP Raden Real Mahendra menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian Polri kepada masyarakat dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80 tahun 2026.
Di lokasi kegiatan, suasana berlangsung hangat dan penuh keakraban. Para personel bersama Bhayangkari menyerahkan bantuan sosial serta meninjau kondisi bangunan panti yang menjadi sasaran program bedah rumah. Anak-anak panti tampak antusias menyambut kedatangan rombongan, menciptakan suasana emosional yang sarat makna kemanusiaan.

Secara sosiologis, kehadiran negara melalui institusi kepolisian dalam ruang-ruang sosial seperti panti asuhan memiliki arti penting. Kepolisian tidak hanya berfungsi sebagai penjaga keamanan dan penegak hukum, melainkan juga menjadi agen sosial yang menghadirkan solidaritas, empati, dan penguatan kohesi masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa paradigma Polri Presisi tidak berhenti pada aspek pelayanan publik semata, tetapi juga merambah pada dimensi kemanusiaan yang lebih luas. Di tengah berbagai dinamika sosial, tindakan nyata seperti bedah rumah dan bantuan sosial menjadi bahasa universal yang mampu menyentuh hati masyarakat.
Bagi Panti Asuhan Sitti Hadijah, bantuan tersebut bukan hanya menghadirkan perubahan fisik terhadap bangunan yang ditempati, melainkan juga menjadi simbol hadirnya perhatian dan kepedulian. Sebab pada akhirnya, nilai terbesar dari sebuah bantuan bukan terletak pada besarnya materi yang diberikan, melainkan pada ketulusan yang menyertainya.
Di bawah langit sore Timbalani, kegiatan itu seakan menyampaikan satu pesan sederhana namun mendalam: bahwa pengabdian sejati tidak selalu hadir dalam seragam dan kewenangan, melainkan dalam kesediaan untuk hadir, mendengar, dan membantu mereka yang membutuhkan.
(LW.id)

