Tolitoli , LenteraWayracana.id | — Pertolongan terkadang datang tanpa direncanakan, justru pada saat seseorang berada dalam kondisi paling membutuhkan. Pengalaman itu dialami seorang jurnalis yang mengalami gangguan kesehatan secara tiba-tiba seusai melaksanakan salat Zuhur di Masjid Babussholihin Polres Tolitoli.
Kisah tersebut bermula ketika penulis terlebih dahulu makan siang di sebuah warung. Setelah itu, penulis menuju Mapolres Tolitoli untuk melakukan peliputan aksi. Namun karena tiba terlambat dan tidak lagi menemukan kegiatan yang hendak diliput, penulis kemudian menuju Masjid Babussholihin Polres Tolitoli.
Ketika hendak mengambil air wudu, kondisi tubuh mulai terasa tidak seperti biasanya. Rasa tidak nyaman bermula dari bagian perut dan kemudian terasa meningkat hingga ke dada.
Meski demikian, penulis tetap berusaha mengikuti salat berjamaah. Rakaat demi rakaat dilalui dengan menahan rasa tidak nyaman hingga salat Zuhur selesai.
Usai salam, penulis bahkan tidak sempat mengikuti doa bersama jamaah. Dengan kondisi tubuh yang semakin melemah, penulis segera menuju teras masjid. Harapannya sederhana, ada seseorang yang dapat membantu mengantarkan ke Rumah Sakit Mokopido untuk mendapatkan penanganan.

Di tengah situasi tersebut, pertolongan datang dari seorang anggota Satlantas Polres Tolitoli, Bripda Riky Rifaldy.
Tanpa banyak pertimbangan, Bripda Riky menawarkan bantuan dan mengajak penulis menuju rumah sakit dengan sepeda motor.
“Pegang, Om,” ujar Bripda Riky saat memastikan penulis dapat berpegangan selama perjalanan.
Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa. Namun dalam kondisi seseorang sedang menghadapi situasi kesehatan yang tidak terduga, ucapan tersebut menjadi bentuk perhatian yang begitu berarti.
Bripda Riky Rifaldy tidak sekadar memberikan bantuan secara spontan. Setibanya di Rumah Sakit Mokopido, anggota Satlantas Polres Tolitoli tersebut menyerahkan penulis kepada petugas rumah sakit agar segera mendapatkan penanganan medis.
Peristiwa sederhana itu menghadirkan potret lain dari wajah kepolisian. Pengabdian seorang anggota Bhayangkara tidak selalu hadir dalam bentuk operasi besar, pengamanan kegiatan, ataupun penegakan hukum. Dalam keadaan tertentu, pengabdian justru dapat terlihat melalui tindakan sederhana: membantu seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan.
Di situlah nilai kemanusiaan menemukan maknanya.
Seragam kepolisian memang melekat pada tugas dan kewenangan. Namun di balik seragam itu terdapat manusia yang memiliki kepekaan sosial, kepedulian, dan keberanian untuk bertindak ketika melihat orang lain membutuhkan bantuan.
Kini, penulis masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Mokopido. Tubuh masih terbaring, sementara proses pemulihan terus dijalani dengan penuh kesabaran dan harapan.
Di tengah rasa sakit dan ketidakpastian, pengalaman tersebut menjadi sebuah pengingat bahwa pertolongan bisa datang dari arah yang tidak pernah diperkirakan.
Ada tangan yang terulur tanpa diminta.
Ada kepedulian yang hadir tanpa syarat.
Dan ada doa yang terus dipanjatkan kepada Allah SWT, Sang Pencipta, agar diberikan kesehatan, kekuatan, serta kesembuhan.
Bagi penulis, sosok Bripda Riky Rifaldy, anggota Satlantas Polres Tolitoli, akan selalu menjadi bagian dari kisah tersebut, seorang Bhayangkara yang hadir bukan hanya dengan seragam dan tugas kedinasannya, tetapi juga dengan hati dan kepedulian sebagai sesama manusia.(LW.ID)

