Oplus_16908288
Tasikmalaya, LenteraWayracana.id | — Semangat kemerdekaan tidak selalu harus dirayakan dengan kemeriahan yang serba megah. Di Kampung Pasantren, Desa Sukamahi, Kecamatan Sukaratu, Tasikmalaya, nilai-nilai Proklamasi justru menemukan bentuknya yang sederhana, dekat dengan rakyat, dan sarat makna melalui tradisi permainan Ngobrek.
Pada 16 Agustus 2026 sekitar pukul 10.00 WIB, warga Kampung Pasantren berkumpul untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satu kegiatan yang menjadi magnet perhatian warga adalah perlombaan menangkap ikan terbesar yang melibatkan lintas generasi, mulai dari orang tua hingga anak-anak.
Suasana berlangsung meriah. Tawa, sorak, dan kegembiraan warga berpadu dalam sebuah arena sederhana, tetapi menghadirkan pengalaman sosial yang begitu kaya. Peserta berusaha menangkap ikan dengan penuh antusiasme, sementara warga lainnya memberikan dukungan dari tepian.
Di balik kesederhanaan permainan Ngobrek, tersimpan sebuah fenomena sosial yang menarik. Perlombaan tersebut bukan sekadar aktivitas hiburan dalam rangkaian perayaan kemerdekaan, melainkan ruang interaksi yang mempertemukan anak-anak, orang tua, dan masyarakat dalam suasana egaliter.
Semangat gotong royong pun terasa kuat. Tidak ada sekat usia maupun status sosial. Semua melebur dalam kegembiraan yang sama. Anak-anak mendapatkan ruang untuk bermain dan belajar bersosialisasi, sedangkan orang tua kembali menikmati suasana kebersamaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pedesaan.

Secara sosial, kegiatan semacam ini memiliki fungsi penting dalam memperkuat kohesi masyarakat. Interaksi langsung antarmasyarakat menjadi modal sosial yang menjaga hubungan kekeluargaan sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap lingkungan tempat tinggal.
Jika ditinjau dari perspektif kebudayaan, Ngobrek juga memperlihatkan bagaimana masyarakat mampu mengemas nilai-nilai nasionalisme melalui medium lokal. Nasionalisme tidak selalu hadir dalam pidato-pidato formal, tetapi dapat tumbuh dari halaman kampung, permainan rakyat, canda tawa, dan kebersamaan warga.
Semangat tersebut sejalan dengan nilai luhur yang diwariskan para pendiri bangsa: persatuan, kebersamaan, kesederhanaan, serta kepedulian terhadap sesama. Kemerdekaan kemudian tidak berhenti sebagai simbol sejarah, tetapi diterjemahkan ke dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Bagi anak-anak, pengalaman mengikuti Ngobrek dapat menjadi pembelajaran sosial yang bersifat informal. Mereka belajar tentang sportivitas, keberanian, kerja sama, sekaligus memahami bahwa kebahagiaan dapat tumbuh dari kebersamaan, bukan semata-mata dari kemewahan sebuah acara.
Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistik, kegiatan warga seperti ini memiliki arti strategis. Ia menjadi semacam ruang sosial untuk merawat komunikasi antargenerasi dan mempertahankan karakter komunal masyarakat.
Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kampung Pasantren akhirnya bukan hanya tentang siapa yang berhasil mendapatkan ikan terbesar. Lebih jauh dari itu, Ngobrek menjadi potret kecil bagaimana masyarakat merawat kemerdekaan melalui cara yang sederhana: berkumpul, bergembira, saling mendukung, dan menjaga persaudaraan.
Dari sebuah kampung kecil di Tasikmalaya, pesan kemerdekaan kembali menemukan maknanya—bahwa Indonesia tumbuh bukan hanya karena pembangunan fisik, tetapi juga karena masyarakatnya masih bersedia bergotong royong dan merayakan kebersamaan.
Sumber: Warga Kampung Pasantren, Desa Sukamahi, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya. (A’la)

