LENTERAWAYRACANA.ID – Upaya menekan ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan terus diintensifkan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). TNI bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta tim gabungan mengerahkan kekuatan udara dengan menyemaikan 7,2 ton bahan semai di wilayah Palembang, Kamis (29/10/2026).

Operasi yang dilaksanakan Satuan Tugas (Satgas) Udara dari Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH) tersebut menjadi bagian dari langkah percepatan penanganan Karhutla sekaligus mengurangi dampak kabut asap yang mengganggu kehidupan masyarakat.

Dalam misi tersebut, sebanyak 7,2 ton bahan semai diterjunkan ke atmosfer, terdiri atas 1,6 ton dry ice (es kering) dan 5,6 ton natrium klorida (NaCl) atau garam. Proses penyemaian dilakukan menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara jenis Hercules C-130 dan Cassa NC-212.

Modifikasi Cuaca, Ikhtiar Menghadirkan Hujan di Wilayah Rawan Karhutla
Berdasarkan data pemantauan radar cuaca, penakar hujan, serta laporan personel di lapangan, pelaksanaan OMC tersebut dilaporkan berdampak pada turunnya hujan di Kota Palembang dan sejumlah wilayah kabupaten di Sumatera Selatan.

Hujan menjadi faktor penting dalam upaya pengendalian Karhutla. Selain membantu meningkatkan kelembapan vegetasi dan permukaan tanah, curah hujan berpotensi menekan penyebaran titik api serta mengurangi intensitas asap yang mengancam kesehatan masyarakat.
Namun, efektivitas penanganan kebakaran tidak hanya ditentukan oleh operasi modifikasi cuaca. Pemantauan titik panas, patroli kawasan rawan, kesiapsiagaan personel pemadam, serta pengawasan terhadap aktivitas pembakaran lahan tetap menjadi bagian penting dalam strategi pengendalian secara menyeluruh.
Sinergi Udara dan Kepentingan Keselamatan Masyarakat
Pengerahan alutsista udara dalam operasi ini memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas sektor menghadapi bencana ekologis. TNI, BMKG, dan unsur terkait menjalankan peran masing-masing melalui pendekatan berbasis teknologi, pemantauan meteorologi, serta tindakan operasional di lapangan.
Di tengah ancaman Karhutla, kehadiran hujan bukan sekadar fenomena alam, melainkan harapan bagi masyarakat yang terdampak kekeringan dan kabut asap. Karena itu, keberlanjutan operasi perlu berjalan beriringan dengan upaya pencegahan serta penanganan langsung di wilayah terdampak.
Informasi kegiatan ini disampaikan oleh Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI). Operasi tersebut menegaskan bahwa penanggulangan Karhutla membutuhkan kerja terpadu, respons cepat, dan konsistensi pengawasan demi melindungi lingkungan serta keselamatan masyarakat Sumatera Selatan.


