TOLITOLI LenteraWayracana.id | — Di tengah hiruk-pikuk tugas pemberantasan narkotika, sebuah tindakan sederhana justru memperlihatkan wajah lain aparat penegak hukum: kemanusiaan.
Pagi itu, Senin (7/9/2026), seorang perempuan hamil sembilan bulan meringis menahan kontraksi hebat di salah satu rumah di Kelurahan Baru, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Kondisinya semakin mengkhawatirkan setelah kontraksi berlangsung berjam-jam dan mulai disertai keluarnya darah.
Di tengah situasi tersebut, pertolongan datang secara tak terduga.
Sebuah mobil Toyota Avanza berwarna putih melintas di Jalan Usman Binol. Kendaraan itu kemudian diperlambat setelah pengemudinya melihat warga di sekitar lokasi. Dari balik kaca mobil, AKP Rijal, S.H., yang merupakan Panit Subdit I Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulawesi Tengah, menyapa warga.
Semula percakapan berlangsung singkat. Namun, informasi mengenai seorang ibu hamil yang membutuhkan kendaraan untuk segera dibawa ke RSU Mokopido mengubah arah perjalanan.

Tanpa banyak pertimbangan, AKP Rijal memutar balik kendaraannya.
Ia kemudian menjemput perempuan tersebut dan membawanya menuju RSU Mokopido. Tidak ada pertanyaan panjang mengenai latar belakang maupun identitas. Yang menjadi prioritas saat itu hanya satu: memastikan ibu dan bayi mendapatkan pertolongan medis secepat mungkin.
“Benar, saat saya suruh naik mobil sudah ada tetesan darah dari betis hingga mata kaki,” kata AKP Rijal, Senin (7/9/2026).
Perempuan tersebut diketahui bernama Ani Sulistyoningsih, 30 tahun, warga Kabupaten Marisa, Provinsi Gorontalo. Ia diketahui tidak memiliki keluarga di Tolitoli yang dapat segera memberikan bantuan.
Dari Operasi Narkoba ke Misi Kemanusiaan
Setibanya di RSU Mokopido, AKP Rijal segera meminta bantuan petugas medis. Proses administrasi, termasuk pengurusan BPJS, turut dibantu agar penanganan medis tidak terhambat.
Tim medis kemudian bergerak cepat menangani Ani. Hasilnya menggembirakan. Bayi perempuan yang dikandungnya berhasil dilahirkan dalam kondisi selamat.
Peristiwa tersebut menjadi gambaran bahwa tugas kepolisian tidak semata-mata berhenti pada penegakan hukum. Di balik seragam dan kewenangan yang melekat, terdapat dimensi kemanusiaan yang sering kali justru hadir dalam situasi paling sederhana: membantu seseorang ketika berada dalam kondisi genting.
Dalam perspektif pelayanan publik, tindakan AKP Rijal dapat dibaca sebagai respons spontan berbasis kemanusiaan. Keputusan untuk mengutamakan keselamatan ibu dan bayi menunjukkan bahwa kehadiran aparat di tengah masyarakat bukan hanya bersifat represif, tetapi juga responsif dan solutif.
Terlebih, pertolongan tersebut terjadi ketika tim operasional Subdit I Direktorat Narkoba Polda Sulteng tengah menjalankan tugas di wilayah hukum Polres Tolitoli.
Solidaritas yang Tak Mengenal Identitas
Kisah ini memiliki dimensi human interest yang kuat. Ani bukan warga asli Tolitoli. Ia berasal dari wilayah lain dan berada dalam kondisi tanpa dukungan keluarga di sekitar tempat kejadian.
Namun, dalam keadaan darurat, batas administratif dan identitas sosial seolah kehilangan maknanya.
Yang tersisa adalah naluri untuk menolong.
Tindakan AKP Rijal memperlihatkan sebuah prinsip universal dalam pelayanan kemanusiaan: keselamatan manusia harus menjadi prioritas ketika keadaan menuntut keputusan cepat.
Tidak ada prosedur yang panjang dalam momentum tersebut. Tidak ada kepentingan pribadi yang didahulukan. Hanya sebuah kendaraan yang berbalik arah, seorang ibu hamil yang membutuhkan pertolongan, dan keputusan untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Pada akhirnya, perjalanan itu bukan sekadar perjalanan menuju fasilitas kesehatan. Ia menjadi perjalanan yang membawa harapan, dan berakhir dengan lahirnya seorang bayi perempuan dalam keadaan selamat.
(Armen Djaru)

