LenteraWayracana.id — Manggarai, NTT. Gempa bumi tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan dan lingkungan, tetapi juga dapat menyisakan luka yang tak kasatmata dalam ingatan para penyintas. Merespons kondisi tersebut, Pusat Psikologi (Puspsi) TNI menerjunkan Tim Trauma Healing ke sejumlah wilayah terdampak gempa di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tim tersebut dilepas langsung oleh Kapuspsi TNI Marsda TNI Zamzani, M.Si., Psikolog, Kamis (10/9/2026), sebagai bagian dari langkah TNI mendampingi masyarakat dalam fase pemulihan pascabencana.

Langkah ini memperlihatkan bahwa penanganan bencana tidak semata-mata berhenti pada pemenuhan kebutuhan material. Di balik tenda pengungsian, rumah yang rusak, dan aktivitas masyarakat yang terganggu, terdapat dimensi psikologis yang membutuhkan perhatian serius.
Asesmen Menjadi Pintu Masuk Pemulihan
Sesampainya di wilayah terdampak, Tim Trauma Healing Puspsi TNI akan melakukan asesmen psikologis terhadap para penyintas, termasuk orang dewasa dan anak-anak.

Asesmen tersebut menjadi instrumen awal untuk memetakan tingkat stres serta kondisi psikologis yang muncul setelah mengalami peristiwa gempa. Hasil pemetaan kemudian menjadi dasar dalam menentukan bentuk dukungan yang paling sesuai bagi masing-masing penyintas.
Pendekatan tersebut penting karena setiap orang memiliki respons psikologis yang berbeda terhadap bencana. Sebagian mungkin mampu segera beradaptasi, sementara lainnya membutuhkan pendampingan lebih intensif untuk mengatasi rasa takut, kecemasan, kehilangan maupun tekanan emosional.
Dari hasil asesmen, tim akan memberikan dukungan psikososial dan intervensi psikologis yang disesuaikan dengan kondisi penyintas.
Psikolog Disiapkan untuk Penyintas dengan Stres Tinggi
Bagi masyarakat yang masih menunjukkan tingkat stres tinggi akibat pengalaman gempa, Puspsi TNI menyiapkan layanan konseling bersama psikolog.
Pendampingan dilakukan secara langsung oleh psikolog yang berada di lapangan. Pada saat yang sama, dukungan juga dapat diberikan secara daring dengan melibatkan psikolog yang berada di Mako Puspsi TNI.
Skema tersebut menunjukkan bahwa pemulihan psikologis dirancang secara berlapis. Kehadiran tenaga profesional di lapangan dipadukan dengan dukungan dari pusat agar kebutuhan penyintas tetap dapat ditangani secara berkelanjutan.
Ketika Pemulihan Tidak Hanya Berarti Membangun Kembali Rumah
Dalam perspektif penanggulangan bencana modern, pemulihan manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rekonstruksi fisik. Rumah dapat dibangun kembali, fasilitas umum dapat diperbaiki, tetapi trauma membutuhkan proses yang lebih personal dan tidak selalu terlihat dari luar.
Karena itu, kehadiran Tim Trauma Healing Puspsi TNI memiliki arti strategis sekaligus humanis. Pendampingan psikologis memberi ruang bagi penyintas untuk memproses pengalaman traumatis secara sehat, khususnya bagi anak-anak yang mungkin belum mampu mengartikulasikan ketakutan dan kecemasannya secara verbal.
Ulasan singkat:
Pendekatan Puspsi TNI memperlihatkan pergeseran paradigma dalam respons kebencanaan: keselamatan masyarakat tidak hanya diukur dari terpenuhinya kebutuhan fisik, tetapi juga dari kemampuan mereka memulihkan ketahanan psikologis. Trauma healing menjadi jembatan antara fase tanggap darurat dan proses kembali menjalani kehidupan secara normal.
Melalui pengerahan tim tersebut, TNI berupaya memastikan bahwa masyarakat terdampak gempa NTT tidak menghadapi masa pemulihan seorang diri. Bantuan diberikan bukan hanya untuk menopang kebutuhan hari ini, tetapi juga untuk membantu membangun kembali keberanian menatap hari esok. (LW.id)

