BANJARBARU , LenteraWayracana.id | — Upaya menekan ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Selatan tidak hanya berlangsung dari darat. Ketika langit menyediakan peluang, operasi pun bergerak ke udara.

Sebanyak tiga sortie penerbangan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilaksanakan dari Lanud Sjamsudin Noor, Banjarbaru, Senin (7/9/2026). Dalam operasi tersebut, pesawat BNPB PK-SNK membawa total tiga ton Natrium Klorida (NaCl) untuk disemai ke atmosfer sebagai bagian dari ikhtiar mempercepat terbentuknya hujan di wilayah sasaran.

Setiap sortie membawa satu ton bahan semai. Namun, penyemaian bukan sekadar persoalan menjatuhkan bahan dari udara. Setiap misi bergantung pada dinamika atmosfer—mulai dari perkembangan awan, kondisi meteorologi, hingga momentum yang dianggap paling memungkinkan untuk mendukung proses pembentukan hujan.

OMC Menyasar Peluang Hujan di Tengah Ancaman Karhutla
Secara ilmiah, modifikasi cuaca bekerja dengan memanfaatkan kondisi awan yang telah tersedia. Bahan semai seperti NaCl digunakan untuk memengaruhi proses mikrofisika awan sehingga peluang terjadinya presipitasi dapat ditingkatkan ketika kondisi atmosfer mendukung.

Dalam pelaksanaan OMC kali ini, penyemaian dilakukan secara terukur berdasarkan hasil pemantauan meteorologi. Pesawat diarahkan menuju wilayah yang dinilai memiliki potensi awan yang sesuai untuk dilakukan penyemaian.
Hasilnya, hujan dilaporkan turun di sejumlah wilayah Kabupaten Tanah Bumbu, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan, dan Tabalong.
Bagi wilayah yang berada di bawah bayang-bayang Karhutla, hujan bukan sekadar fenomena meteorologis. Ia menjadi bagian penting dari upaya membasahi vegetasi dan lahan, menekan potensi penyebaran api, sekaligus membantu mengurangi akumulasi asap yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.
Lanud Sjamsudin Noor Pastikan Dukungan Operasi Tetap Siaga
Komandan Lanud Sjamsudin Noor Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, M.M.S., menegaskan bahwa pihaknya akan terus memberikan dukungan terhadap pelaksanaan OMC sesuai kebutuhan operasi.
Dukungan tersebut mencakup kesiapan personel, fasilitas pangkalan, serta berbagai unsur pendukung penerbangan. Kesiapan itu menjadi faktor penting karena operasi udara membutuhkan koordinasi presisi sekaligus standar keselamatan yang tidak dapat ditawar.
«“Setiap misi dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat, terkoordinasi, dan tetap mengutamakan keselamatan penerbangan,” tegas Danlanud.»
Menurutnya, OMC tidak dapat diposisikan sebagai satu-satunya solusi menghadapi Karhutla. Operasi tersebut harus berjalan dalam satu ekosistem penanggulangan yang lebih luas, berdampingan dengan pemadaman, pembasahan lahan, pemantauan titik api, serta langkah-langkah pencegahan.
Hujan Buatan Bukan Solusi Tunggal
Secara deskriptif, tiga sortie dan tiga ton NaCl menggambarkan besarnya dukungan operasi udara yang dikerahkan. Namun secara analitis, efektivitas OMC tetap bergantung pada satu faktor fundamental: ketersediaan awan dan kondisi atmosfer yang memungkinkan.
Artinya, operasi modifikasi cuaca tidak bekerja seperti “menciptakan hujan dari langit yang cerah”. Teknologi ini lebih tepat dipahami sebagai upaya mengoptimalkan potensi hujan dari sistem awan yang memang telah tersedia.
Karena itu, keberhasilan menghadapi Karhutla membutuhkan pendekatan berlapis. Pesawat dapat membantu menghadirkan hujan, tetapi pasukan di darat tetap menjadi garda penting dalam pemadaman dan pembasahan. Pemantauan menjadi mata operasi, sementara pencegahan menjadi benteng pertahanan sebelum api membesar.
Di titik inilah sinergi antarlembaga menjadi kunci. Penanganan Karhutla bukan pekerjaan satu institusi, melainkan kerja kolektif yang mempertemukan kemampuan udara, darat, meteorologi, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Menjaga Langit, Membasahi Bumi
Di balik suara mesin pesawat yang mengudara membawa bahan semai, terdapat kepentingan yang jauh lebih besar: menjaga ruang hidup masyarakat dari ancaman api dan asap.
Lanud Sjamsudin Noor melalui dukungan terhadap OMC menunjukkan bahwa respons terhadap Karhutla terus berkembang mengikuti karakter ancaman. Ketika api menguji ketahanan daratan, teknologi dan operasi udara turut dikerahkan untuk mencari celah dari langit.
Danlanud Sjamsudin Noor berharap pelaksanaan OMC dapat memberikan kontribusi nyata dalam mengurangi dampak Karhutla, sekaligus mendukung keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan di Kalimantan Selatan. (LW.ID)

