JAKARTA, LenteraWayracana.id – 31 Agustus 2026 | Penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tidak semata-mata berbicara tentang bagaimana api dipadamkan. Di balik kepulan asap dan hamparan lahan yang terbakar, terdapat persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana masyarakat memahami risiko, mencegah munculnya titik api, serta menjaga lingkungan agar bencana serupa tidak terus berulang.

Menyadari pentingnya pendekatan tersebut, Tentara Nasional Indonesia (TNI) memperkuat upaya penanganan Karhutla melalui penyuluhan kepada masyarakat. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pencegahan yang menempatkan edukasi publik sebagai salah satu instrumen penting dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Berdasarkan keterangan Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI) yang diterima redaksi, sebanyak 1.482 personel penyuluh dipersiapkan untuk menjalankan tugas tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur, yakni Mabes TNI, TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara, Sesko TNI, Seskoad, Seskoal, dan Seskoau.
Sebelum diterjunkan ke wilayah terdampak, para personel terlebih dahulu mengikuti pembekalan yang dilaksanakan di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada 25 hingga 31 Agustus 2026.
Pembekalan tersebut dibuka oleh Koorsahli Panglima TNI Mayjen TNI Aang Gunawan, S.Sos. Kegiatan dirancang untuk menyamakan persepsi, meningkatkan kesiapan personel, sekaligus memastikan informasi yang nantinya disampaikan kepada masyarakat memiliki dasar yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sejumlah perwira tinggi TNI turut memberikan materi sesuai dengan bidang masing-masing. Mereka antara lain Marsda TNI Esron Sahat B. Sinaga, S.Sos., M.A., Mayjen TNI Thevi Angandowa Zebua, S.E., M.M., Laksda TNI Donny Suharto, S.H., M.Tr.Opsla., serta Brigjen TNI (Mar) Nioko Budi L.H., S.H., M.Tr.Hanla., M.H., M.Han.
Dari Memadamkan Api Menuju Pencegahan
Pendekatan penyuluhan memperlihatkan adanya dimensi lain dalam operasi penanganan Karhutla. Pemadaman merupakan respons terhadap api yang telah muncul, sedangkan penyuluhan bergerak lebih jauh ke hulu: membangun pengetahuan dan kesadaran sebelum api menjadi bencana.
Dalam perspektif mitigasi bencana, edukasi masyarakat memiliki arti strategis. Informasi mengenai bahaya pembakaran lahan, pengelolaan lingkungan, serta langkah-langkah pencegahan dapat menjadi fondasi bagi terbentuknya perilaku masyarakat yang lebih adaptif terhadap risiko kebakaran.
Karhutla sendiri bukan hanya persoalan ekologis. Asap yang dihasilkan dapat mengganggu aktivitas masyarakat, menurunkan kualitas udara, menghambat mobilitas, serta memberikan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas.
Karena itu, keberadaan personel penyuluh di tengah masyarakat diharapkan tidak sekadar menjadi penyampai informasi. Mereka dituntut mampu membangun komunikasi yang efektif, membaca karakteristik wilayah, sekaligus menjembatani informasi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat.
1.482 Penyuluh dan Tantangan di Lapangan
Jumlah 1.482 personel menunjukkan bahwa TNI tidak hanya mengandalkan pendekatan operasional ketika Karhutla terjadi. Ada upaya untuk memperluas spektrum penanganan melalui kombinasi antara respons cepat, edukasi, dan pencegahan.
Namun, efektivitas penyuluhan pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan nyata di tingkat masyarakat.
Di titik inilah penyuluhan menjadi pekerjaan yang membutuhkan pendekatan humanis. Masyarakat bukan sekadar objek sosialisasi, melainkan bagian penting dari sistem pencegahan Karhutla. Kesadaran ekologis tumbuh bukan hanya melalui instruksi, tetapi juga melalui komunikasi yang menyentuh pengalaman, kebutuhan, dan realitas kehidupan masyarakat setempat.
Dengan pembekalan yang diberikan secara terkoordinasi, Tim Penyuluh diharapkan mampu menjalankan tugas secara efektif di wilayah terdampak. Kehadiran mereka menjadi bagian dari ikhtiar untuk mengubah paradigma penanganan Karhutla—dari sekadar memadamkan api menjadi membangun kesadaran agar api tidak mudah muncul.
Pada akhirnya, ketika bara telah padam, tantangan sesungguhnya belum selesai. Hutan dan lahan membutuhkan waktu untuk pulih, masyarakat membutuhkan kepastian, dan lingkungan membutuhkan perlindungan.
Karena itu, upaya pencegahan melalui penyuluhan menjadi investasi jangka panjang. Sebab dalam menghadapi Karhutla, kemenangan bukan hanya ketika api berhasil dipadamkan, tetapi ketika masyarakat semakin mampu mencegah api sebelum menjadi bencana. (LW.ID)

