TOLITOLI, LenteraWayracana.id | – Sebanyak 152 santri TKA/TPA/TQA di Kecamatan Baolan mengikuti Ujian Munaqasyah Tingkat Kabupaten Tolitoli Tahun 2026. Kegiatan yang digelar selama dua hari, Sabtu–Minggu, 8–9 Agustus 2026, di Masjid Agung Al-Mubarak, Kecamatan Baolan, itu menjadi salah satu tahapan penting dalam mengukur capaian pembelajaran sekaligus mempersiapkan para santri menuju Wisuda Santri TKA/TPA/TQA Tahun 2026.

Ujian Munaqasyah yang diselenggarakan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan TK Al-Qur’an/TP Al-Qur’an (LPPTKA) BKPRMI Kabupaten Tolitoli tersebut tidak sekadar menghadirkan suasana evaluasi akademik. Di balik lantunan ayat Al-Qur’an, hafalan doa dan materi keagamaan yang diuji, terselip proses panjang pembentukan karakter, kedisiplinan dan keberanian anak-anak dalam menampilkan hasil pembelajaran mereka.

Masjid Agung Al-Mubarak pada akhir pekan itu menjadi ruang perjumpaan antara ilmu, pendidikan dan pembinaan karakter. Para santri datang membawa bekal pembelajaran dari TKA/TPA/TQA masing-masing, sementara para guru mengaji dan orang tua memberikan dukungan moral agar anak-anak mampu melewati setiap tahapan ujian dengan percaya diri.

Pelaksanaan Munaqasyah Gelombang I wilayah Kecamatan Baolan dibagi dalam dua tahapan. Hari pertama diisi ujian tatap muka bersama Tim Munaqasyah dengan materi membaca Al-Qur’an, hafalan, tajwid, doa-doa serta pengetahuan keagamaan.
Pada hari kedua, evaluasi dilanjutkan secara daring melalui tes tertulis sesuai mekanisme yang telah ditetapkan panitia.

Bukan Sekadar Mengukur Kelulusan
Direktur LPPTKA DPD BKPRMI Kabupaten Tolitoli, Harianto, S.Pd., menegaskan bahwa Munaqasyah harus dipahami sebagai instrumen pembinaan, bukan semata-mata forum untuk menentukan lulus atau tidaknya seorang santri.
Menurutnya, ujian menjadi bagian dari proses evaluasi untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kemampuan santri setelah mengikuti proses pendidikan di TKA/TPA/TQA.
“Ujian Munaqasyah merupakan bagian penting dalam pembinaan generasi Qur’ani. Melalui ujian ini kita ingin melihat sejauh mana pencapaian santri setelah mendapatkan pembelajaran di TKA/TPA. Kami berharap seluruh santri mengikuti ujian dengan penuh percaya diri, jujur, tertib, dan tetap menjaga adab,” ujar Harianto.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan Al-Qur’an memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan menghafal. Pembelajaran diarahkan agar pengetahuan keagamaan berkelindan dengan sikap, etika dan perilaku sehari-hari.
Dalam perspektif pendidikan karakter, kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan fondasi, sementara adab menjadi manifestasi dari pengetahuan yang diperoleh. Karena itu, Munaqasyah tidak hanya menguji apa yang diketahui santri, tetapi juga menjadi refleksi atas proses pembinaan yang berlangsung di lingkungan TKA/TPA/TQA.
Harianto juga menyampaikan apresiasi kepada para ustaz, ustazah dan guru mengaji yang selama ini mendampingi santri. Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak dapat dilepaskan dari kerja kolektif pengurus LPPTKA BKPRMI, Tim Munaqasyah, Ikatan Guru Mengaji, Kepala TKA/TPA/TQA, guru mengaji, orang tua/wali santri serta seluruh pihak yang memberikan dukungan.
Baolan Menjadi Ruang Tumbuh Generasi Qur’ani
Ketua DPK BKPRMI Kecamatan Baolan, Ghufron Arsyah Prawira, S.Sos., mengatakan pelaksanaan Munaqasyah Gelombang I di wilayah Baolan merupakan sebuah kebanggaan sekaligus momentum untuk memperkuat ekosistem pendidikan Al-Qur’an.
“Bagi kami DPK BKPRMI Kecamatan Baolan, menjadi tuan rumah pelaksanaan Ujian Munaqasyah Santri TKA/TPA/TQA Tingkat Kabupaten Tolitoli Gelombang I merupakan suatu kebanggaan sekaligus kesyukuran. Ini menjadi momentum penting dalam memperkuat pembinaan pendidikan Al-Qur’an sekaligus mempererat sinergi antara pengurus, guru mengaji, santri dan orang tua,” ungkap Ghufron.
Menurutnya, capaian seorang santri tidak semestinya berhenti pada hasil ujian. Lebih jauh, mereka diharapkan tumbuh sebagai generasi yang mampu meneruskan keberlangsungan pendidikan dan pembinaan Al-Qur’an di tengah masyarakat.
“Kami berharap santri yang mengikuti Ujian Munaqasyah ini dapat menjadi kader yang baik dan mampu melanjutkan estafet perjuangan dalam pendidikan serta pembinaan Al-Qur’an,” lanjutnya.
Pesan tersebut mengandung makna strategis. Sebab, keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an pada dasarnya tidak hanya bergantung pada lembaga, tetapi juga pada regenerasi para pelaku yang kelak ikut menjaga denyut pembinaan keagamaan di tengah masyarakat.
Sinergi Guru dan Orang Tua
Ghufron turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh Kepala dan Guru Mengaji TKA/TPA/TQA yang telah mengirimkan utusan santri untuk mengikuti Munaqasyah. Penghargaan juga diberikan kepada para orang tua atau wali santri yang terus memberikan doa, dukungan dan motivasi.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh mitra kerja kami, khususnya Kepala dan Guru Mengaji TKA/TPA/TQA serta orang tua/wali santri. Berkat dukungan dan kerja sama semua pihak, pelaksanaan Ujian Munaqasyah tanggal 8 sampai 9 Agustus 2026 dapat berjalan dengan lancar dan sukses,” katanya.
Ia sekaligus mendorong seluruh TKA/TPA yang telah mendaftarkan lembaganya di LPPTKA BKPRMI untuk terus aktif dalam berbagai program yang dilaksanakan DPK BKPRMI Kecamatan Baolan maupun DPD BKPRMI Kabupaten Tolitoli.
“Inilah peran kita bersama. Mari terus membangun sinergi dan kolaborasi dalam membina generasi Qur’ani. Bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk mempersiapkan generasi penerus yang beriman, berilmu, berakhlak mulia dan mampu memberikan kontribusi bagi agama, masyarakat dan bangsa,” tegas Ghufron.
Menanam Fondasi, Memanen Masa Depan
Secara substantif, Munaqasyah merupakan bagian dari mekanisme peningkatan mutu pembelajaran TKA/TPA/TQA. Namun dalam perspektif yang lebih luas, kegiatan tersebut dapat dibaca sebagai investasi sosial dan kultural.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, pendidikan Al-Qur’an memiliki posisi penting dalam membangun fondasi moral generasi muda. Pengetahuan agama yang dipadukan dengan pembiasaan adab, kedisiplinan dan tanggung jawab menjadi modal sosial bagi anak-anak untuk menghadapi kompleksitas kehidupan di masa mendatang.
Karena itu, 152 santri yang mengikuti Munaqasyah bukan hanya sedang menjalani sebuah ujian. Mereka sedang belajar menghadapi tantangan, mengelola rasa percaya diri, mempertanggungjawabkan hasil belajar dan merasakan dukungan dari lingkungan terdekatnya.
Pada titik inilah pendidikan menemukan makna yang lebih hakiki: bukan sekadar mencetak anak yang mampu menjawab soal, melainkan menumbuhkan manusia yang memahami nilai, memiliki karakter dan mampu membawa pengetahuan menjadi perilaku.
Pelaksanaan Ujian Munaqasyah Tahun 2026 sekaligus menegaskan komitmen LPPTKA BKPRMI Kabupaten Tolitoli untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan TKA/TPA/TQA serta menjadikan pendidikan Al-Qur’an sebagai salah satu fondasi pembentukan karakter generasi muda.
Sebelumnya, jadwal Ujian Munaqasyah dan Wisuda Santri Tahun 2026 telah ditetapkan melalui rapat koordinasi bersama pengurus LPPTKA, Ikatan Guru Mengaji dan Kepala TKA/TPA se-Kabupaten Tolitoli. Rapat tersebut berlangsung pada 4 Juli 2026 di Vila Gaukan Bantilan, Pantai Lalos, Kecamatan Galang.
Sumber: LPPTKA DPD BKPRMI Kabupaten Tolitoli. (LW.ID)

