Tolitoli, lenterawayracana.id | – Prosesi pisah sambut Kapolres Tolitoli berlangsung penuh khidmat dan emosional pada Rabu, 7 Januari 2026, mulai pukul 20.00 WITA hingga selesai. Kegiatan ini menjadi momentum strategis dalam rangka alih kepemimpinan dan regenerasi struktural di tubuh Kepolisian Resor Tolitoli, dari AKBP Wayan Wayracana Aryawan, S.I.K kepada AKBP Raden Real Mahendra, S.H., S.I.K.
Acara diawali dengan doa bersama, sebagai bentuk pendekatan spiritual dan refleksi moral. Secara sosiologis, doa bersama berfungsi memperkuat kohesi sosial serta menanamkan nilai kebersamaan dan ketenangan batin sebelum memasuki prosesi formal kenegaraan.
Dalam sambutannya, Bupati Tolitoli H. Amran H. Yahya menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada AKBP Wayan Wayracana Aryawan, S.I.K atas dedikasi dan kontribusinya selama menjabat sebagai Kapolres Tolitoli. Bupati menilai sinergi antara Polres Tolitoli dan Pemerintah Daerah telah berjalan harmonis, khususnya dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Keamanan daerah adalah fondasi utama pembangunan. Selama kepemimpinan AKBP Wayan Wayracana Aryawan, koordinasi lintas sektor berjalan efektif dan kondusif. Atas nama Pemerintah Daerah dan masyarakat Tolitoli, kami mengucapkan terima kasih dan selamat bertugas di tempat yang baru,” ujar Bupati.
Bupati juga menyampaikan ucapan selamat datang kepada AKBP Raden Real Mahendra, S.H., S.I.K sebagai Kapolres Tolitoli yang baru. Ia berharap kepemimpinan yang baru dapat terus memperkuat kolaborasi antar instansi demi menciptakan keamanan yang berkelanjutan dan pelayanan publik yang optimal.
Sementara itu, dalam sambutan kesan dan pesan, AKBP Wayan Wayracana Aryawan, S.I.K, didampingi sang istri Ny. Made Wayan, menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada seluruh personel Polres Tolitoli.
Dengan nada suara yang sarat emosi, ia mengungkapkan bahwa Tolitoli telah menjadi bagian penting dalam perjalanan karier dan kehidupannya.

“Setiap kebersamaan yang kita jalani bukan sekadar tugas, tetapi proses pembelajaran dan pengabdian. Jika selama kepemimpinan saya terdapat kekurangan, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya,” tuturnya.
Secara psikologis, pernyataan tersebut memunculkan respon afektif kolektif di kalangan anggota. Kesedihan tampak jelas di wajah para personel Polres Tolitoli yang merasa kehilangan sosok pemimpin yang dikenal dekat, tegas, namun humanis.
Kepergian Kapolres lama bukan hanya perpindahan jabatan, melainkan perpisahan emosional yang meninggalkan ruang hampa di tengah kebersamaan yang telah terbangun.
Ungkapan “Kenang aku, lupakan jangan” menjadi simbol ikatan batin antara pimpinan dan anggota, sebuah relasi kepemimpinan yang terbentuk melalui keteladanan, empati, dan komunikasi interpersonal yang kuat.
Pada kesempatan berikutnya, Kapolres Tolitoli, AKBP Raden Real Mahendra, S.H., S.I.K, bersama Ketua Bhayangkari Cabang Tolitoli Dewi Real, memperkenalkan diri secara resmi.
Dalam sambutannya, ia menyatakan komitmen untuk melanjutkan program-program positif yang telah dirintis oleh pendahulunya serta membuka ruang kolaborasi yang inklusif dengan seluruh pemangku kepentingan.
“Keamanan dan ketertiban masyarakat merupakan sistem yang saling terhubung. Diperlukan sinergi lintas sektor dan dukungan semua pihak agar stabilitas daerah tetap terjaga,” ungkapnya.
Acara dilanjutkan dengan sambutan selamat jalan kepada Kapolres lama dan selamat datang kepada Kapolres baru, disertai harapan agar seluruh elemen dapat saling mendukung antar instansi demi kepentingan masyarakat Tolitoli.
Momentum paling emosional terjadi saat pemberian cenderamata, sebagai simbol penghormatan dan kenang-kenangan institusional. Isak haru dan tatapan berat mewarnai prosesi tersebut, mencerminkan rasa kehilangan mendalam dari anggota kepada pimpinan yang akan meninggalkan mereka.
Sebagai penutup rangkaian acara, dilakukan sesi foto bersama. Dokumentasi ini tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan menjadi representasi visual dari sejarah kepemimpinan, kebersamaan, dan nilai pengabdian yang telah terukir.
Pisah sambut ini menegaskan bahwa pergantian jabatan bukan hanya proses administratif, melainkan juga transisi sosial dan emosional dalam organisasi.
Kesedihan anggota yang ditinggalkan menjadi indikator keberhasilan kepemimpinan yang mampu menyentuh sisi kemanusiaan dan membangun loyalitas
yang tulus. (Editor/Redaksi:)
