Lenterawayracana.id | TOLITOLI — Suasana hangat dan penuh dialog konstruktif mewarnai pertemuan antara Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Tolitoli dengan Polres Tolitoli, Rabu (8/4/2026). Bertempat di Kedai Markisa, Kecamatan Baolan, kegiatan silaturahmi ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi antara mahasiswa dan aparat kepolisian dalam menjaga stabilitas keamanan daerah.

Kapolres Tolitoli, AKBP Raden Real Mahendra, SH, SIK, hadir langsung bersama jajaran intelkam. Dari pihak GMNI, turut hadir pengurus cabang, alumni, hingga kader aktif yang menunjukkan soliditas organisasi dalam membangun komunikasi lintas sektor.
Secara deskriptif, pertemuan ini tidak sekadar agenda seremonial. Ia mencerminkan pola relasi baru antara organisasi kepemudaan dan institusi negara—yang bergerak dari pendekatan formal menuju dialog partisipatif. Dalam perspektif analitis, kolaborasi semacam ini berpotensi memperkuat social capital masyarakat, yakni kepercayaan dan jejaring sosial yang menjadi fondasi penting dalam menjaga ketertiban umum.
Ketua DPC Persatuan Alumni GMNI Tolitoli, Supriyono Nugroho, menegaskan komitmen organisasinya untuk berperan aktif dalam menjaga situasi kamtibmas. Ia juga mengungkapkan rencana pelaksanaan Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD) yang akan melibatkan cabang-cabang GMNI se-Sulawesi Tengah. Agenda ini tidak hanya bersifat internal organisasi, tetapi juga memiliki dimensi sosial sebagai ruang pembentukan karakter generasi muda.
“GMNI siap bersinergi dengan kepolisian demi menciptakan kondisi daerah yang aman dan kondusif,” ujarnya.
Sementara itu, Kapolres Tolitoli menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan. Ia menyampaikan bahwa kepolisian terbuka terhadap komunikasi yang bersifat konstruktif dan kolaboratif.

Dalam konteks aktual, Polres Tolitoli tengah memprioritaskan pemberantasan peredaran narkotika. Fenomena ini, secara ilmiah, tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan individu, tetapi juga berimplikasi pada degradasi produktivitas sosial dan meningkatnya potensi kriminalitas.
“Peran pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat, baik keluarga maupun kampus,” tegas Kapolres.
Selain itu, isu keselamatan berlalu lintas turut menjadi perhatian. Mahasiswa diharapkan menjadi pelopor budaya tertib berlalu lintas, sebagai bentuk behavioral modeling, di mana perilaku positif individu dapat memengaruhi lingkungan sosialnya secara luas.
Dari sudut pandang human interest, pertemuan ini menggambarkan harapan akan lahirnya generasi muda yang tidak hanya kritis, tetapi juga solutif. Di tengah tantangan sosial seperti narkotika dan kecelakaan lalu lintas, sinergi antara mahasiswa dan aparat menjadi narasi penting tentang gotong royong modern dalam menjaga ketahanan sosial daerah.
Silaturahmi ini pun menjadi pengingat bahwa keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat, melainkan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat.
(LW.id)
