Lentera wayracana.id | TOLITOLI – Hujan yang mengguyur Kabupaten Tolitoli pada Sabtu petang, 7 Maret 2026, tidak menyurutkan langkah puluhan anak muda untuk menghadiri kegiatan bertajuk Ramadhan Journey: The Road to Taqwa. Kegiatan bernuansa spiritual ini menjadi ruang refleksi bagi generasi muda dalam memperdalam pemahaman keislaman sekaligus memperkuat kualitas keimanan di bulan suci Ramadhan.

Acara yang berlangsung menjelang waktu berbuka puasa tersebut menghadirkan dua pemateri, yakni Taufiq Hidayat dan Husni Mubarak, yang membahas dimensi spiritualitas Ramadhan dari perspektif keilmuan Islam.
Taqwa sebagai Proses Bertingkat
Dalam sesi pertama, Ust. Taufiq Hidayat memaparkan konsep leveling taqwa, yakni gagasan bahwa ketakwaan tidak bersifat statis, melainkan berkembang melalui tahapan spiritual tertentu.
Menurutnya, dalam khazanah tasawuf, perjalanan spiritual seorang Muslim sering dipahami melalui konsep maqām atau tingkatan rohani. Pada tahap awal, seseorang berada pada maqam Islam, yaitu kesadaran dasar untuk taat kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
“Perjalanan menuju taqwa adalah proses bertahap. Seorang hamba terus meningkatkan kualitas spiritualnya hingga mencapai maqam yang lebih tinggi, yakni kesadaran menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas hidup,” jelasnya.
Dalam perspektif kajian spiritual Islam, tahap ini kerap disebut sebagai musyahadah, yakni kondisi kesadaran batin di mana seorang hamba merasakan kehadiran ilahi dalam setiap dimensi kehidupan.


Kritik terhadap Spiritualitas Instan
Sementara itu, pada sesi kedua, KH. Husni Mubarak menyoroti fenomena spiritualitas instan di kalangan generasi digital. Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan media sosial seringkali membuat manusia lebih sibuk menampilkan citra religius dibandingkan memperdalam kualitas ibadah.
Dalam refleksinya, ia menyinggung kebiasaan masyarakat modern yang lebih sering berinteraksi dengan layar gawai dibandingkan dengan Al-Qur’an.
“Jangan sampai Ramadhan hanya kita habiskan di layar gawai. Jika terlalu sibuk membuat konten atau mencari perhatian manusia, kita justru kehilangan esensi spiritual Ramadhan itu sendiri,” ujarnya.
Menurut KH. Husni, fenomena tersebut dapat dipahami sebagai bentuk disorientasi spiritual, yakni kondisi ketika orientasi ibadah bergeser dari ketulusan kepada pencarian pengakuan sosial.
Mencari Ketenangan yang Autentik
Ia juga mengkritik kecenderungan sebagian orang yang mencari “cara instan” untuk mendapatkan ketenangan hati.
Dalam pandangannya, ketenangan spiritual tidak dapat diperoleh melalui teknik cepat ataupun validasi publik.
“Ketenangan hati bukanlah hasil dari pencarian ‘tombol ajaib’. Ia lahir dari konsistensi ibadah, ketulusan dalam sujud, dan kedekatan yang terus dibangun dengan Allah,” tegasnya.
Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum self purification atau proses penyucian diri, sebagaimana tujuan utama ibadah puasa dalam tradisi Islam.
Ruang Refleksi Generasi Muda
Kegiatan Ramadhan Journey ini diharapkan menjadi wadah edukasi spiritual bagi kalangan muda di Tolitoli agar tidak hanya menjalankan ritual ibadah secara formal, tetapi juga memahami dimensi makna di baliknya.
Dengan pendekatan dialogis dan reflektif, kegiatan tersebut menghadirkan ruang kontemplasi yang mengajak peserta untuk menata ulang orientasi hidup, sekaligus menapaki jalan spiritual menuju derajat ketakwaan yang lebih tinggi.
(Gf)

