LENTERAWAYRACANA.ID | Tolitoli – Di tengah hamparan sampah dan aroma yang menyengat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kelurahan Nalu, Kecamatan Baolan, Selasa (23/6/2026), hadir sebuah pemandangan yang berbeda. Seragam kepolisian yang biasanya identik dengan penegakan hukum kali ini datang membawa bingkisan, senyum, dan kepedulian sosial.
Dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Tolitoli melaksanakan kegiatan pembagian bantuan sosial kepada masyarakat yang beraktivitas dan menggantungkan hidup di kawasan TPA Jalan Radio RRI, Kelurahan Nalu.
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Kabag Log Polres Tolitoli, AKP Dickry Sutardjo. Sebanyak 37 paket bantuan sosial disalurkan kepada warga penerima manfaat.
Paket bantuan yang diberikan berisi kebutuhan pokok dan konsumsi rumah tangga berupa minyak goreng, gula pasir, krimer, kopi, teh celup, minuman bersoda, serta kue kering kemasan.
Bagi sebagian orang, TPA hanyalah ruang akhir dari sisa-sisa kehidupan konsumtif. Namun bagi sebagian warga, kawasan tersebut merupakan ruang penghidupan, tempat mereka mencari nafkah di antara tumpukan sampah yang setiap hari terus bertambah. Di sanalah negara hadir melalui tangan-tangan kemanusiaan.

Momentum Hari Bhayangkara tidak hanya dipahami sebagai seremoni kelembagaan, melainkan sebagai refleksi sosial mengenai sejauh mana institusi kepolisian mampu menyentuh kelompok masyarakat yang berada pada lapisan paling rentan. Kehadiran personel Polres Tolitoli di TPA Nalu menunjukkan bahwa pengabdian Polri tidak mengenal batas geografis maupun stratifikasi sosial.
Secara sosiologis, bantuan sosial memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar distribusi barang. Bantuan menjadi simbol empati, pengakuan sosial, dan upaya membangun hubungan emosional antara institusi negara dan masyarakat. Dalam perspektif human interest, nilai utama kegiatan ini bukan terletak pada besar kecilnya bantuan, melainkan pada kehadiran dan kepedulian yang ditunjukkan.
AKP Dickry Sutardjo bersama personel yang terlibat tampak berinteraksi langsung dengan warga penerima. Dialog sederhana yang terbangun menjadi jembatan komunikasi yang memperkuat kedekatan antara polisi dan masyarakat.
Di balik setiap kantong bantuan yang diserahkan, terdapat pesan moral bahwa pengabdian kepolisian tidak semata-mata berorientasi pada keamanan dan ketertiban, tetapi juga pada nilai-nilai kemanusiaan. Polisi hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, melainkan sebagai mitra sosial yang memahami denyut kehidupan masyarakat.
Secara analitis, kegiatan bantuan sosial semacam ini memiliki kontribusi terhadap peningkatan kepercayaan publik. Di era ketika institusi publik dituntut semakin adaptif dan humanis, pendekatan sosial menjadi instrumen strategis dalam membangun legitimasi dan kedekatan dengan masyarakat.
Hari Bhayangkara ke-80 menjadi momentum reflektif bahwa tugas kepolisian bukan hanya menjaga stabilitas keamanan, tetapi juga merawat solidaritas sosial. Dari kawasan TPA Nalu, sebuah pesan sederhana mengemuka: kemanusiaan tidak mengenal batas, dan pengabdian sejati selalu menemukan jalannya untuk hadir di tengah masyarakat.
( LW.id )

