LENTERAWAYRACANA.ID | Makassar — Di tengah tantangan global yang kian kompleks, ketahanan pangan tidak lagi sekadar agenda sektor pertanian, melainkan telah menjadi instrumen strategis dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi bangsa. Dalam lanskap itulah Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel) mengambil peran yang melampaui fungsi konvensional penegakan hukum dengan mengoptimalkan lahan binaan untuk mendukung produksi jagung nasional.

Gerakan swasembada jagung yang dijalankan Polda Sulsel menjadi representasi nyata transformasi institusi kepolisian menuju pendekatan yang lebih humanis, produktif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Lahan-lahan yang sebelumnya kurang produktif kini disulap menjadi ruang tumbuh harapan, tempat benih-benih ketahanan pangan ditanam bersama semangat kolaborasi.

Program tersebut dilaksanakan secara serentak di berbagai wilayah hukum Polda Sulsel melalui pembukaan lahan, pendampingan kelompok tani, penyediaan bibit unggul, hingga pengawasan budidaya yang dilakukan oleh personel polisi penggerak. Sinergi antara Polri, pemerintah daerah, kelompok tani, Dinas Pertanian, dan Bulog menjadi fondasi utama dalam mewujudkan target produksi.
Di balik hamparan hijau tanaman jagung, tersimpan narasi sosial yang kuat. Polisi tidak hanya hadir sebagai aparat negara, tetapi juga sebagai pendamping masyarakat yang ikut merasakan denyut kehidupan para petani. Relasi yang terbangun bukan semata hubungan institusional, melainkan ikatan sosial yang tumbuh dari kerja bersama di ladang-ladang produksi.
Program ketahanan pangan ini dipimpin oleh Kapolda Sulsel bersama jajaran dan Biro SDM Polda Sulsel. Karo SDM Polda Sulsel, Kombes Pol Adi Ferdian Saputra, menegaskan bahwa seluruh Polres di Sulawesi Selatan dilibatkan guna memastikan target swasembada jagung dapat tercapai secara optimal.

Secara analitis, program ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma keamanan nasional yang tidak hanya bertumpu pada aspek pertahanan dan ketertiban, tetapi juga pada keamanan pangan. Dalam perspektif ilmiah populer, ketersediaan pangan yang stabil menjadi variabel penting dalam menjaga daya tahan sosial masyarakat serta mencegah potensi kerawanan ekonomi.
Penanaman jagung dilaksanakan secara berkelanjutan sepanjang tahun 2026. Salah satu momentum penting terjadi pada kegiatan penanaman jagung serentak Kuartal I yang digelar pada 7 Maret 2026 dan diikuti oleh jajaran kepolisian di seluruh Indonesia. Sejak awal tahun, ratusan hektare lahan produktif telah dikelola dan terus diperluas pada setiap kuartal.
Jagung sendiri memiliki posisi strategis dalam ekosistem pangan nasional. Selain sebagai bahan pangan, komoditas ini juga menjadi penopang industri pakan ternak dan sektor agribisnis lainnya. Karena itu, peningkatan produksi jagung bukan sekadar pencapaian kuantitatif, melainkan investasi jangka panjang terhadap ketahanan ekonomi masyarakat.
Dalam bahasa pembangunan, program ini dapat dimaknai sebagai bentuk kapital sosial yang diolah menjadi energi produktif. Negara hadir melalui institusi kepolisian, bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga ikut menanam benih kesejahteraan.
Kombes Pol Adi Ferdian Saputra menegaskan bahwa Polda Sulsel berkomitmen menjadi garda terdepan dalam mendukung swasembada jagung nasional. Dengan perluasan lahan tanam dan dukungan seluruh pemangku kepentingan, optimisme terhadap tercapainya ketahanan pangan nasional dan visi Indonesia Emas 2045 semakin menemukan pijakan yang konkret.
Di atas tanah yang diolah bersama, jagung-jagung itu tumbuh bukan hanya sebagai komoditas pertanian, melainkan simbol harapan. Di antara batang-batang yang menjulang, terselip pesan bahwa ketahanan bangsa sesungguhnya bermula dari kemampuan menjaga pangan, memberdayakan masyarakat, dan merawat masa depan.
( MAMAD )

