LENTERAWAYRACANA.ID | Tolitoli — Di tengah hiruk-pikuk tugas kepolisian yang kerap diidentikkan dengan penegakan hukum dan pemeliharaan keamanan, terdapat wajah lain yang tidak selalu tampil di garis depan pemberitaan. Wajah itu hadir dalam bentuk kepedulian, pengabdian, dan solidaritas kemanusiaan.

Momentum Hari Ulang Tahun Bhayangkara ke-80 menjadi ruang refleksi bagi Polri untuk kembali menegaskan bahwa keamanan dan kesehatan masyarakat merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Melalui kegiatan Bakti Kesehatan berupa donor darah dan cek kesehatan gratis yang digelar Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Si Dokkes) Polres Tolitoli, Selasa (23/6/2026), semangat pengabdian itu menemukan bentuk yang paling sederhana sekaligus paling mulia: menyelamatkan kehidupan.

Bertempat di Aula Polres Tolitoli, kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 11.30 WITA tersebut menghadirkan kolaborasi lintas institusi. Hadir dalam kegiatan itu Kapolres Tolitoli AKBP Raden Real Mahendra SH, SIK, Wakapolres Tolitoli Kompol Nana Taryana S, Sos, Danramil Tolitoli, para pejabat utama Polres, Ketua Bhayangkari Cabang Tolitoli Ny, Dwi Real, personel Polri, TNI, ASN Polri, Bhayangkari, serta masyarakat umum.
Sebanyak 110 peserta tercatat mengikuti rangkaian bakti kesehatan. Angka tersebut bukan sekadar statistik administratif, melainkan representasi dari tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa kesehatan publik merupakan tanggung jawab bersama.
Pada kegiatan donor darah, sebanyak 51 orang mendaftarkan diri. Setelah melalui proses pemeriksaan medis, 36 orang dinyatakan memenuhi syarat sebagai pendonor, sementara 15 orang lainnya belum dapat mendonorkan darah karena pertimbangan kesehatan.

Dari 36 kantong darah yang berhasil dikumpulkan, sebanyak 26 pendonor berasal dari unsur Polri, delapan orang dari TNI, dan dua orang dari Bhayangkari. Sementara itu, layanan cek kesehatan gratis dimanfaatkan oleh 59 peserta.
Secara sosiologis, donor darah merupakan bentuk solidaritas yang melampaui batas profesi, pangkat, maupun status sosial. Darah yang mengalir dalam kantong-kantong donor tidak lagi mengenal seragam, jabatan, ataupun identitas institusi. Ia berubah menjadi simbol universal tentang kemanusiaan.
Dalam perspektif kesehatan masyarakat, kegiatan seperti ini memiliki nilai preventif yang sangat penting. Pemeriksaan kesehatan dini memungkinkan masyarakat mengenali kondisi tubuhnya sebelum penyakit berkembang menjadi ancaman yang lebih serius. Di sisi lain, donor darah membantu menjaga ketersediaan stok darah yang sewaktu-waktu dibutuhkan pasien di rumah sakit.
Di sinilah Polri menampilkan dimensi humanisnya. Institusi kepolisian tidak hanya hadir saat terjadi gangguan keamanan atau penegakan hukum, melainkan juga hadir ketika masyarakat membutuhkan sentuhan kemanusiaan.
Secara filosofis, setetes darah memiliki makna yang jauh lebih besar daripada volumenya yang hanya beberapa mililiter. Ia menjadi metafora pengabdian. Sebagaimana dikatakan para ahli kesehatan, satu kantong darah dapat membantu menyelamatkan beberapa nyawa sekaligus. Maka setiap pendonor sesungguhnya telah menjadi penjaga kehidupan.
Kegiatan Bakti Kesehatan ini juga menunjukkan adanya sinergi antara Polri, TNI, Bhayangkari, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut menjadi modal sosial yang penting dalam membangun ketahanan masyarakat. Ketika institusi negara dan warga bergerak bersama, maka rasa saling percaya akan tumbuh secara alamiah.
Kepercayaan publik tidak semata dibangun melalui pidato atau slogan. Ia lahir dari tindakan nyata yang dirasakan masyarakat. Ketika seorang warga mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis, atau ketika pasien di rumah sakit memperoleh darah dari hasil donor para anggota Polri dan TNI, maka di situlah kehadiran negara menjadi nyata.
Di tengah berbagai tantangan sosial dan dinamika zaman, pendekatan humanis seperti ini menjadi kebutuhan. Kepolisian modern dituntut tidak hanya profesional dalam bidang keamanan, tetapi juga adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. Pelayanan kesehatan menjadi salah satu medium yang efektif dalam memperkuat hubungan emosional antara institusi dan warga.
HUT Bhayangkara ke-80 akhirnya tidak sekadar menjadi perayaan seremonial. Ia menjelma menjadi ruang pengabdian yang konkret. Aula Polres Tolitoli pada pagi itu tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya aparat dan masyarakat, melainkan juga menjadi ruang tempat nilai-nilai kemanusiaan dipertukarkan.
Setetes darah yang disumbangkan, tensi yang diperiksa, dan senyum para peserta menjadi penanda bahwa pengabdian terkadang hadir dalam bentuk yang sederhana. Di balik seragam dan atribut kedinasan, terdapat hati yang bekerja untuk kepentingan sesama.
Bakti kesehatan yang dilaksanakan Si Dokkes Polres Tolitoli menjadi bukti bahwa tugas kemanusiaan tidak pernah mengenal batas institusi. Sebab pada akhirnya, keamanan dan kesehatan sama-sama bermuara pada satu tujuan besar: menjaga kehidupan manusia.
( LW.ID )

