LenteraWayracana.id | Tolitoli – Komitmen Polri dalam mendukung agenda strategis nasional kembali diwujudkan melalui aksi nyata di sektor pertanian. Polsek Dako Pemean melaksanakan kegiatan Penanaman Jagung Kuartal III Tahun 2026 di Dusun Panyapu, Desa Galumpang, Kecamatan Dako Pemean, Kabupaten Tolitoli, Sabtu (18/7/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WITA tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap program swasembada pangan sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional. Di tengah dinamika global yang memengaruhi stabilitas pangan, langkah sederhana berupa penanaman jagung sejatinya memiliki nilai strategis karena menjadi investasi jangka panjang bagi keberlanjutan ekonomi masyarakat pedesaan.

Lahan seluas 50 are milik Herlan (Yonti), warga Dusun IV Balumbung, Desa Dungingis, menjadi lokasi pelaksanaan penanaman. Lahan tersebut merupakan bagian dari program pembinaan Polsek Dako Pemean kepada masyarakat tani sebagai bentuk sinergi antara aparat kepolisian dan sektor pertanian.

Penanaman dilakukan dengan target masa tanam sekitar tiga bulan dua minggu dan diperkirakan memasuki masa panen pada 1 November 2026. Program ini diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi jagung sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga petani.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut pemilik lahan Herlan (Yonti), Kanit Binmas Polsek Dako Pemean Aiptu Laode Lusri, Banit Samapta Aiptu Nurdin, Bhabinkamtibmas Desa Dungingis Aipda Faizal, Bhabinkamtibmas Desa Galumpang Brigpol Hernawan, serta para petani jagung dari Desa Dungingis.

Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini merepresentasikan paradigma kepolisian modern yang tidak hanya berorientasi pada pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga mengambil peran sebagai katalisator pembangunan. Pendekatan tersebut mencerminkan transformasi institusi Polri yang semakin adaptif terhadap kebutuhan masyarakat, termasuk dalam sektor pangan yang kini menjadi isu strategis nasional.
Dari perspektif pembangunan, ketahanan pangan merupakan ekosistem yang dibangun melalui kolaborasi lintas sektor. Ketika aparat keamanan, petani, dan pemerintah berjalan dalam satu irama, maka produktivitas pertanian berpotensi meningkat secara berkelanjutan. Di titik inilah nilai gotong royong menemukan relevansinya sebagai modal sosial bangsa.
Di balik hamparan lahan jagung yang mulai ditanami, tersimpan harapan akan lahirnya kemandirian pangan dari desa. Benih-benih yang ditanam bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan simbol optimisme, kerja keras, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana aman, tertib, dan kondusif serta berakhir sekitar pukul 10.40 WITA.
(LW id)

