PARIGI MOUTONG, LenteraWayracana.id | – Ribuan jamaah memadati kegiatan Maulid Akbar di Kecamatan Mepanga, Kabupaten Parigi Moutong, dalam suasana religius yang sarat kekhidmatan. Momentum peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW itu menjadi ruang spiritual bagi masyarakat untuk kembali menyegarkan ingatan kolektif tentang keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan.

Dalam kegiatan tersebut, Aiptu Ragil Hidayat, SH, yang akrab disapa Gus Ragil, pengasuh Majelis Dzikir Sabdo Hidayatussholawat Kabupaten Tolitoli, hadir untuk mengisi pengajian di hadapan ribuan jamaah.
Kehadiran Gus Ragil tidak sekadar menghadirkan ceramah keagamaan. Di tengah suasana Maulid, pesan-pesan yang disampaikan menjadi semacam refleksi moral—mengajak jamaah melihat kembali makna cinta kepada Rasulullah bukan hanya melalui lantunan shalawat, tetapi juga melalui perilaku, akhlak, kepedulian sosial, dan kemampuan menjaga harmoni di tengah masyarakat.
Peringatan Maulid pada hakikatnya bukan sekadar seremoni tahunan. Ia merupakan momentum untuk melakukan introspeksi spiritual, yakni mengukur kembali sejauh mana nilai-nilai kenabian telah diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ribuan jamaah yang hadir memperlihatkan bahwa tradisi keagamaan masih memiliki ruang yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Di tengah perubahan sosial yang bergerak cepat dan penetrasi teknologi digital yang semakin luas, majelis ilmu dan dzikir tetap menjadi salah satu ruang penting bagi masyarakat untuk menemukan ketenangan batin sekaligus memperkuat ikatan sosial.

Bagi jamaah, suasana Maulid Akbar tersebut juga menghadirkan pengalaman emosional tersendiri. Mereka datang tidak hanya untuk mendengarkan tausiah, tetapi juga untuk bershalawat, berdzikir, bersilaturahmi, dan merasakan kebersamaan dalam sebuah peristiwa keagamaan yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Dari perspektif sosial, fenomena tersebut menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan mempunyai fungsi yang lebih luas daripada ritual ibadah. Majelis pengajian dapat menjadi ruang kohesi sosial, tempat nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, kesantunan, dan kepedulian terhadap sesama terus dipelihara.
Pesan-pesan keislaman yang disampaikan dalam momentum Maulid pun menjadi relevan dengan tantangan kehidupan masyarakat kontemporer. Keteladanan Nabi Muhammad SAW dapat dipahami sebagai fondasi etika sosial: kejujuran dalam berinteraksi, kasih sayang kepada sesama, keberanian menegakkan kebenaran, serta kemampuan membangun kehidupan yang damai di tengah perbedaan.
Kehadiran Gus Ragil Hidayat dalam Maulid Akbar Mepanga sekaligus memperlihatkan bagaimana dakwah dapat bergerak melampaui batas geografis. Dari Tolitoli menuju Parigi Moutong, pesan-pesan keagamaan dibawa dalam semangat mempererat ukhuwah dan memperluas ruang silaturahmi masyarakat.
Pada akhirnya, Maulid Akbar di Mepanga bukan hanya tentang banyaknya jamaah yang berkumpul. Lebih jauh, ia menjadi gambaran tentang kerinduan masyarakat terhadap ruang spiritual yang mampu menghadirkan keteduhan di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
Ketika ribuan suara bersatu dalam shalawat, yang terdengar bukan semata lantunan pujian kepada Rasulullah SAW, melainkan juga sebuah harapan kolektif agar nilai-nilai keteladanan Nabi tetap hidup, menjadi cahaya yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat.(LW.ID)

