PINRANG – LenteraWayracana.id | Ketika musim kemarau berkepanjangan mulai menggerus debit air irigasi dan mengancam produktivitas pertanian, Pemerintah Kabupaten Pinrang memilih menempuh pendekatan yang tidak hanya berpijak pada langkah-langkah teknis, tetapi juga memperkuat dimensi spiritual sebagai fondasi moral dalam menghadapi krisis.

Di tengah tantangan yang dipicu fenomena El Nino, pemerintah daerah memandang bahwa ketahanan menghadapi bencana iklim tidak semata dibangun melalui infrastruktur dan teknologi, melainkan juga melalui penguatan nilai-nilai keimanan, solidaritas sosial, serta optimisme kolektif.

Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan Dzikir dan Doa Bersama yang berlangsung di Masjid Agung Al-Munawwir, Kamis (23/7). Kegiatan itu dipimpin Pemerintah Kabupaten Pinrang sebagai bentuk ikhtiar bersama memohon keberkahan dan turunnya hujan di tengah ancaman kemarau yang berdampak langsung terhadap kehidupan para petani.

Bupati Pinrang H.A. Irwan Hamid, S.Sos., dalam sambutannya menegaskan bahwa setiap ikhtiar manusia memiliki keterbatasan. Menurutnya, keberhasilan berbagai program yang dijalankan tetap berada dalam kehendak Allah SWT sehingga usaha lahiriah harus berjalan beriringan dengan penguatan spiritualitas.
Ia menjelaskan, pemerintah tidak tinggal diam menghadapi penurunan debit air irigasi. Berbagai langkah telah dioptimalkan, mulai dari pemanfaatan pompanisasi, penguatan jaringan irigasi, hingga berbagai strategi teknis lainnya agar lahan pertanian tetap produktif meskipun berada dalam tekanan musim kemarau.

Namun demikian, menurut Irwan Hamid, dimensi spiritual merupakan energi sosial yang tidak kalah penting. Dzikir, doa, dan munajat bersama menjadi simbol bahwa masyarakat tidak menyerah pada situasi, melainkan terus membangun harapan dengan memadukan kerja keras dan ketakwaan.
“Kita harus terus berikhtiar, tetapi sebagai umat beriman kita juga wajib memohon pertolongan Allah SWT agar setiap kesulitan memperoleh jalan keluar,” ujarnya.
Bupati juga mengajak seluruh unsur pemerintahan hingga tingkat kecamatan, desa, dan kelurahan untuk menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan keagamaan, termasuk membudayakan salat berjamaah dan doa bersama sebagai bagian dari penguatan karakter masyarakat dalam menghadapi tantangan alam.
Di sisi lain, Irwan mengingatkan bahwa keterbatasan air berpotensi memunculkan gesekan sosial apabila tidak dikelola secara arif. Karena itu, ia meminta seluruh pemangku kepentingan bersama para petani menjadikan musyawarah sebagai instrumen utama dalam pembagian air irigasi.
Menurutnya, keadilan distribusi air merupakan prasyarat penting bagi terjaganya harmoni sosial di kawasan pertanian. Air bukan sekadar sumber daya alam, melainkan denyut kehidupan yang menentukan keberlangsungan ekonomi masyarakat pedesaan.
Fenomena yang dihadapi Kabupaten Pinrang menunjukkan bahwa perubahan iklim kini tidak lagi menjadi isu global yang jauh dari kehidupan masyarakat, tetapi telah hadir sebagai realitas yang memengaruhi sektor pangan secara langsung. Penurunan curah hujan akibat El Nino berdampak pada berkurangnya pasokan air irigasi, sehingga diperlukan tata kelola sumber daya air yang adaptif sekaligus berkeadilan.
Pendekatan yang mengombinasikan strategi teknis dengan penguatan spiritual memiliki makna sosiologis yang kuat. Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, ketahanan daerah tidak hanya dibangun melalui aspek fisik, tetapi juga melalui modal sosial berupa solidaritas, kepercayaan, dan kesadaran kolektif masyarakat.
Dzikir dan doa bersama dalam konteks ini tidak sekadar menjadi ritual keagamaan, melainkan ruang konsolidasi moral yang memperkuat optimisme masyarakat untuk tetap produktif di tengah tekanan lingkungan. Nilai gotong royong, musyawarah, dan kepedulian antarsesama menjadi modal penting agar potensi konflik akibat keterbatasan air dapat diminimalkan.
Bagi para petani, musim kemarau bukan hanya persoalan menurunnya debit air, melainkan juga ujian atas ketangguhan ekonomi keluarga. Karena itu, sinergi antara kebijakan pemerintah, disiplin pengelolaan irigasi, inovasi teknologi pertanian, dan kekuatan spiritual masyarakat menjadi fondasi yang saling melengkapi dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan daerah.
(Mama)

